MOH. ABDUS SALAM
Dalam rangka mengisi dan memeriahkan bulan suci ramadhan, Mahasiswa AM KKM UIN Malang yang di tempatkan di Kelurahan Sukodono Kab. Gresik menggelar kegiatan shalat tarawih dan tadarus Al-Qur’an bersama warga setempat. Kegiatan ini dilaksanakan di Langgar Rambu yang berada tepat di depan posko AM KKM UIN Malang. Kegiatan tadarus Al-Qur’an dilakukan setiap malam setelah shalat tarawih dengan membaca sebanyak 2 juz setiap harinya dan berlangsung hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Suasana kebersamaan tampak hangat, di mana para mahasiswa dan warga yang hadir secara bergantian membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Selain sebagai sarana beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan antara mahasiswa KKM dengan masyarakat Kelurahan Sukodono. Melalui kegiatan keagamaan ini, mahasiswa dapat lebih mengenal kebiasaan dan kehidupan sosial masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Kegiatan ini disambut dengan baik oleh warga setempat, warga merasa terbantu dan senang dengan kehadiran mahasiswa yang turut meramaikan kegiatan keagamaan di Langgar Rambu tersebut. Usai menyelesaikan pembacaan Al-Qur’an hingga juz 30 pada malam bulan Ramadhan, kegiatan ini ditutup dengan acara khataman Al-Qur’an yang berlangsung khidmat dan penuh rasa syukur. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin hubungan yang harmonis antara mahasiswa dan masyarakat, serta mampu menumbuhkan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap Al-Qur’an di tengah kehidupan bermasyarakat.
AULIA NATASYA PUTRI
Sabtu, 25 April 2026, mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan seminar parenting bertema “Di Balik Perilaku Anak, Ada Emosi yang Perlu Dipahami”. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan persepsi antara pendidik dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek sosial-emosional. Seminar parenting yang dirangkaikan dengan kegiatan halal bihalal bersama wali murid ini menjadi momen penuh makna bagi keluarga besar RA Perwanida III Kota Malang. Tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memahami dunia anak secara lebih mendalam. Acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB tersebut dihadiri oleh sekitar 80 peserta, yang terdiri dari orang tua dan pendidik. Kegiatan ini menjadi kesempatan belajar yang berharga dalam meningkatkan pemahaman tentang pentingnya emosi dalam perkembangan anak usia dini. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah RA Perwanida III, Ibu Hj. Hidayatul Chikmah, S.Ag., mengajak orang tua dan pendidik untuk bekerja sama dalam memahami emosi anak agar pengasuhan di rumah dan di sekolah dapat berjalan searah dan selaras. Kegiatan inti seminar menghadirkan narasumber, Hj. Rika Fuaturosida, M.A., dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Ketua Laboratorium Psikologi. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa emosi tidak hanya berkaitan dengan hal-hal negatif seperti marah atau menangis, tetapi juga mencakup perasaan bahagia, tertawa, dan tersenyum. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa setiap perilaku anak merupakan bentuk ekspresi emosi yang perlu dipahami, bukan sekadar dinilai. Beliau juga mengajak orang tua untuk merenungkan kembali perannya, tidak hanya sebagai pengasuh yang menetapkan aturan, tetapi juga sebagai figur yang mampu membantu anak mengelola emosinya menjadi hal yang positif di masa depan. “Kunci dalam mengasuh anak adalah ikhlas,” ungkapnya, menekankan bahwa pengasuhan yang dilandasi keikhlasan akan memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan anak. Perilaku sebagai Bahasa Emosi Dalam sesi parenting, dijelaskan bahwa setiap perilaku anak, baik yang dianggap positif maupun negatif, merupakan bentuk komunikasi dari emosi yang mereka rasakan. Anak yang marah, menangis, atau sulit diatur bukan berarti nakal, melainkan sedang berusaha menyampaikan perasaan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Hal ini sejalan dengan pentingnya perkembangan emosi sebagai aspek fundamental dalam pembentukan kepribadian, kemampuan sosial, serta kesiapan belajar anak. Oleh karena itu, pemahaman terhadap emosi menjadi kompetensi penting bagi orang tua dan pendidik. Dengan memahami hal tersebut, orang tua diharapkan tidak hanya merespons perilaku, tetapi juga mampu menggali penyebab emosional yang mendasarinya. Selain itu, pada usia prasekolah yang dikenal sebagai golden age, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Anak juga cenderung memiliki sifat egosentris, sehingga orang tua perlu memenuhi