Desa Pakiskembar, yang terletak di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, mungkin tampak seperti pedesaan pada umumnya di Jawa Timur. Namun dibalik desa yang asri tersebut terdapat industri kecil (home industry) di dusun Jambon desa pakiskembar yaitu pembuatan tusuk sate, yang telah memasok kebutuhan lokal hingga merambah ke luar kota. Industri ini bukan sekedar usaha sampingan, melainkan urat nadi ekonomi yang menghidupkan ratusan kepala keluarga di sana.
Pak Yeto pengusaha tusuk sate di Pakiskembar yang memulai usahanya sejak tujuh tahun lalu. Awalnya, pembuatan tusuk sate dilakukan secara manual dengan alat seadanya, namun seiring berjalannya waktu pak Yeto mulai beralih ke mekanisasi dan mengimpor alat dari Thailand sehingga dapat membantu mempermudah pekerja dalam bekerja.
Dengan banyaknya permintaan pasar terutama dari pedagang sate ayam, sate kambing, hingga jajanan kekinian seperti froozen food dan cilok. Pak Yeto berinisiatif untuk membuat mesin sendiri dengan mempertimbangkan pengeluaran anggaran dalam pembelian mesin poles impor dengan membuat mesin poles sendiri.
Keberhasilan tusuk sate pak yeto terletak pada keuletannya dalam mempromosikan tusuk sate miliknya dan tidak luput dengan pemilihan bahan baku serta ketelitian prosesnya.
Industri tusuk sate ini menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusf. Tidak hanya pemilik usaha yang diuntungkan, tetapi juga warga sekitar melalui sistem padat karya. Banyak ibu rumah tangga di dusun jambon yang mengisi waktu luan mereka dengan membantu proses penyortiran dan pengemasan. Pekerjaan ini memungkinkan mreka tetap berada di rumah sambil mendapatkan penghasila tambahan untuk membantu biaya sekolah anak atau kebutuhan dapur.
Industri ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah desa mampu mandirisecara ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya alam dan kreativitas. Meskipun terlihat sederhana, tusuk sate adalah komponen penting dalam kuliner Indonesia yang tak lekang oleh waktu. (Redaksi Sadyacara kel.80 KKM UIN MALANG)