Kamis 27 Januari 2026, hari itu rasanya berbeda dari hari-hari sebelumnya yang telah kami lewati. Foto yang kami abadikan bersama Bu Ulfa Maria diambil pada minggu terakhir dari empat minggu pendampingan yang telah kami lalui. Momen itu terasa spesial, seolah menjadi penutup dari perjalanan kecil yang penuh makna. Kami datang ke rumah beliau bukan hanya membawa jas almamater, tapi juga rasa tanggung jawab dan niat tulus untuk mendampingi beliau dalam proses monitoring kesehatan sebagai calon jamaah haji.
Begitu sampai, suasana rumah yang hangat langsung membuat kami merasa diterima, bukan seperti mahasiswa kesehatan dan pasien, tapi lebih seperti keluarga yang sedang berkunjung. Bu Ulfa Maria menyambut kami dengan senyum yang menenangkan. Dari awal obrolan, beliau terlihat antusias dan terbuka bercerita tentang kondisi kesehatannya, kekhawatiran menjelang keberangkatan haji, hingga harapan agar bisa menjalankan ibadah dengan lancar.
Kolaborasi antara teman dari kedokteran dan farmasi berjalan dengan sangat natural dan berkesan. Dari sisi kedokteran, dilakukan pemantauan kondisi kesehatan Bu Ulfa Maria secara menyeluruh. Sementara itu, dari sisi farmasi kami mendampingi dengan edukasi terkait obat-obatan yang beliau konsumsi mulai dari cara minum obat yang benar, keteraturan jadwal, hingga tips agar tetap patuh minum obat selama berada di Tanah Suci. Obrolan berjalan santai, penuh tanya jawab, dan jauh dari kesan kaku.
Yang paling menyentuh adalah ketika Bu Ulfa Maria menyampaikan bahwa beliau merasa lebih tenang dan lebih siap setelah empat minggu didampingi. Kalimat sederhana itu benar-benar membekas di hati kami. Di titik itu, kami sadar bahwa kehadiran kami memberikan pengaruh positif, bukan hanya bagi Bu Ulfa Maria, tetapi juga bagi kami dan teman-teman yang terlibat. Kami belajar bahwa empati dan perhatian kecil bisa membawa dampak besar.
Empat minggu pendampingan ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga. Kolaborasi antara farmasi dan kedokteran terasa semakin kuat, saling melengkapi, dan membuat pelayanan kesehatan yang diberikan menjadi lebih utuh dan manusiawi. Kami pulang di minggu terakhir itu dengan perasaan penuh-penuh syukur, penuh pelajaran, dan penuh cerita.
Pendampingan Bu Ulfa Maria bukan sekadar kegiatan, tetapi menjadi kenangan yang akan selalu kami simpan. Sebuah pengingat bahwa menjadi tenaga kesehatan berarti siap hadir, mendampingi, dan peduli dengan sepenuh hati.