4 months ago

Bakti Sosial sebagai Wujud Kepedulian Mahasiswa terhadap Kesejahteraan Lansia: Refleksi Kegiatan KKM Satriya Karsa Abhipraya di Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi

Header Image
ANNISA RIZQY CAHYA OKTAVIANTI

230102110089 • KKM Unggulan Fakultatif (FITK) • G.513

KKM KELOMPOK 67



Bakti Sosial sebagai Wujud Kepedulian Mahasiswa terhadap Kesejahteraan Lansia: 



Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi



Ringkasan Eksekutif



Kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan oleh KKM Satriya Karsa Abhipraya pada Sabtu, 9 Mei 2026, di Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini mengusung tema “Sehari Bersama, Sejuta Bahagia” dengan tujuan memberikan perhatian dan kebersamaan kepada para lansia. Melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan, para peserta berupaya menghadirkan kebahagiaan dan semangat bagi penghuni panti sosial. Mahasiswa dari berbagai jurusan turut berpartisipasi sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap sesama. Kehadiran mereka menjadi jembatan antara dunia akademik dan realitas kehidupan masyarakat yang membutuhkan empati serta perhatian.



Kegiatan ini tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam memahami persoalan kesejahteraan lansia. Mahasiswa dapat menyadari pentingnya perhatian lintas generasi dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, kegiatan ini memberikan pemahaman tentang peran lembaga sosial dalam menopang kehidupan warga lanjut usia yang membutuhkan dukungan. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa dan berbagai pihak untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia yang menekankan pentingnya peran bersama dalam meningkatkan kesejahteraan lansia.



 



Latar Belakang



Penuaan penduduk merupakan fenomena demografis yang semakin nyata di Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Timur. Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi merupakan salah satu lembaga sosial yang menampung dan merawat para lansia yang tidak lagi memiliki keluarga atau tidak dapat dirawat oleh keluarganya. Para penghuni panti, yang akrab disapa Mbah kakung dan Mbah uti, membutuhkan tidak hanya pelayanan fisik berupa tempat tinggal dan makan. Mereka juga memerlukan pemenuhan kebutuhan psikologis seperti perhatian, kasih sayang, dan kebersamaan. Kebutuhan tersebut seringkali sulit terpenuhi di tengah keterbatasan sumber daya yang dimiliki panti.(WHO, 2020)



KKM Satriya Karsa Abhipraya sebagai bagian dari Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang hadir dengan inisiatif sosial yang bermakna. Menyadari bahwa mahasiswa memiliki potensi besar sebagai agen perubahan sosial, kelompok ini merancang kegiatan bakti sosial yang dirancang khusus untuk menyentuh hati para lansia, menghadirkan keceriaan, dan menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Kegiatan ini selaras dengan nilai-nilai Islam tentang penghormatan terhadap orang tua dan kepedulian terhadap sesama yang menjadi ciri khas institusi pendidikan berbasis nilai agama seperti UIN Malang. Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. (Chambers, 2014)



Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik. Selain itu, kegiatan ini mendukung tujuan nomor 10 mengenai pengurangan kesenjangan sosial. Melalui keterlibatan langsung mahasiswa dalam berinteraksi dengan kelompok rentan, kegiatan ini memberikan pengalaman sosial yang bermakna. Perguruan tinggi dengan demikian turut berkontribusi dalam membentuk karakter generasi muda yang peduli dan empatik. Pada akhirnya, upaya ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran sosial yang berkelanjutan dalam kehidupan bermasyarakat.. (United Nations, 2015) (Sen, 1999)



Rumusan Masalah




  1. Bagaimana kegiatan bakti sosial mahasiswa dapat memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis dan sosial para lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi?

  2. Bagaimana membangun sinergi yang berkelanjutan antara kelompok KKM mahasiswa dengan lembaga sosial panti werdha dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kepada lansia?

  3. Sejauh mana kegiatan pengabdian masyarakat berbasis bakti sosial mampu menumbuhkan empati, kepekaan sosial, dan karakter peduli pada diri mahasiswa peserta KKM?

  4. Bagaimana model kegiatan bakti sosial yang efektif dapat dirancang agar memberikan manfaat jangka panjang bagi lansia, bukan sekadar kegiatan seremonial sesaat?



