2 months ago

Anti Bullying

Header Image
DRAJAT SALSABIL SYIFA` UNNAJWA

230501110095 • KKM Mandiri • G.186

Dusun Sukamade, yang terletak di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri, mencerminkan realitas pendidikan di daerah terpencil dengan berbagai dimensi keterbatasan. Terletak di lingkungan yang dikelilingi ekosistem hutan dan memiliki aksesibilitas jalan yang terbatas, upaya untuk memelihara motivasi belajar pada peserta didik menjadi tantangan yang kompleks. Pada tanggal 5 Januari 2026, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan sosialisasi yang fokus pada dua tema utama: motivasi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta pencegahan kenakalan remaja dan bullying di SMPN 3 Pesanggaran (sekolah satu atap).



Penyerahan dan Respon Pihak Sekolah



Kegiatan tersebut diresmikan dengan penerimaan langsung oleh Kepala Sekolah SMPN 3 Pesanggaran, Supiyanto (dikenal sebagai Pak Pi), pada pukul 08.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Pihak sekolah menyambut kehadiran tim KKM dengan sikap yang terbuka dan memberikan apresiasi terhadap inisiatif yang dilakukan. Menurut Supiyanto (2026), kehadiran mahasiswa memberikan kontribusi yang signifikan karena peserta didik di wilayah tersebut memerlukan dorongan yang berkelanjutan terkait kelanjutan pendidikan. Ia juga mengemukakan harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan dengan durasi yang lebih panjang untuk meningkatkan dampak yang dihasilkan.



Selain itu, Kepala Sekolah menekankan pentingnya menyampaikan pesan terkait urgensi pendidikan lanjutan kepada siswa. Data yang diungkapkannya menunjukkan bahwa proporsi lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Dusun Sukamade yang melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) masih sangat rendah. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, dengan rendahnya motivasi dari kalangan orang tua sebagai faktor utama. Sebagian besar orang tua beranggapan bahwa pendidikan sampai jenjang SMP sudah mencukupi dan lebih mengutamakan agar anak membantu pekerjaan keluarga atau terlibat dalam aktivitas ekonomi lokal seperti bekerja di kebun (Supiyanto, 2026). Selain faktor keluarga, lingkungan sosial juga berperan dalam membentuk persepsi siswa terkait orientasi pendidikan mereka.



Faktor Geografis dan Infrastruktur sebagai Hambatan



Tantangan lain yang tidak kalah signifikan berasal dari faktor geografis. Sebagai bagian dari kawasan taman nasional, akses jalan menuju Dusun Sukamade sangat terbatas, terutama pada musim hujan di mana sungai yang menjadi jalur utama sering mengalami luapan air. Kondisi ini menyebabkan siswa tidak dapat melakukan perjalanan ke sekolah, seperti yang terjadi pada hari pelaksanaan kegiatan di mana 10 dari total 27 siswa kelas VII dan VIII tidak dapat hadir akibat banjir yang terjadi pada malam sebelumnya (Supiyanto, 2026).



Selain aksesibilitas yang terbatas, ketiadaan lembaga pendidikan SMA di wilayah Sukamade menjadi masalah struktural yang krusial. SMA terdekat berlokasi di Desa Sarongan dengan jarak sekitar 10 kilometer, namun perjalanan membutuhkan waktu hampir tiga jam melalui jalan berbatu dan kawasan hutan. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar orang tua merasa tidak nyaman untuk menyekolahkan anaknya di lokasi yang jauh dari rumah.



Implementasi Kegiatan Sosialisasi



Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, tim mahasiswa KKM UIN Malang mengimplementasikan kegiatan sosialisasi dengan pendekatan dialogis yang disesuaikan dengan konteks dan kondisi siswa. Materi yang disampaikan mencakup dua komponen utama:



1. Motivasi melanjutkan pendidikan: Mahasiswa berbagi pengalaman perjalanan pendidikan mereka, termasuk tantangan yang pernah dihadapi, dengan tujuan untuk memperluas wawasan siswa bahwa pendidikan tinggi merupakan hal yang dapat diraih meskipun berasal dari daerah terpencil.



2. Pencegahan kenakalan remaja dan bullying: Siswa diajak untuk memahami berbagai bentuk bullying serta dampaknya terhadap individu korban dan lingkungan sekolah secara keseluruhan.



Sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa tujuan utama dari sosialisasi adalah untuk membangun kesadaran pada siswa agar berani memiliki impian dan memahami bahwa pendidikan dapat menjadi instrumen perubahan kehidupan (Anggota Tim KKM, 2026).



Refleksi terhadap Dampak Kegiatan



Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa permasalahan pendidikan di daerah terpencil tidak dapat dipisahkan dari kompleksitas faktor aksesibilitas, lingkungan sosial, dan dukungan keluarga. Meskipun kehadiran tim KKM tidak dapat menyelesaikan seluruh permasalahan dalam jangka pendek, kegiatan tersebut berperan sebagai wadah untuk membangun dialog, meningkatkan kesadaran, dan memperkuat motivasi pada peserta didik serta pihak sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi pendidikan di daerah terpencil membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif antara berbagai pihak terkait