Masjid selama ini dikenal sebagai ruang sakral yang identik dengan aktivitas ibadah seperti shalat berjamaah, pengajian, dan kajian keislaman. Namun, perkembangan zaman serta karakter generasi milenial yang hidup di tengah teknologi dan budaya digital menuntut adanya perluasan fungsi masjid. Masjid tidak cukup hanya menjadi tempat orang datang untuk beribadah lalu pulang, tetapi juga perlu hadir sebagai ruang yang hidup, dialogis, dan relevan dengan kebutuhan sosial generasi muda.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan sebuah podcast bertema "Masjid dan Generasi Milenial: Dari Ritual ke Ruang Ekspresi Sosial." Podcast ini menjadi bagian dari program kerja pengembangan media masjid dan literasi dakwah digital selama masa pengabdian mahasiswa di lingkungan Masjid At-Taqwa.
Kegiatan podcast dilaksanakan pada Sabtu, 10 Januari 2026, bertempat di Masjid At-Taqwa, Perumahan Bumi Tunggulwulung Indah, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Podcast ini menghadirkan Dr. Ir. H. Mochammad Rofieq, S.Si., M.T., IPU. sebagai narasumber utama. Dalam kesehariannya, beliau merupakan dosen di Universitas Merdeka Malang serta menjabat sebagai Ketua Bidang Dakwah dan Peribadatan Masjid At-Taqwa.
Podcast ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai ruang sosial, edukatif, dan kreatif bagi generasi milenial. Selain itu, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) anak muda terhadap masjid, mendorong partisipasi aktif mereka, serta membuka ruang agar ide, potensi, dan inovasi generasi muda dapat berkembang melalui aktivitas yang bernilai dakwah dan sosial. Harapannya, masjid mampu menjadi pusat peradaban kecil yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Dalam sesi dialog, mahasiswa KKM menggali pandangan narasumber tentang hubungan masjid dengan karakter generasi milenial yang dinamis, kritis, dan dekat dengan media digital. Dr. Rofieq menegaskan bahwa masjid harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial.
"Masjid hari ini tidak cukup hanya menjadi tempat orang datang, shalat, lalu pulang. Masjid harus menjadi ruang yang membuat generasi muda merasa diterima, didengar, dan diberdayakan," ujar Dr. Rofieq.
Beliau menjelaskan bahwa generasi milenial memiliki potensi besar di bidang komunikasi, media, desain, dan pengelolaan kegiatan sosial. Jika masjid mampu membuka ruang partisipasi, maka masjid akan menjadi rumah ide dan karya bagi anak muda.
"Anak muda itu punya energi dan kreativitas. Kalau masjid tidak memberi ruang, mereka akan mencari ruang lain. Maka tugas masjid adalah menyediakan ekosistem yang sehat agar kreativitas itu tumbuh di lingkungan masjid," lanjutnya.
Podcast ini juga membahas masjid sebagai ruang ekspresi sosial. Artinya, masjid tidak hanya mengurus aspek ibadah personal, tetapi juga hadir menjawab persoalan masyarakat, seperti pendidikan, literasi, kepemudaan, ekonomi umat, hingga dakwah berbasis media digital. Mahasiswa KKM mengangkat pengalaman mereka selama berinteraksi dengan jamaah, termasuk bagaimana keterlibatan generasi muda meningkat ketika mereka diberi kepercayaan mengelola media sosial, membuat konten, dan menyusun kegiatan kreatif.
Dr. Rofieq menekankan pentingnya komunikasi yang setara antara pengurus masjid dan generasi milenial.
"Jangan posisikan anak muda hanya sebagai pelaksana. Jadikan mereka mitra berpikir. Ketika mereka dilibatkan sejak perencanaan, maka rasa memiliki terhadap masjid akan tumbuh dengan sendirinya," katanya.
Media podcast dipilih karena dinilai relevan dengan gaya komunikasi generasi milenial. Melalui audio-visual, pesan dakwah masjid tidak hanya menjangkau jamaah yang hadir secara fisik, tetapi juga masyarakat luas di ruang digital. Hasil podcast ini akan dipublikasikan melalui akun Instagram resmi Masjid At-Taqwa, yaitu @masjid_attaqwa_btwi, sehingga dapat diakses oleh jamaah dan generasi muda secara lebih luas.
Selain menjadi ruang diskusi, podcast ini juga menjadi sarana dokumentasi pemikiran tokoh masjid dan mahasiswa agar dapat menjadi referensi serta inspirasi bagi pengembangan kegiatan masjid ke depan. Dengan memanfaatkan media digital, dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar, tetapi hadir di ruang-ruang yang dekat dengan keseharian generasi milenial.
Di akhir sesi, Dr. Rofieq menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak merasa asing dengan masjid.
"Masjid bukan milik orang tua saja. Masjid adalah milik semua generasi. Anak muda jangan ragu datang ke masjid bukan hanya untuk shalat, tapi juga untuk belajar, berdiskusi, dan berkarya," pesannya
Beliau juga menambahkan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai penghubung antara nilai keislaman dan realitas sosial.
"Kalian adalah jembatan antara tradisi dan inovasi. Jadikan masjid sebagai tempat yang hidup, bukan hanya ramai sesaat, tetapi konsisten memberi manfaat bagi masyarakat," tutupnya.
Program kerja podcast yang digagas Mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena dapat dinilai sebagai langkah strategis dan kontekstual dalam menjawab tantangan dakwah masjid di era digital. Pemilihan media podcast menunjukkan bahwa mahasiswa memahami karakter komunikasi generasi milenial yang dekat dengan teknologi dan konten media sosial.
Podcast ini tidak bersifat seremonial, tetapi memiliki nilai edukatif dan pemberdayaan. Mahasiswa tidak hanya menghadirkan narasumber, melainkan juga mengemas diskusi secara dialogis dan komunikatif. Ini penting karena masjid sering kali terjebak pada pola komunikasi satu arah. Melalui podcast, masjid justru menjadi ruang pertukaran gagasan.
Dari sisi keberlanjutan, program ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kanal media masjid yang rutin. Dengan penayangan melalui Instagram @masjid_attaqwa_btwi, podcast menjadi jembatan antara masjid dan generasi muda di ruang digital. Artinya, mahasiswa KKM tidak hanya membuat kegiatan, tetapi juga meletakkan fondasi sistem komunikasi masjid berbasis media.
Podcast ini juga memperkuat relasi antara masjid dan generasi milenial. Anak muda tidak diposisikan sebagai objek dakwah, melainkan sebagai subjek yang terlibat langsung dalam produksi konten, ide, dan gagasan. Dengan demikian, masjid menjadi ruang belajar sosial sekaligus laboratorium kreativitas bagi generasi muda.
Secara keseluruhan, program kerja podcast Mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena layak dinilai sebagai praktik baik dalam pengembangan masjid yang inklusif, adaptif, dan relevan dengan zaman. Jika dikembangkan secara konsisten, podcast ini berpotensi membentuk identitas Masjid At-Taqwa sebagai masjid yang ramah generasi muda, aktif di ruang digital, dan mampu mengintegrasikan nilai religius dengan kreativitas sosial.