 



Deskripsi 



Kegiatan Bakti Sosial KKM Satriya Karsa Abhipraya dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, bertempat di Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi, Blitar, Jawa Timur. Kegiatan berlangsung mulai pukul 06.45 hingga selesai dengan rangkaian acara yang dirancang penuh kasih sayang dan kebermaknaan untuk para mbah kakung dan mbah uti. Adapun rundown kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:































































Waktu



Acara



Petugas



Keterangan



05.45 - 06.00



Persiapan Panitia



Seluruh Panitia



KKM standby di lokasi



06.00 - 06.45



Pengondisian Peserta (Oma Opa)



Seluruh Panitia



Dipimpin oleh Ibu Najwa dan Ibu Maisa



06.45 - 07.00



Senam Lansia Ceria



Ibu Lis & Perwakilan Panitia



Senam ringan dengan instruktur dari panitia KKM



07.00 - 07.30



Cooling Down & Snack Time



Panitia KKM



Pembagian sarapan (bubur)



07.30 - 08.30



Panggung Kenangan (ungkap kesan terindah, foto/video)



MC: Ibu Tiara



Panitia mendampingi kelompok kecil Oma Opa



08.30 - 09.00



Penyerahan Baksos



MC: Ibu Tiara



Labib menyerahkan baksos kepada pihak Panti



09.00 - 09.20



Penutup & Do’a



MC: Ibu Tiara



Do’a dipimpin oleh Ustadz Bahrul



09.20 - 09.30



Foto Bersama



Sie PDD



Sesi foto bersama Oma Opa, pengurus panti, dan panitia KKM




 



Analisis dan Temuan



Berdasarkan pelaksanaan kegiatan bakti sosial di Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi, diperoleh sejumlah temuan yang signifikan dalam memahami kebutuhan para lansia serta potensi kontribusi mahasiswa dalam konteks pengabdian masyarakat.



Pertama, Berdasarkan pelaksanaan kegiatan di Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi, ditemukan bahwa kebutuhan akan interaksi sosial dan perhatian dari generasi muda merupakan aspek yang sangat krusial bagi para lansia. Lansia tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga dukungan emosional yang berkelanjutan. Sesi “Panggung Kenangan” yang dirancang sebagai ruang ekspresi terbukti efektif dalam memfasilitasi lansia untuk berbagi pengalaman hidup dan kenangan personal. Antusiasme tinggi yang ditunjukkan oleh para peserta mengindikasikan bahwa kebutuhan akan komunikasi interpersonal sering kali belum terpenuhi secara optimal. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa ruang berbagi cerita dapat menjadi sarana terapeutik yang sederhana namun berdampak signifikan. Dengan demikian, interaksi sosial yang bermakna perlu diposisikan sebagai bagian penting dalam pelayanan lansia.



Kedua,  aktivitas fisik ringan seperti Senam Lansia Ceria memiliki manfaat multidimensional bagi para lansia. Secara fisiologis, kegiatan ini membantu menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan fleksibilitas, serta memperlancar peredaran darah. Selain itu, dari aspek psikologis, aktivitas ini mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dan meningkatkan suasana hati peserta. Keterlibatan aktif lansia dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa mereka masih memiliki motivasi untuk berpartisipasi dalam aktivitas kolektif. Hal ini menegaskan pentingnya perancangan kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan fisik, tetapi juga kesejahteraan mental. Oleh karena itu, pendekatan holistik dalam pelayanan lansia menjadi sangat relevan untuk diterapkan.(WHO, 2020)



Ketiga, Penyerahan bantuan sosial secara simbolis dan substantif dari mahasiswa kepada pihak panti memberikan dampak moral yang signifikan. Bagi para lansia, kegiatan ini menjadi bukti konkret bahwa mereka tetap mendapatkan perhatian dan penghargaan dari generasi muda. Hal tersebut berkontribusi dalam meningkatkan rasa dihargai dan mengurangi perasaan kesepian yang kerap dialami. Di sisi lain, bagi mahasiswa, keterlibatan langsung dalam kegiatan ini menumbuhkan kesadaran sosial yang lebih mendalam. Proses interaksi dan pemberian tersebut memperkuat nilai empati, tanggung jawab sosial, serta kepedulian terhadap kelompok rentan. Dengan demikian, kegiatan bakti sosial tidak hanya berdampak pada penerima manfaat, tetapi juga membentuk karakter sosial pemberi manfaat. (Sen, 1999)



Keempat, temuan ini menyoroti pentingnya keterlibatan mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Partisipasi mahasiswa dari program studi seperti Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan IPS, Tadris Bahasa Inggris, dan Tadris Matematika menunjukkan bahwa kegiatan sosial bersifat inklusif dan multidisipliner. Hal ini mengindikasikan bahwa pengabdian masyarakat tidak memerlukan spesialisasi sempit, melainkan keterbukaan untuk berkolaborasi. Sinergi lintas disiplin memungkinkan terciptanya pendekatan yang lebih komprehensif dalam merespons kebutuhan masyarakat. Selain itu, kolaborasi ini juga memperkaya perspektif mahasiswa dalam memahami realitas sosial secara lebih luas. Dengan demikian, empati dan kemampuan bekerja sama menjadi kompetensi utama yang perlu dikembangkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat.



