MALANG – Inovasi layanan sosial terus digulirkan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 18 "ARKADIAKARSA" UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Guna memaksimalkan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus beramal, mahasiswa menerapkan sistem "jemput bola" untuk program unggulan mereka, Sedekah Limbah.
Tanpa menunggu warga datang menyetor, para mahasiswa berinisiatif mendatangi langsung rumah-rumah warga di Perumahan Dirgantara Permai untuk mengambil donasi barang bekas. Langkah proaktif ini dilakukan untuk memudahkan warga yang ingin bersedekah namun terkendala waktu atau sarana pengangkutan.
Sasar Berbagai Jenis Limbah Bernilai Dalam program ini, jenis limbah yang dikumpulkan difokuskan pada barang-barang anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis. Warga dapat menyedekahkan minyak jelantah, perangkat elektronik rusak (e-waste), botol plastik bekas, hingga kardus-kardus yang menumpuk di gudang.
Antusiasme warga terlihat cukup tinggi. Di salah satu sudut perumahan, tampak seorang ibu rumah tangga menyambut hangat kedatangan tim KKM di teras rumahnya. Beliau menyerahkan kantong berisi barang bekas kepada mahasiswa untuk dikelola, mengubah tumpukan sampah rumah tangga menjadi ladang pahala.
Totalitas Meski Cuaca Tak Menentu Semangat pengabdian mahasiswa tidak surut meski dihadapkan pada kondisi cuaca yang tidak menentu. Menggunakan armada kendaraan bak terbuka roda tiga (motor tosa/viar), tim KKM menyusuri lorong-lorong jalan perumahan yang basah sisa diguyur hujan.
Kendaraan operasional tersebut tampak memuat tumpukan kardus dan karung hasil pengumpulan dari warga. "Kami ingin memastikan program ini berjalan efektif. Dengan kami yang berkeliling, warga merasa terbantu karena rumahnya jadi bersih, dan barangnya pun jadi manfaat untuk kas masjid," ujar salah satu anggota tim logistik KKM yang bertugas di atas bak kendaraan.
Seluruh hasil penjualan dari "Sedekah Limbah" ini nantinya akan diserahkan sepenuhnya untuk mendukung operasional dan kemakmuran Masjid Al Muhajirin Dirgantara. Program ini diharapkan dapat membangun budaya baru di masyarakat Dirgantara: bahwa sampah bukan lagi masalah, melainkan sumber berkah.