kebutuhan kasih sayang atau “tangki cinta” anak secara optimal. Kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional ini dapat berdampak pada perkembangan emosi anak di masa depan. Orang tua juga dianjurkan untuk mulai melibatkan anak dalam proses negosiasi sebagai upaya membangun kemampuan emosional yang positif, serta menyesuaikan pola asuh dengan situasi yang dihadapi. Mengasuh dengan Empati Dalam praktiknya, narasumber menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak melalui beberapa pendekatan, seperti mendengarkan perasaan anak dengan penuh perhatian, memberikan respons yang hangat dan empatik, membantu anak mengenali dan menamai emosinya, serta menjadi teladan dalam mengelola emosi. Pendekatan ini terbukti mampu membantu anak membangun fondasi emosional yang kuat, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengembangkan kemampuan sosial yang baik. Selain itu, anak juga belajar mengelola emosi dari bagaimana orang tua mengekspresikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, konsistensi dalam sikap dan ekspresi emosi orang tua sangat diperlukan. Sinergi Orang Tua dan Pendidik Salah satu poin penting dalam kegiatan ini adalah pentingnya keselarasan pola asuh antara rumah dan sekolah. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten agar dapat merasa aman dan berkembang secara optimal. Pola asuh dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi anak. Kedua faktor ini merupakan aspek yang dapat dikendalikan oleh orang tua dan pendidik dalam membentuk kecerdasan emosional anak sejak dini. Ketika orang tua dan guru memiliki pemahaman yang sama, anak akan mendapatkan pengalaman yang utuh dalam belajar mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya. Pada akhir acara, sesi tanya jawab berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Orang tua dan pendidik mengajukan berbagai pertanyaan terkait perilaku anak, termasuk cara menghadapi anak dengan karakter yang beragam dalam satu kelas serta cara memahami emosi anak dalam kehidupan sehari-hari. Narasumber memberikan jawaban yang jelas dan mudah dipahami, disertai contoh pendekatan yang dapat diterapkan baik di rumah maupun di sekolah. Melalui sesi ini, peserta memperoleh wawasan baru tentang pentingnya kesabaran, empati, dan kerja sama dalam menciptakan pengasuhan yang konsisten. Halal Bihalal: Menguatkan Kebersamaan Setelah sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan halal bihalal yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Momen ini menjadi sarana untuk saling memaafkan, mempererat hubungan antara guru dan wali murid, serta memperkuat komunitas pendidikan yang harmonis. Kebersamaan ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi anak. Kegiatan parenting dan halal bihalal ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi merupakan langkah nyata dalam membangun sinergi antara rumah dan sekolah. Dengan memahami bahwa di balik setiap perilaku anak terdapat emosi yang perlu dipahami, diharapkan orang tua dan pendidik dapat berjalan seiring dalam mendampingi anak. Pengasuhan yang selaras tidak hanya membantu anak berkembang secara optimal, tetapi juga membentuk generasi yang sehat secara emosional, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
HASNA SAKHIYA
Di tengah suasana yang hangat dan penuh antusias, kegiatan parenting dengan tema edukasi seksualitas anak diselenggarakan di BA Restu 2 oleh mahasiswa Asistensi Mengajar (AM/PPL) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang bertepatan pada tanggal 24 April 2026 . Kegiatan ini diikuti oleh para wali murid sebagai upaya memberikan pemahaman mengenai pentingnya edukasi seksualitas anak sejak usia dini secara tepat dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan ini menghadirkan narasumber, Rikza Azharona S., M.Pd., yang menyampaikan materi terkait edukasi seksualitas anak yang selama ini masih sering dianggap sebagai hal tabu di masyarakat. Padahal, anggapan tersebut justru dapat menghambat anak dalam memahami tubuhnya sendiri serta meningkatkan risiko terjadinya perilaku yang tidak diinginkan akibat kurangnya informasi yang benar. Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Kepala Sekolah BA Restu 2, Ibu Maslichah Hartatik, S.S. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa edukasi seksualitas anak bukanlah hal yang tabu, melainkan bagian penting dari pendidikan karakter dan perlindungan diri anak. Beliau menekankan bahwa anak perlu dikenalkan sejak dini mengenai batasan tubuh, konsep privasi, serta cara menjaga diri dengan pendekatan yang sederhana dan tidak menakutkan. Ia juga berharap melalui kegiatan ini, orang tua dapat memiliki pemahaman yang tepat dalam berkomunikasi dengan anak terkait hal-hal sensitif tanpa menimbulkan rasa malu atau takut. