SINGOSARI, MALANG -- Suasana ruang kelas 5 SDN 2 Toyomarto mendadak hening. Isak tangis pelan mulai terdengar di antara para siswa, bahkan para mahasiswa KKM 90 Jagadhita Amarta Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pun tak kuasa menahan air mata. Pemandangan emosional ini menjadi puncak dari kegiatan Sosialisasi Pendidikan Karakter bertajuk "Membangun Karakter Unggul di Era Digital: Bijak Mengelola Screen Time" yang digelar pada Selasa (13/1/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi biasa. Di tengah gempuran arus informasi digital yang sulit disaring, anak-anak di desa Toyomarto diajak untuk kembali menengok "layar" yang paling nyata: wajah orang tua mereka.
Menyaring Konten, Menata Karakter
Ketua Kordes KKM 90, A Yogi Rama, dalam sambutannya menekankan bahwa di era gadget, sopan santun sering kali terkikis. Hal ini diperkuat oleh Febry Agus Ferdiansyah selaku Ketua Pelaksana. Ia menjelaskan bahwa sesi Screen Free Time selama 25 menit sengaja diadakan untuk menyadarkan siswa bahwa kecanduan gawai membuat mereka kurang bersosialisasi dan abai terhadap lingkungan sekitar.
"Poin utamanya adalah bagaimana mereka bisa memilah mana yang positif dan negatif. Jangan sampai layar handphone menjauhkan mereka dari orang-orang yang paling mencintai mereka," ujar Febry.
Pesan Mendalam di Balik Layar
Melalui penayangan video pendek berjudul "Mana Janji Ayah" dan "Topi", para peserta diajak menyelami realitas tentang kerja keras orang tua. Video tersebut berhasil menyentuh sisi kemanusiaan para siswa, mengajarkan mereka untuk bersyukur dan menghargai setiap tetes keringat ayah dan ibu, tanpa harus merasa minder dengan kondisi ekonomi.
Untuk mencairkan suasana yang sempat haru, panitia menyelipkan sesi ice breaking yang ceria sebelum melanjutkan ke edukasi mengenai dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan Di penghujung acara, Febry Agus Ferdiansyah memberikan wejangan yang sangat menyentuh hati:
"Adik-adikku, dari video yang kita tonton tadi, kita belajar tentang satu hal penting: bersyukur. Kadang kita menuntut banyak hal karena gengsi, tanpa sadar betapa keras orang tua kita berjuang. Padahal, tidak ada satu pun orang tua di dunia ini yang ingin melihat anaknya susah atau merasa kurang dari yang lain.
Ingatlah, apa yang kita miliki hari ini adalah hasil dari jerit payah dan doa ayah serta ibu. Selagi mereka masih ada, hargailah, sayangilah, dan jangan pernah menyakiti hati mereka. Karena penyesalan selalu datang belakangan, saat kesempatan untuk meminta maaf sudah tidak ada lagi.
Mari kita juga belajar saling menghargai sesama teman. Jangan mengejek, jangan merendahkan, karena setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Jika ada teman kita yang kurang mampu, tugas kita bukan menghakimi, tapi membantu dan mendukung.
Hari ini, mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk orang tua kita yang telah mendahului. Dan untuk ayah dan ibu yang masih berjuang mencari nafkah, mari kita kirimkan doa terbaik agar setiap tetes keringat mereka menjadi berkah.
Nanti saat kalian pulang ke rumah, peluk ayah dan ibu kalian, minta maaflah dengan tulus. Mulailah hidup dengan karakter mulia: Salam, Salim, Senyum, Sapa, dan Sopan. Karena karakter itulah bukan gadget mahal yang akan membuat kalian menjadi manusia unggul."
Acara ditutup dengan doa bersama dan pembacaan Al-Fatihah untuk orang tua yang telah mendahului, menyisakan tekad baru di wajah para siswa untuk lebih bijak bersikap, baik di dunia nyata maupun dunia maya.