2 months ago

Akses sulit bukan halangan ? Begini cara pelaku usaha Dusun Sukamade tetap eksis

Header Image
MAULA DAWILAH

230501110260 • KKM Mandiri • G.186

Dusun Sukamade, yang terletak di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, merupakan desa terpencil didalam kawasan Taman Nasional  Meru Betiri. Terkenal sebagai habitat penyu, dusun ini menawarkan pengalaman ekowisata konservasi penyu dan petualangan alam yang terisolasi tanpa sinyal telepon. Akses menuju dusun ini pun ekstrem, membutuhkan kendaraan 4x4, dan melintasi sungai.



Ekonomi di Dusun Sukamade bertumpu pada kombinasi unik antara ekowisata berbasis konversi dan pertanian/perkebunan. Meskipun Dusun ini terpencil namun potensi alam yang dimiliki tinggi.



Upaya penguatan ekonomi masyarakat terus dilakukan di Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Banyuwangi, kawasan yang berada dalam lingkup Taman Nasional Meru Betiri. Senin malam, pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi UMKM yang bertempat di ruang kelas SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap. Kegiatan ini dihadiri oleh pelaku UMKM setempat dengan latar belakang usaha yang beragam, mulai dari sektor pariwisata hingga produksi hasil kebun.



Sosialisasi ini melibatkan Dosen Pendamping Lapangan, Ryan Basith Fasih Khan, SE., MM, sebagai narasumber, Kepala Dusun Sukamade Bapak Fery, serta warga yang selama ini menjalankan usaha mandiri. Meski dilaksanakan pada malam hari, kegiatan berlangsung dengan suasana hangat dan partisipatif. Warga tampak antusias mengikuti diskusi yang membahas peluang pengembangan usaha di tengah keterbatasan wilayah.



Peserta sosialisasi berasal dari berbagai sektor UMKM lokal. Beberapa di antaranya merupakan pelaku usaha wisata pelepasan penyu, penjual aksesori bertema penyu, produsen kerupuk pakis, warung setempat serta warga yang bergerak di bidang perkebunan seperti kopi dan karet. Ragam usaha ini menunjukkan bahwa Sukamade memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama karena dikenal sebagai kawasan wisata alam yang menarik wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.



Dalam diskusi juga mengungkap masalah lain yang cukup krusial. Sebagian besar warga Sukamade terikat dengan PT Sukamade Baru sebagai pengelola lahan. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya ruang gerak warga dalam mengelola dan menjual hasil bumi mereka. Ketika produk perkebunan siap dijual, warga kerap terikat dengan harga yang ditentukan tengkulak, sehingga posisi tawar pelaku UMKM menjadi sangat lemah. Secara analitis, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan UMKM di Sukamade tidak hanya berkaitan dengan kemampuan produksi, tetapi juga struktur ekonomi yang membatasi kemandirian warga. Tanpa akses pasar yang terbuka dan kelembagaan ekonomi yang kuat, potensi UMKM sulit berkembang secara optimal.



Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguatan UMKM di Sukamade membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya soal infrastruktur dan pasar, tetapi juga soal membangun semangat dan kepercayaan diri warga untuk mengembangkan usaha mereka. Sosialisasi UMKM ini menjadi langkah awal untuk membuka ruang dialog dan merumuskan solusi bersama, agar potensi ekonomi Sukamade dapat tumbuh seiring dengan keberlanjutan wilayahnya sebagai kawasan wisata alam.