Awalnya, perjalanan menuju desa pengabdian ini terasa seperti beban akademik yang harus segera dituntaskan secepat mungkin. Namun, pemandangan hijau yang membentang di sepanjang jalan mulai mengikis rasa ragu dan lelah di dalam dada. Sambutan hangat dari warga desa yang tulus membuat atmosfer asing berubah menjadi sangat nyaman dalam sekejap. Ternyata, ini bukan sekadar tugas kampus, melainkan awal dari petualangan emosional yang benar-benar tak terduga.
Setiap pagi kami bangun dengan semangat baru untuk menjalankan program kerja yang telah disusun dengan penuh pertimbangan. Gelak tawa anak-anak desa saat kami mengajar menjadi penyemangat paling ampuh di tengah teriknya matahari yang menyengat. Malam hari kami habiskan dengan berdiskusi santai di teras posko ditemani segelas kopi dan tumpukan gorengan hangat. Keseruan-keseruan kecil inilah yang perlahan menyatukan ego kami menjadi sebuah keluarga baru yang sangat solid.
Di sini, saya belajar bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan hidup masyarakat desa yang bersahaja. Kearifan lokal yang mereka bagikan memberikan sudut pandang baru yang tidak pernah saya temukan di dalam buku teks manapun. Mengabdi ternyata bukan hanya tentang apa yang kami berikan, tetapi tentang banyak hal berharga yang justru kami terima. Setiap interaksi dengan warga meninggalkan jejak bermakna yang mendewasakan cara berpikir saya sebagai seorang mahasiswa seutuhnya.Waktu terasa berjalan begitu cepat hingga tiba saatnya kami harus melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan yang berat. Ada rasa sesak yang tak terlukiskan ketika melihat mata berkaca-kaca dari warga yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Saya pulang membawa tumpukan laporan fisik, namun hati saya justru tertinggal di sudut-sudut jalan desa yang penuh kenangan itu. KKM ini mungkin telah berakhir secara resmi, tapi ceritanya akan selalu tersimpan abadi dalam ingatan yang paling dalam