Lombok Tengah, 26 Januari 2026 – Jalanan desa mendadak berubah menjadi lautan manusia yang penuh warna pada Minggu (25/1) kemarin. Di tengah hiruk-pikuk suara gamelan dan kecimol yang menghentak, terlihat pemandangan yang tak biasa: sekelompok mahasiswa berjaket almamater UIN Malang berbaur akrab dengan barisan pengiring pengantin.
Ya, Mahasiswa KKM Mandiri Kelompok 156 "Patibrata" baru saja merasakan pengalaman budaya yang tak terlupakan. Di sela-sela kesibukan menggelar lomba SIGMA, mereka menyempatkan diri untuk memenuhi undangan warga: mengikuti tradisi Nyongkolan.
Mengiringi Hingga ke Desa Darek Nyongkolan bukan sekadar arak-arakan. Ini adalah tradisi sakral masyarakat Sasak untuk memperkenalkan pasangan pengantin kepada khalayak ramai, terutama kepada keluarga dan warga di tempat tinggal mempelai wanita.
Siang itu, rombongan KKM 156 turut serta berjalan kaki mengiringi pasangan pengantin warga Sepakek menuju desa tetangga, Desa Darek. Jarak tempuh dan terik matahari Lombok tak menyurutkan semangat para mahasiswa. Sebaliknya, mereka tampak antusias menjadi bagian dari "pagar betis" budaya ini.
"Biasanya kami hanya melihat Nyongkolan dari pinggir jalan atau lewat YouTube. Tapi hari ini, kami berjalan langsung di dalamnya, merasakan energinya, dan melihat betapa kompaknya warga Sepakek mendukung satu sama lain," ungkap salah satu anggota Kelompok 156.
Belajar Nilai Solidaritas Bagi Kelompok "Patibrata", partisipasi dalam acara Nyongkolan ini memiliki makna mendalam yang selaras dengan nama kelompok mereka yang bermakna keteguhan dan pengabdian.
Dalam tradisi ini, mereka belajar bahwa Nyongkolan adalah simbol solidaritas komunal. Ketika satu warga memiliki hajatan, warga sekampung turun ke jalan untuk memeriahkan dan memberi doa restu. Tidak ada sekat antara pendatang dan warga asli; semuanya melebur dalam satu barisan kegembiraan.
Jeda Sejenak yang Berkesan Kegiatan budaya ini menjadi refreshing yang bermakna bagi kelompok KKM 156 di tengah padatnya jadwal proker lomba anak-anak. Berjalan beriringan menuju Desa Darek, menyapa warga di sepanjang jalan, dan menikmati alunan musik tradisional Sasak menjadi momen bonding yang mempererat hubungan emosional antara mahasiswa dan masyarakat Desa Sepakek.
Kini, setelah "mengantar" warga menunaikan tradisi, KKM 156 Patibrata kembali siap menuntaskan sisa program kerja mereka dengan semangat kekeluargaan yang baru saja di- recharge di jalanan aspal menuju Darek.