Rekomendasi Kebijakan dan Strategi




  1.  LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dapat mempertimbangkan kegiatan bakti sosial ke panti lansia sebagai salah satu alternatif program dalam pelaksanaan KKM. Hal ini didasarkan pada temuan bahwa kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi kesejahteraan emosional lansia. Selain itu, kegiatan ini juga efektif dalam menumbuhkan empati dan kepedulian sosial mahasiswa. Dengan demikian, program serupa berpotensi untuk direplikasi oleh kelompok KKM lainnya. 

  2.  Kegiatan bakti sosial yang telah dilaksanakan menunjukkan potensi untuk dikembangkan menjadi program berkelanjutan. Oleh karena itu, kelompok KKM berikutnya dapat mempertimbangkan adanya kunjungan lanjutan atau interaksi periodik dengan panti sosial. Upaya ini bertujuan menjaga kesinambungan hubungan sosial yang telah terbangun. Dengan pola tersebut, manfaat kegiatan dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh para lansia. 

  3.  Pemerintah daerah melalui Dinas Sosial dapat berperan sebagai fasilitator dalam menjaga keberlanjutan kolaborasi antara panti sosial dan perguruan tinggi. Peran ini dapat diwujudkan melalui koordinasi program dan dukungan administratif. Kolaborasi yang terstruktur akan membantu mempertahankan kualitas layanan sosial yang sudah baik. Selain itu, sinergi ini juga memperkuat jaringan pengabdian masyarakat di tingkat lokal. 

  4.  Berdasarkan temuan kegiatan, aspek interaksi sosial dan perhatian emosional perlu menjadi fokus utama dalam setiap program yang melibatkan lansia. Oleh karena itu, kegiatan yang bersifat partisipatif seperti berbagi cerita, hiburan, dan pendampingan sosial perlu terus dikembangkan. Pendekatan ini terbukti lebih bermakna dibandingkan sekadar bantuan material. Dengan demikian, program yang dirancang dapat lebih sesuai dengan kebutuhan psikososial lansia. 

  5. Panti sosial lansia dapat terus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk mahasiswa dan komunitas. Keterbukaan ini dapat disertai dengan sistem koordinasi yang baik agar kegiatan berjalan tertib dan efektif. Dengan adanya manajemen kunjungan yang terencana, setiap program dapat memberikan manfaat maksimal bagi para lansia. Hal ini juga akan memperkuat hubungan antara panti sosial dan masyarakat luas.



Referensi



Chambers, R. (2014). Rural Development: Putting the Last First. Routledge.



Kretzmann, J. P., & McKnight, J. L. (1993). Building Communities from the Inside Out: A Path Toward Finding and Mobilizing a Community’s Assets. ACTA Publications.



Mikkelsen, B. (2005). Methods for Development Work and Research: A New Guide for Practitioners (2nd ed.). Sage Publications.



Buku Pedoman Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler 2026. (2026). Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.



Chambers, R. (2014). Rural development: Putting the last first. Routledge.



Kementerian Sosial Republik Indonesia. (2021). Standar pelayanan panti sosial tresna werdha. Kementerian Sosial RI.



Laporan KKM Satriya Karsa Abhipraya. (2026). Laporan kegiatan bakti sosial di Panti Sosial Tresna Werdha Wlingi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.



Mikkelsen, B. (2005). Methods for development work and research: A new guide for practitioners (2nd ed.). Sage Publications.



Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford University Press.



Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.



United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development. https://sdgs.un.org/goals



World Health Organization. (2020). Decade of healthy ageing: Baseline report. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240017900



 



Policy Brief berjudul “Bakti Sosial sebagai Wujud Kepedulian Mahasiswa terhadap Kesejahteraan Lansia” ini telah disusun sebagai salah satu bentuk refleksi akademik dan kontribusi pengabdian masyarakat berdasarkan pengalaman langsung Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Satriya Karsa Abhipraya. Dokumen ini diharapkan dapat menjadi acuan strategis bagi perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga sosial, dan seluruh pemangku kepentingan dalam merancang program-program yang berkelanjutan demi meningkatkan kesejahteraan para lansia di panti sosial. (UU No. 13 Tahun 1998)



Dengan ini, dokumen Policy Brief dinyatakan untuk digunakan sebagaimana mestinya.



 



Blitar, 9 Mei 2026



Menyetujui







 











Naufal Labib Hibatullah



Ketua KKM Satriya Karsa Abhipraya



NIM. 230104110077



Dimas Femy Sasongko, M.Pd



Dosen Pembimbing Lapangan



NIP. 1990041020180201136