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan Forum Komunikasi Az-Zahra yang menekankan pentingnya kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah dalam mendidik anak. Dalam sambutannya disampaikan bahwa pendidikan anak tidak dapat berjalan secara optimal tanpa adanya sinergi antara lingkungan keluarga dan sekolah. Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat melanjutkan pembiasaan serta nilai-nilai yang telah diberikan di sekolah ke dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Dalam penyampaian materi, narasumber menjelaskan bahwa edukasi seksualitas anak bukan berarti mengajarkan hal-hal yang bersifat dewasa, melainkan proses mengenalkan aspek kognitif, emosional, sosial, dan fisik anak sesuai usia. Anak perlu dikenalkan nama bagian tubuh secara benar, memahami bagian tubuh pribadi, serta mengetahui batasan sentuhan yang aman dan tidak aman. Selain itu, disampaikan pula konsep “Tubuhku Milikku” yang menekankan bahwa setiap anak memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Anak diajarkan untuk berani berkata “tidak” terhadap sentuhan yang tidak diinginkan serta berani melaporkan kepada orang tua jika mengalami situasi yang tidak nyaman. Edukasi ini bertujuan untuk membangun kepercayaan diri anak serta kemampuan dalam melindungi diri sejak dini. Kegiatan parenting berlangsung secara interaktif melalui sesi tanya jawab antara orang tua dan narasumber. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai edukasi menstruasi pada anak. Narasumber menjelaskan bahwa pengenalan terkait menstruasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kesiapan anak dengan bahasa yang sederhana, sehingga tidak menimbulkan kecemasan. Selain itu, dibahas pula faktor-faktor yang dapat memengaruhi menstruasi dini, seperti pola makan, gaya hidup, serta pengaruh lingkungan. Topik lain yang turut dibahas adalah mengenai kemandirian anak dalam menjaga kebersihan diri, seperti kebiasaan anak menggunakan semprotan air saat cebok yang dirasa lebih nyaman dibandingkan bantuan orang tua. Dalam hal ini, orang tua tetap diharapkan memberikan pendampingan sekaligus mengajarkan batasan privasi tubuh anak agar anak dapat mandiri dengan tetap memahami nilai-nilai yang benar. Selain itu, narasumber juga menekankan pentingnya menjaga privasi anak dalam komunikasi sehari-hari. Orang tua dihimbau untuk tidak menyampaikan hal-hal sensitif terkait kondisi tubuh anak kepada orang lain, terutama kepada lawan jenis, karena hal tersebut dapat berdampak pada rasa malu dan perkembangan psikologis anak. Edukasi mengenai tubuh perlu disampaikan secara terbuka, namun tetap menjaga batasan yang sesuai. Melalui kegiatan parenting ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya edukasi seksualitas anak sejak dini dengan pendekatan yang tepat dan tidak tabu. Dengan adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa, sekolah, dan orang tua, anak diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjaga diri, memahami batasan, serta memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi lingkungan sekitarnya.
AL FIRDAUS CINTA RAMADHENSI NUZULLA
Di tengah suasana yang hangat dan penuh antusias, kegiatan parenting dengan tema edukasi seksualitas anak diselenggarakan di BA Restu 2 oleh mahasiswa Asistensi Mengajar (AM/PPL) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang bertepatan pada tanggal 24 April 2026 . Kegiatan ini diikuti oleh para wali murid sebagai upaya memberikan pemahaman mengenai pentingnya edukasi seksualitas anak sejak usia dini secara tepat dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan ini menghadirkan narasumber, Rikza Azharona S., M.Pd., yang menyampaikan materi terkait edukasi seksualitas anak yang selama ini masih sering dianggap sebagai hal tabu di masyarakat. Padahal, anggapan tersebut justru dapat menghambat anak dalam memahami tubuhnya sendiri serta meningkatkan risiko terjadinya perilaku yang tidak diinginkan akibat kurangnya informasi yang benar. Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Kepala Sekolah BA Restu 2, Ibu Maslichah Hartatik, S.S. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa edukasi seksualitas anak bukanlah hal yang tabu, melainkan bagian penting dari pendidikan karakter dan perlindungan diri anak. Beliau menekankan bahwa anak perlu dikenalkan sejak dini mengenai batasan tubuh, konsep privasi, serta cara menjaga diri dengan pendekatan yang sederhana dan tidak menakutkan. Ia juga berharap melalui kegiatan ini, orang tua dapat memiliki pemahaman yang tepat dalam berkomunikasi dengan anak terkait hal-hal sensitif tanpa menimbulkan rasa malu atau takut. