8 months ago

Bertamu di Tungku Api: Tradisi Gegeni Masyarakat Desa Ngadas

Header Image
BAGAS ADITIYA RAMADANI

230606110168 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.94

Desa Ngadas yang dihuni oleh masyarakat Suku Tengger memiliki tradisi bertamu yang unik dan berbeda dari kebiasaan di daerah lain. Tradisi ini dikenal oleh warga setempat sebagai gegèni, yaitu cara menerima tamu dengan penuh kehangatan dan rasa hormat. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun dan masih dijaga hingga sekarang.



Jika pada umumnya tamu disambut di ruang tamu, di Desa Ngadas tamu justru diajak duduk di pawon, tepat di sekitar tungku api. Awalnya hal ini terasa asing, namun setelah duduk bersama di sana, suasana hangat dan akrab langsung terasa. Obrolan mengalir dengan santai, tanpa jarak antara tamu dan tuan rumah.



Bagi masyarakat Ngadas, tungku api bukan sekadar tempat memasak. Tungku api memiliki makna simbolik sebagai pusat kehidupan keluarga dan dianggap mewakili pemilik rumah atau sesepuh. Karena itu, terdapat aturan adat yang harus dihormati. Saat melewati tungku api, seseorang tidak diperbolehkan melintas di bagian depannya, melainkan harus melalui bagian belakang sebagai bentuk penghormatan terhadap pemilik rumah dan nilai adat yang dijunjung tinggi.





Foto Bertamu Di Tungku Api (Doc Pribadi)



Hampir setiap rumah di Desa Ngadas memiliki tungku api. Selain digunakan untuk memasak, tungku api juga berfungsi untuk menghangatkan tubuh karena suhu udara di desa ini cukup dingin. Kondisi alam yang dingin inilah yang membuat tungku api menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, baik secara fungsional maupun sosial.



Ada satu pesan adat yang selalu kami dengar ketika bertamu di Desa Ngadas, yaitu bahwa setiap makanan atau minuman yang diberikan sebaiknya diterima dan dimakan. Menolak suguhan dianggap kurang sopan dan dapat memengaruhi hubungan sosial di kemudian hari. Hal ini menunjukkan bahwa menerima pemberian bukan sekadar soal makanan, tetapi bentuk penghargaan terhadap niat baik tuan rumah.



Teh atau kopi dan kentang hampir selalu menjadi suguhan utama. Makanan ini mencerminkan kehidupan masyarakat Ngadas yang mayoritas bekerja sebagai petani kentang, sehingga hasil pertanian mereka juga menjadi bagian dari tradisi bertamu.



Dari pengalaman bertamu di Desa Ngadas, kami belajar bahwa memuliakan tamu bukan hanya tentang suguhan, tetapi tentang sikap, rasa hormat, dan kehangatan dalam kebersamaan. Duduk bersama di sekitar tungku api mengajarkan kami arti kesederhanaan, keterbukaan, dan kedekatan antar manusia.



Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa adat istiadat bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi nilai hidup yang masih dijalankan dan dijaga hingga sekarang. Sebagai generasi muda, kami memiliki tanggung jawab untuk menghormati, menjaga, dan melestarikan budaya lokal agar tidak hilang oleh perkembangan zaman. Kami merasa bersyukur dan bangga dapat merasakan langsung nilai kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Desa Ngadas.





Gegeni di Posko (Doc Pribadi)