3 months ago

Belajar dari Secangkir Kopi: Jejak Mahasiwa Menyusuri Kebun Kopi Kampoeng KRPL

Header Image
FINGKY KHARISA RAMAPUTRI

230302110192 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.73

Desa Sumberdem dikenal sebagai desa yang kaya akan potensi wisata berbasis lingkungan. Beberapa dusunnya dikembangkan menjadi kawasan wisata tematik, salah satunya adalah Kampoeng KRPL yang terletak di Dusun Ngemplak dan Dusun Durengede. Kawasan ini menjadi simbol pemanfaatan pekarangan dan lahan produktif masyarakat, yang ditanami berbagai hasil bumi unggulan. Di antara beragam tanaman tersebut, kopi menjadi primadona yang tumbuh subur, seolah menyatu dengan hawa sejuk dataran tinggi dan pelukan pegunungan yang mengelilinginya.



Berangkat dari ketertarikan tersebut, Kelompok KKM Astra Pradipta 73 berinisiatif melakukan kunjungan edukatif ke kebun kopi yang terletak di perbatasan Dusun Ngemplak dan Durengede. Tujuan kegiatan ini bukan sekadar berjalan-jalan menikmati hijaunya kebun, melainkan belajar bagaimana kopi dapat memberi manfaat mulai dari lingkup individu hingga masyarakat luas. Menariknya, kebun sekaligus tempat pengolahan kopi tersebut merupakan milik Bapak Makhul, Ketua RW setempat, sosok yang selama ini akrab dan dekat dengan mahasiswa KKM.



Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu meminta izin dan menyampaikan maksud kegiatan kepada Bapak Makhul. Sambutan hangat pun langsung diberikan. Dengan keramahan khas desa, beliau tidak hanya mengizinkan, tetapi juga menyambut mahasiswa sebagai tamu sekaligus murid. Maka disepakatilah bahwa pada 30 Desember 2026, seluruh anggota kelompok akan berkunjung untuk belajar langsung dari sumbernya; dari tanah hingga secangkir kopi.



Hari kunjungan pun tiba. Mahasiswa disambut hangat di rumah Bapak Makhul, dipersilakan masuk untuk ramah tamah sekaligus menyampaikan tujuan kegiatan. Setelah itu, tanpa banyak basa-basi ”karena petani lebih suka aksi daripada teori” kami langsung diajak melihat pupuk kopi yang berada di samping rumah. Pupuk tersebut berasal dari limbah pengolahan kopi, seperti kulit kopi (cascara), ampas kopi, serta campuran dedaunan kering dan kotoran ternak yang difermentasi. Limbah yang bagi sebagian orang dianggap tidak berguna, di tangan petani justru menjelma menjadi sumber kesuburan tanah.



Perjalanan dilanjutkan menuju kebun kopi milik Bapak Makhul. Di sana, kami diperkenalkan pada proses awal budidaya kopi: mulai dari pemilihan benih, cara penanaman yang tepat, hingga perawatan tanaman agar tetap produktif. Satu per satu mahasiswa mencoba mencangkul dan menanam biji kopi dengan penuh antusias. Meski cangkul terasa berat dan tangan mulai pegal, semangat tidak surut; barangkali karena kami sadar, secangkir kopi yang biasa menemani begadang skripsi ternyata lahir dari kerja keras yang panjang.