3 months ago

Cegah Perundungan Sejak Dini melalui Edukasi Anti-Perundungan, Mahasiswa KKM 38 UIN Malang Gelar Sosialisasi Stop Bullying di SDN Wonomulyo II

Header Image
IRENE HEVY OCTAVIA

230503110061 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.38

MALANG – Bullying masih menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dalam lingkungan pendidikan dasar. Perilaku perundungan tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat mengganggu proses belajar, relasi sosial, hingga pembentukan karakter anak. Berangkat dari kepedulian terhadap pentingnya menciptakan ruang belajar yang aman dan sehat, Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 38 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying di SDN Wonomulyo II.



Kegiatan edukatif ini dilaksanakan pada jam sekolah dan diikuti oleh siswa SD dengan antusias. Sosialisasi dirancang sebagai upaya preventif sekaligus edukatif, agar peserta didik mampu mengenali bentuk-bentuk bullying sejak dini serta memahami pentingnya sikap saling menghargai dalam interaksi sehari-hari. Dalam konteks pendidikan karakter, kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan nilai moral, empati, dan tanggung jawab sosial di lingkungan sekolah.



Dalam penyampaian materi, mahasiswa menjelaskan bahwa bullying dapat muncul dalam berbagai bentuk. Tidak hanya perundungan fisik seperti memukul atau mendorong, tetapi juga bullying verbal seperti mengejek, memanggil dengan julukan yang merendahkan, serta bullying sosial yang terjadi melalui pengucilan atau mengajak teman lain untuk tidak bergaul dengan seseorang. Mahasiswa menekankan bahwa tindakan yang terlihat “sepele” dan dianggap candaan pun dapat menjadi bullying apabila dilakukan berulang dan membuat orang lain merasa takut, tertekan, atau tidak nyaman.



Selain mengenalkan jenis-jenis bullying, mahasiswa juga menyampaikan dampak yang ditimbulkan. Siswa diajak memahami bahwa bullying dapat menyebabkan korban merasa kehilangan kepercayaan diri, takut datang ke sekolah, bahkan mengalami stres berkepanjangan. Di sisi lain, pelaku bullying juga dapat terbentuk menjadi pribadi yang agresif dan sulit mengontrol emosi apabila tidak mendapatkan pembinaan sejak awal. Karena itu, sosialisasi ini menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang ramah anak, inklusif, dan bebas dari kekerasan.



Sesi sosialisasi berlangsung secara komunikatif. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi satu arah, tetapi juga membuka ruang diskusi agar siswa dapat menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka. Respon peserta terlihat aktif, termasuk ketika siswa diminta menyebutkan contoh perilaku bullying yang pernah mereka lihat di lingkungan sekitar. Melalui diskusi tersebut, siswa mulai memahami batasan antara bercanda yang sehat dengan tindakan yang dapat menyakiti orang lain.



Sebagai bagian dari penguatan refleksi, mahasiswa mengajak siswa menuliskan ungkapan, pesan moral, serta harapan mereka tentang sekolah yang aman dan nyaman. Hasil tulisan tersebut kemudian dirangkai dalam bentuk media kreatif berupa “pohon harapan”, yang menjadi simbol komitmen bersama untuk saling menjaga, saling menghormati, dan berani menolak bullying. Metode ini dipilih karena mampu mendorong siswa mengekspresikan nilai-nilai positif secara sederhana, namun bermakna.



Mahasiswa juga menekankan langkah-langkah pencegahan dan pelaporan bullying. Siswa diberikan pemahaman bahwa tindakan bullying tidak boleh didiamkan. Apabila melihat atau mengalami perundungan, siswa didorong untuk segera melapor kepada guru, wali kelas, atau pihak sekolah yang dipercaya. Sosialisasi ini sekaligus menanamkan keberanian untuk berkata “tidak” terhadap perundungan, serta membangun solidaritas antar teman agar tidak menjadi penonton yang membiarkan kekerasan terjadi.



Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 38, Kivah Aha Putra, M.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi Stop Bullying merupakan bagian penting dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung pendidikan karakter di sekolah dasar. Menurut beliau, pengabdian mahasiswa KKM tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi juga pada dampak edukatif yang nyata dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk dunia pendidikan.



Beliau menilai, edukasi anti-bullying sejak dini menjadi langkah strategis untuk membentuk generasi yang lebih berempati, menghargai perbedaan, serta mampu membangun relasi sosial yang sehat. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi ruang belajar yang tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga membangun karakter dan integritas peserta didik.



Melalui sosialisasi ini, Mahasiswa KKM 38 UIN Malang berharap tercipta lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan meningkatnya pemahaman siswa tentang bullying serta pentingnya saling menghargai, nilai-nilai anti-kekerasan diharapkan dapat tumbuh menjadi budaya bersama di SDN Wonomulyo II.