Setiap Sabtu pagi, kantong-kantong plastik berisi botol dan gelas bekas minuman mulai berdatangan ke Madrasah Al Hikam Diwek, Jombang. Bukan kiriman dari luar, melainkan bawaan para siswa yang sejak hari-hari sebelumnya telah rajin mengumpulkan sampah plastik dari kelas dan lingkungan sekitar atau mereka bawa dari rumah. Bukan berakhir di tempat sampah, melainkan masuk ke dalam sistem yang terencana dan berdampak nyata.
Madrasah Al Hikam adalah sekolah berpredikat Adiwiyata, sebuah penghargaan nasional yang diberikan kepada sekolah-sekolah yang berhasil mengintegrasikan kesadaran lingkungan ke dalam budaya dan kegiatan sehari-harinya. Salah satu wujud nyata dari predikat itu adalah program bank sampah mingguan yang dijalankan secara rutin tanpa jeda setiap pekan oleh OSIS divisi Adiwiyata.
Mekanismenya terstruktur dan konsisten. Sampah plastik dari kelas-kelas dikumpulkan, lalu ditimbang dan dipilah setiap minggu sekali. Setelah terkumpul selama sebulan, bank sampah datang mengambil seluruh plastik yang telah terpilah tersebut. Proses yang tampak sederhana ini, nyatanya membutuhkan ketekunan dan tanggung jawab yang tidak kecil dari para siswa yang mengelolanya.
Siswa OSIS Divisi Adiwiyata
"Sampah dari kelas-kelas siswa ditimbang dan dipilah setiap minggu sekali, kemudian tiap bulan diambil oleh bank sampah."
Bagi siswa-siswa yang tergabung dalam divisi Adiwiyata, kegiatan ini membawa manfaat yang jauh melampaui urusan kebersihan. Salah satu anggota divisi mengungkapkan bahwa bergabung di divisi ini membukakan pengetahuan baru yang tak disangka sebelumnya.
Siswa 1 - OSIS Divisi Adiwiyata:
"Benefit yang diperoleh masuk di divisi Adiwiyata bisa mengetahui hadits-hadits tentang lingkungan, bisa memotivasi diri kita sendiri. Ternyata di diri kita sendiri itu harus bersih, baik itu lingkungan, rumah itu dimulai dari diri kita sendiri."
Nilai-nilai Islam yang menjadi landasan madrasah ternyata turut mewarnai cara siswa memandang kegiatan ini. Kebersihan bukan sekadar program sekolah, melainkan bagian dari akhlak dan tanggung jawab pribadi yang berakar dari ajaran agama. Sementara itu, siswa lain menyoroti sisi yang lebih luas, dampak sampah plastik bagi lingkungan dan peran mereka dalam mengatasinya.
Siswa 2 - OSIS Divisi Adiwiyata
"Ternyata sampah itu bisa merugikan dampaknya. Karena di Indonesia saat ini banyak sampah plastik yang terurainya itu lama, dan kita memanfaatkan atau bantu mengurangi sampah plastik itu agar tidak menumpuk."
Kesadaran itu tidak datang begitu saja. Mengelola bank sampah sekolah ternyata bukan perkara mudah di awal. Meski diakui tidak mudah pada awal pelaksanaannya, para siswa kini mulai terbiasa dan justru merasa memiliki tanggung jawab terhadap program tersebut
Siswa OSIS Divisi Adiwiyata
"Awal-awal itu merasa berat, step-stepnya panjang. Tapi lama-lama terbiasa. Tanggung jawabnya juga berat dan juga termasuk amal kita. Serta membantu mengondisikan siswa-siswi yang lain untuk kegiatan Adiwiyata, seperti memilah sampah dan lain-lain."
Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang sedang melaksanakan program asistensi mengajar. Kehadiran mahasiswa tidak hanya sebagai pengamat, tetapi juga ikut berpartisipasi langsung dalam proses pengumpulan dan pemilahan sampah bersama siswa. Mereka yang sedang menjalani program penempatan di madrasah ini tidak hanya berkiprah di dalam kelas, tetapi juga ikut turun tangan setiap Sabtu mendampingi proses pemilahan, memastikan plastik terpilah dengan benar, dan belajar langsung bagaimana pendidikan karakter bisa berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan yang produktif.
Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan ini turut memperkuat sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan sekolah. Selain memberikan pengalaman langsung di lapangan, keterlibatan ini juga menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pendidikan berbasis lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Madrasah Al Hikam menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter peduli lingkungan. Program sederhana seperti memilah dan menimbang sampah terbukti mampu menanamkan nilai tanggung jawab, kesadaran ekologis, serta kebiasaan hidup bersih.
Langkah kecil ini menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Dengan konsistensi dan kolaborasi, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan.