Bantengan Malang: Seni Pertunjukan yang Menggetarkan Jiwa
Oleh: Rosyadah Rensy Dwi Murnisa Putri
Mahasiswa KKM Kelompok 5 Arunikanusa - Pandanwangi, Blimbing, Malang
Pertemuan Pertama dengan Bantengan
Siang itu, Sabtu, 4 Januari 2025, menjelang waktu dhuhur, suara gamelan yang menghentak mulai terdengar dari kejauhan. Warga Pandanwangi mulai berdatangan, anak-anak berlarian dengan mata berbinar, sementara orang tua duduk santai di tikar yang telah disiapkan. Saya dan teman-teman kelompok KKM ikut bergabung, penasaran dengan pertunjukan yang akan dimulai.
Itulah pertama kalinya saya menyaksikan langsung Bantengan, sebuah kesenian tradisional khas Malang yang sudah ada sejak zaman dahulu. Pertunjukan yang meriah, penuh warna, dan menggetarkan jiwa di tengah teriknya matahari siang.
Apa Itu Bantengan?
Bantengan adalah seni pertunjukan rakyat yang memadukan unsur tari, musik gamelan, dan unsur mistis. Dinamakan “Bantengan” karena penari utamanya mengenakan topeng berbentuk kepala banteng (sapi jantan) yang terbuat dari kulit atau kayu, dengan tanduk yang menjulang gagah.
Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh sekelompok penari pria yang bergerak mengikuti irama gamelan yang keras dan dinamis. Gerakan para penari penuh tenaga, kadang agresif, menggambarkan kekuatan dan keberanian seekor banteng.
Lebih dari Sekadar Hiburan
Yang membuat Bantengan istimewa bukan hanya gerakannya yang energik, tetapi juga ‘filosofi’ yang terkandung di dalamnya:
1. Simbol Kekuatan dan Keberanian
Banteng dalam budaya Jawa melambangkan kekuatan, keberanian, dan ketahanan. Melalui tarian ini, masyarakat diingatkan akan pentingnya semangat pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan.
2. Sarana Tolak Bala
Di beberapa daerah, Bantengan dipercaya sebagai ritual tolak bala atau penangkal bahaya. Pertunjukan ini sering diadakan saat hajatan, syukuran panen, atau perayaan besar lainnya sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan.
3. Perekat Sosial Masyarakat
Bantengan menjadi momen kebersamaan warga. Dari persiapan hingga pertunjukan, semua gotong royong. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berkumpul menikmati seni bersama, mempererat tali silaturahmi.
Pengalaman Menonton: Antara Takjub dan Terpesona
Saat pertunjukan dimulai di siang hari yang cerah, saya langsung terpukau. Suara gamelan yang keras berpadu dengan teriakan penari menciptakan atmosfer yang magis. Meskipun terik matahari cukup menyengat, para penari bergerak lincah dengan topeng banteng yang besar di kepala mereka. Gerakan mereka liar namun tetap terkendali, seolah benar-benar menjelma menjadi banteng yang sedang mengamuk.
Yang paling berkesan adalah momen ketika penari “kerasukan” atau dalam kondisi trance. Gerakan mereka menjadi lebih lepas, spontan, dan penuh ekspresi. Meskipun terlihat menakutkan, ada kecantikan dalam setiap gerakannya, sebuah bentuk seni yang autentik dan jujur.
Anak-anak di sekitar saya ada yang ketakutan, ada yang justru tertawa riang. Orang tua menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa ini adalah warisan budaya yang harus dijaga. Saya menyadari, Bantengan bukan hanya tontonan, tetapi ‘tuntunan’ nilai-nilai luhur bagi generasi penerus.
Tantangan Pelestarian Bantengan
Sayangnya, kesenian Bantengan kini mulai jarang ditemukan. Beberapa faktor yang menyebabkan:
- Kurangnya regenerasi penari
- Generasi muda lebih tertarik dengan budaya pop modern
- Biaya produksi yang mahal
- Kostum, gamelan, dan upah penari memerlukan dana besar
- Persepsi negatif, sebagian orang menganggap Bantengan terlalu mistis atau tidak sesuai dengan nilai agama tertentu
Padahal, jika dilihat dari sisi seni dan budaya, Bantengan adalah aset yang sangat berharga. Ia adalah identitas lokal yang membedakan Malang dari daerah lain.
Peran Masyarakat dalam Melestarikan
Setelah menyaksikan pertunjukan itu, saya semakin yakin bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
1. Menghadirkan Bantengan dalam Acara Komunitas
Seperti yang dilakukan warga Pandanwangi, Bantengan bisa dimainkan saat acara-acara besar seperti HUT RI, perayaan desa, atau acara keagamaan (dengan penyesuaian).
2. Edukasi kepada Generasi Muda
Sekolah dan TPQ bisa mengajarkan sejarah dan makna Bantengan, agar anak-anak mengenal dan bangga dengan budayanya sendiri.
3. Dokumentasi dan Publikasi
Media sosial dan blog seperti ini bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan Bantengan ke khalayak lebih luas. Foto, video, dan cerita pengalaman akan membuat lebih banyak orang tertarik.
4. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Komunitas Seni
Dukungan dana dan fasilitas dari pemerintah daerah sangat membantu keberlangsungan grup kesenian Bantengan.
Refleksi Pribadi
Siang itu, saya pulang dengan perasaan campur aduk. Ada kebanggaan karena bisa menyaksikan langsung kesenian yang begitu kaya makna. Namun juga ada kekhawatiran, jangan sampai suatu hari nanti anak cucu kita hanya bisa melihat Bantengan lewat video dokumenter atau museum.
Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani KKM, saya merasa memiliki peran kecil namun berarti: ‘menjadi saksi, pendokumentasi, dan pencerita’ tentang kekayaan budaya lokal. Melalui tulisan ini, saya berharap semakin banyak orang yang peduli dan turut melestarikan Bantengan serta kesenian tradisional lainnya.
Karena budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang ‘identitas kita di masa kini dan warisan untuk masa depan’.
Penutup
Jika Anda berkesempatan mengunjungi Malang, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan Bantengan. Rasakan sendiri getaran jiwa yang ditimbulkan oleh dentuman gamelan dan gerakan penuh semangat para penari.
Dan yang terpenting, ‘mari kita jaga dan lestarikan bersama’, agar Bantengan tetap hidup dan terus menginspirasi generasi mendatang.
#BantenganMalang #BudayaLokal #KKMArunikanusa #PandanwangiBlimbing #SeniTradisional #MalangBudaya
Tentang Penulis:
Rosyadah Rensy Dwi Murnisa Putri, mahasiswa Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi yang sedang menjalani KKM di Pandanwangi, Blimbing, Kota Malang. Pecinta budaya lokal dan aktif dalam kegiatan sosial keagamaan