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan Forum Komunikasi Az-Zahra yang menekankan pentingnya kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah dalam mendidik anak. Dalam sambutannya disampaikan bahwa pendidikan anak tidak dapat berjalan secara optimal tanpa adanya sinergi antara lingkungan keluarga dan sekolah. Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat melanjutkan pembiasaan serta nilai-nilai yang telah diberikan di sekolah ke dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Dalam penyampaian materi, narasumber menjelaskan bahwa edukasi seksualitas anak bukan berarti mengajarkan hal-hal yang bersifat dewasa, melainkan proses mengenalkan aspek kognitif, emosional, sosial, dan fisik anak sesuai usia. Anak perlu dikenalkan nama bagian tubuh secara benar, memahami bagian tubuh pribadi, serta mengetahui batasan sentuhan yang aman dan tidak aman. Selain itu, disampaikan pula konsep “Tubuhku Milikku” yang menekankan bahwa setiap anak memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Anak diajarkan untuk berani berkata “tidak” terhadap sentuhan yang tidak diinginkan serta berani melaporkan kepada orang tua jika mengalami situasi yang tidak nyaman. Edukasi ini bertujuan untuk membangun kepercayaan diri anak serta kemampuan dalam melindungi diri sejak dini. Kegiatan parenting berlangsung secara interaktif melalui sesi tanya jawab antara orang tua dan narasumber. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai edukasi menstruasi pada anak. Narasumber menjelaskan bahwa pengenalan terkait menstruasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kesiapan anak dengan bahasa yang sederhana, sehingga tidak menimbulkan kecemasan. Selain itu, dibahas pula faktor-faktor yang dapat memengaruhi menstruasi dini, seperti pola makan, gaya hidup, serta pengaruh lingkungan. Topik lain yang turut dibahas adalah mengenai kemandirian anak dalam menjaga kebersihan diri, seperti kebiasaan anak menggunakan semprotan air saat cebok yang dirasa lebih nyaman dibandingkan bantuan orang tua. Dalam hal ini, orang tua tetap diharapkan memberikan pendampingan sekaligus mengajarkan batasan privasi tubuh anak agar anak dapat mandiri dengan tetap memahami nilai-nilai yang benar. Selain itu, narasumber juga menekankan pentingnya menjaga privasi anak dalam komunikasi sehari-hari. Orang tua dihimbau untuk tidak menyampaikan hal-hal sensitif terkait kondisi tubuh anak kepada orang lain, terutama kepada lawan jenis, karena hal tersebut dapat berdampak pada rasa malu dan perkembangan psikologis anak. Edukasi mengenai tubuh perlu disampaikan secara terbuka, namun tetap menjaga batasan yang sesuai. Melalui kegiatan parenting ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya edukasi seksualitas anak sejak dini dengan pendekatan yang tepat dan tidak tabu. Dengan adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa, sekolah, dan orang tua, anak diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjaga diri, memahami batasan, serta memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi lingkungan sekitarnya.
SANDRINA MUTHOHAROH
Gebyar Ramadhan dan buka puasa bersama digelar oleh RTQ Yanbu’a Pondok Pesantren Miftahul Huda Singosari bersama tim AM-KKM 41 Nuradaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Senin (9/3/2026) di Aula PPMH. Kegiatan tersebut berlangsung penuh kebersamaan dengan melibatkan para santri, asatidz, wali santri, serta mahasiswa peserta pengabdian masyarakat. Kepala RTQ Yanbu’a, Gus Agus Muhammad Ma’aliyal Umur, S.Ag., hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama para dewan asatidz dan asatidzah. Para santriwan dan santriwati mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh antusias dan semangat. Kegiatan diawali pada sore hari dengan pembacaan istighosah yang diikuti seluruh santri dengan khidmat. Setelah itu, panitia membuka secara resmi rangkaian acara Gebyar Ramadhan sebagai bagian dari kegiatan pembinaan keagamaan selama bulan suci. Memasuki sesi berikutnya, para santri menampilkan pembacaan Juz 30 yang dipadukan dengan permainan tebak ayat. Gus Agus Muhammad Ma’aliyal Umur memandu langsung kegiatan tersebut dengan membacakan potongan ayat secara acak dari Juz 30 dan Juz 1, kemudian para santri diminta menebak serta melanjutkan ayat yang dibacakan. Kegiatan tersebut membuat suasana semakin hidup karena para santri saling berlomba menunjukkan kemampuan hafalan Al-Qur’an mereka. Rangkaian acara berlanjut dengan penampilan Pildacil (Pidato Cilik) yang dibawakan oleh salah satu santriwati RTQ Yanbu’a, Vera Rahmadhani. Penampilan tersebut merupakan hasil latihan intensif yang dilakukan selama sepekan bersama tim AM-KKM 41 Nuradaya. Melalui kegiatan ini, para santri dilatih untuk berani tampil di depan umum serta menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan baik. