SINGOSARI, MALANG -- Jika Anda berkunjung ke perhelatan Pagentan Tempo Doeloe di Lapangan Tumapel, Singosari, ada satu pemandangan yang mencolok di antara deretan stand desa. Sebuah bangunan beratapkan rumbia dengan dekorasi tradisional lengkap dengan sebuah gong besar tampak berdiri gagah. Bukan sekadar estetika, stand ini ternyata menyimpan "harta karun" dari Desa Toyomarto.
Rahasia kekayaan desa tersebut diungkap oleh kelompok mahasiswa KKM 90 Jagadhita Amarta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang saat berkunjung ke lokasi pada Selasa malam (27/12/2025). Kunjungan ini merupakan bagian dari misi pengabdian mereka yang akan berlangsung selama 40 hari di Desa Toyomarto.
Etalase Kekayaan Industri Desa
Di balik nuansa klasiknya, stand ini menjadi panggung bagi berbagai produk unggulan yang membuktikan kemandirian ekonomi warga Toyomarto. Pengunjung akan disambut dengan deretan batu cobek karakter yang unik, kain batik motif khas, hingga produksi kopi Arabika dan Robusta yang aromanya menyerbak.
Tak hanya itu, Toyomarto juga memamerkan produk pangan kreatif seperti manisan permen jahe dan kunyit, serta aneka macam keripik. Semuanya adalah hasil produksi asli tangan warga desa yang dikelola secara turun-temurun maupun industri rumahan modern.
"Tujuan utama kami ke sini adalah untuk melihat sekaligus membantu melariskan produk asli Toyomarto. Saat KKM, kami belajar bahwa potensi desa ini luar biasa, dan lewat event Pagentan Tempo Doeloe inilah semua kekayaan itu terpaparkan kepada masyarakat luas," ujar salah satu anggota KKM 90 Jagadhita Amarta.
Belajar dari Semangat Para Pelaku UMKM
Keseruan di stand ini tidak hanya terletak pada produknya, tetapi juga pada interaksi manusianya. Para pelaku UMKM dengan penuh semangat menjelaskan manfaat dan ciri khas produk mereka kepada setiap pengunjung yang datang.
Kehadiran para mahasiswa KKM pun menjadi suntikan energi tersendiri bagi warga. Terjadi dialog dua arah: mahasiswa belajar proses produksi, sementara warga memberikan nasihat-nasihat bijak tentang kerja keras dan konsistensi dalam berwirausaha.
Memadukan Budaya dan Hiburan
Pagentan Tempo Doeloe sendiri berlangsung cukup lama, yakni dari 26 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Selain pameran antar desa yang edukatif, acara ini juga menghadirkan suasana pasar malam dengan berbagai wahana permainan, menjadikannya destinasi favorit bagi keluarga di akhir tahun.
Bagi kelompok KKM 90 Jagadhita Amarta, pengalaman mengunjungi stand beratapkan rumbia ini menjadi momen penting untuk menyadari bahwa dukungan generasi muda sangat krusial dalam menjaga eksistensi budaya dan ekonomi lokal.
"Budaya (gong dan rumbia) adalah identitas kita, dan produk lokal adalah kekuatan ekonomi kita. Kami bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan Desa Toyomarto," pungkas perwakilan kelompok KKM 90 Jagadhita Amarta tersebut.