2 months ago

Bukan Cuma Ngaji, Santri Ma'had Masanega Juga Jago Nyayi Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bukan Cuma Ngaji, Santri Ma'had Masanega Juga Jago Nyayi", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/zahraaulia1519/69f82460c925c401

Header Image
AHMAD FATHUR ROZI

230104110101 • KKM Unggulan Fakultatif (FITK) • G.501

Ada yang unik di MTsN 1  Malang pekan ini. Halaman masjid yang biasanya dipakai utuk kegiatan keagamaan, mendadak berubah jadi panggung gembira. Spanduk bertuliskan "Pulang Kampung: Mengaji, Berbahasa, Berbudaya" terpampang besar. Di bawahnya, mikrofon, rebana, dan puluhan siswa berseragam rapi siap tampil.Inilah Pekan Pulang Kampung, program kolaborasi antara MTsN 1 Malang dengan Mahasiswa Asistensi Mengajar dari Akademi Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Konsepnya sederhana tapi ngena: mahasiswa UIN "pulang kampung" ke madrasah, membawa suasana pesantren kampus ke adik-adik MTs-nya.



Dan menu utamanya hari ini: Lomba Ghina' Araby. Lomba nyanyi berbahasa Arab.Bahasa Arab Tidak Kaku, Tapi Merdu“Siapa bilang Bahasa Arab itu susah dan serem?” sapa [Nashfah Maslahatul Diniyah], salah satu mahasiswa AM UIN Malang, membuka acara. “Hari ini kita buktiin, Bahasa Arab itu bisa dinyanyiin, bisa dinikmati, dan bisa bikin hati adem.”Satu per satu grup tampil. Ada yang membawakan Thola’al Badru ‘Alaina dengan aransemen modern. Ada yang menyanyikan lagu Man Ana dengan vokal merdu sampai bikin merinding. Ada juga yang berani bikin lirik sendiri tentang semangat belajar di madrasah.Tujuannya jelas. Mahasiswa AM UIN Malang ingin menghapus stigma kalau Bahasa Arab cuma ada di kitab kuning dan nahwu-shorof. “Bahasa Arab itu bahasa surga, bahasa Al-Quran. Kalau cara ngenalinnya lewat seni, lewat ghina', anak-anak jadi cinta duluan sebelum paham,” ujar salah satu mahasiswa pendamping.



Pulang Kampung, Pulang ke Jati Diri Kenapa namanya "Pulang Kampung"? Karena sejatinya, mahasiswa UIN Malang banyak yang alumnus madrasah dan pesantren. Kembali ke MTsN 1 ini adalah napak tilas. “Kami pulang bukan cuma bawa lomba,” kata salah satu mahasiswi. “Kami pulang bawa cerita, bawa pengalaman, bawa semangat bahwa anak madrasah bisa mendunia tanpa kehilangan jati diri.”Para siswa MTsN 1 pun antusias. “Seru banget, Kak. Ternyata Bahasa Arab bisa keren kayak gini. Nggak ngebosenin,” kata Zahra, siswi kelas 8, sambil memegang piala juara 2.Kepala MTsN 1 Kota Malang, [Drs. Nashrulloh, M.Pd.I], mengapresiasi penuh. “Kolaborasi ini yang kami mau. Madrasah tidak boleh menutup diri. Mahasiswa UIN Malang ini adalah kakak, sekaligus inspirasi. Mereka bukti bahwa Bahasa Arab, seni, dan prestasi akademik bisa jalan bareng.”Acara ditutup dengan penampilan kolaborasi: mahasiswa dan siswa menyanyikan Ya Badrotim bersama-sama. Suaranya mungkin ada yang fals. Tapi semangatnya: satu frekuensi. Frekuensi cinta Bahasa Arab, cinta madrasah, cinta pesantren.Pulang Kampung kali ini bukan soal mudik ke rumah. Tapi soal pulang ke akar. Pulang ke bahasa Al-Quran. Pulang ke identitas sebagai santri. Dan pulangnya, bawa oleh-oleh paling mahal: semangat untuk terus belajar.Karena sejatinya, dari madrasah inilah, generasi penjaga bahasa langit akan lahir.