Bullying masih kerap dianggap sebagai candaan di lingkungan sekolah, padahal dampaknya bisa memengaruhi kondisi psikologis anak dalam jangka panjang. Berangkat dari kondisi tersebut, KKM Samudaya 107 melaksanakan program sosialisasi anti-bullying di SDN Gunungsari pada 23 Januari 2026 sebagai upaya membangun kesadaran sejak dini mengenai pentingnya lingkungan belajar yang aman dan saling menghargai.
Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan partisipatif agar siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Dengan begitu, pesan yang disampaikan diharapkan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sosialisasi diawali dengan ice breaking yang bertujuan menciptakan suasana santai dan menyenangkan. Mahasiswa KKM Samudaya 107 mengajak siswa berinteraksi melalui permainan ringan agar rasa canggung berkurang. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan siswa terlihat lebih terbuka untuk berpartisipasi. Tahap ini menjadi bagian penting karena topik bullying termasuk isu yang sensitif. Dengan suasana yang nyaman, siswa lebih siap mengikuti sesi sosialisasi berikutnya.
Setelah suasana mencair, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai bullying. Materi mencakup pengertian bullying, bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, serta dampaknya bagi korban maupun pelaku. Penyampaian dilakukan dengan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa SDN Gunungsari.
Dalam sesi ini, KKM Samudaya 107 menekankan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ejekan, pengucilan, maupun perkataan yang melukai perasaan. Siswa diajak untuk lebih peka terhadap perilaku tersebut.
Sebagai penutup, kegiatan dilengkapi dengan sesi refleksi diri menggunakan sticky notes. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk menuliskan perasaan, keresahan, atau pengalaman yang pernah dialami, termasuk jika pernah menjadi korban bullying. Siswa juga dapat menuliskan pesan positif untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman. Sticky notes kemudian ditempelkan pada papan refleksi yang telah disediakan. Tanpa mencantumkan identitas, tulisan-tulisan tersebut menjadi ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan diri secara jujur.