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Imam Syafi’i menyampaikan sambutan sekaligus mauidhoh hasanah kepada para santri. Ia mengajak seluruh santri untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan berani memiliki cita-cita yang tinggi. “Seorang pelajar harus selalu rendah hati dalam mencari ilmu. Ilmu yang sejati tidak akan terpisah dari adab. Tanpa adab, ilmu akan kehilangan keberkahannya,” ujar Ustadz Imam Syafi’i dalam tausiyahnya. Menjelang waktu berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan ngabuburit bersama melalui sesi tanya jawab berhadiah yang berkaitan dengan pengetahuan agama dan hafalan Al-Qur’an. Para santri tampak antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan, sehingga suasana semakin meriah dengan gelak tawa dan keceriaan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan penuh kehangatan. Antusiasme para santri serta dukungan para asatidz menjadikan Gebyar Ramadhan ini tidak sekadar momen berbuka bersama, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah serta menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Melalui kegiatan ini, tim AM-KKM 41 Nuradaya juga menyampaikan refleksi bahwa dunia pendidikan sering kali penuh tantangan dan kelelahan. Namun, keceriaan dan ketulusan anak-anak saat belajar Al-Qur’an menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah ladang kebaikan yang menghadirkan keikhlasan dan energi baru untuk terus menyebarkan manfaat bagi sesama.( Eno).
AMELDA ZAKIYYA
Malang | Serulingmedia.com – Gebyar Ramadhan dan buka puasa bersama digelar oleh RTQ Yanbu’a Pondok Pesantren Miftahul Huda Singosari bersama tim AM-KKM 41 Nuradaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Senin (9/3/2026) di Aula PPMH. Kegiatan tersebut berlangsung penuh kebersamaan dengan melibatkan para santri, asatidz, wali santri, serta mahasiswa peserta pengabdian masyarakat. Kepala RTQ Yanbu’a, Gus Agus Muhammad Ma’aliyal Umur, S.Ag., hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama para dewan asatidz dan asatidzah. Para santriwan dan santriwati mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh antusias dan semangat. Kegiatan diawali pada sore hari dengan pembacaan istighosah yang diikuti seluruh santri dengan khidmat. Setelah itu, panitia membuka secara resmi rangkaian acara Gebyar Ramadhan sebagai bagian dari kegiatan pembinaan keagamaan selama bulan suci.latihan intensif yang dilakukan selama sepekan bersama tim AM-KKM 41 Nuradaya. Melalui kegiatan ini, para santri dilatih untuk berani tampil di depan umum serta menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan baik. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Imam Syafi’i menyampaikan sambutan sekaligus mauidhoh hasanah kepada para santri. Ia mengajak seluruh santri untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan berani memiliki cita-cita yang tinggi. “Seorang pelajar harus selalu rendah hati dalam mencari ilmu. Ilmu yang sejati tidak akan terpisah dari adab. Tanpa adab, ilmu akan kehilangan keberkahannya,” ujar Ustadz Imam Syafi’i dalam tausiyahnya.Menjelang waktu berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan ngabuburit bersama melalui sesi tanya jawab berhadiah yang berkaitan dengan pengetahuan agama dan hafalan Al-Qur’an. Para santri tampak antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan, sehingga suasana semakin meriah dengan gelak tawa dan keceriaan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan penuh kehangatan. Antusiasme para santri serta dukungan para asatidz menjadikan Gebyar Ramadhan ini tidak sekadar momen berbuka bersama, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah serta menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Melalui kegiatan ini, tim AM-KKM 41 Nuradaya juga menyampaikan refleksi bahwa dunia pendidikan sering kali penuh tantangan dan kelelahan. Namun, keceriaan dan ketulusan anak-anak saat belajar Al-Qur’an menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah ladang kebaikan yang menghadirkan keikhlasan dan energi baru untuk terus menyebarkan manfaat bagi sesama.( Eno).