Kalau ada yang tanya, "Gimana KKN di Banyuwangi kemarin?" jawaban saya pasti cuma satu, yaitu Campur aduk. Tapi kalau ditanya momen apa yang paling nggak bisa dilupakan, ingatan saya pasti langsung lari ke sebuah sekolah di ujung Pesanggaran, SDN 1 Sarongan. Di sana, saya bukan cuma mengajar, tapi justru saya yang banyak "diajar" oleh anak-anak hebat ini.
Jujur saja, perjalanan menuju Sarongan itu perjuangan. Jalanan yang menantang dan jauh dari hiruk-pikuk kota sempat bikin saya mikir, "Bisa nggak ya saya bertahan di sini?" Setiap pagi, rasa lelah karena kurang tidur mendadak hilang tiap kali melihat senyum lebar anak-anak di depan gerbang. Mereka nggak butuh fasilitas mewah untuk semangat sekolah. Melihat mereka lari-larian dengan seragam yang mungkin nggak selalu licin disetrika, tapi dengan binar mata yang tulus, itu rasanya seperti disuntik energi tambahan.
Selama di kampus, saya belajar teori pendidikan, cara bikin laporan keuangan, dan tentang Perusahaan, sesuailah dengan jurusan saya. Tapi di SDN 1 Sarongan, saya belajar hal-hal yang jauh lebih penting. Mengajar satu kelas yang isinya anak-anak super aktif itu butuh stok sabar yang nggak habis-habis. Tapi di balik "kenakalan" mereka, sebenarnya mereka cuma ingin diperhatikan. Bahagia di sana itu sesederhana diajak main bola bareng di lapangan yang berdebu, atau saat mereka berebut ingin salim tangan kita saat pulang sekolah. Anak-anak Sarongan punya cara unik buat bilang terima kasih. Kadang lewat surat kecil yang tulisannya miring-miring, atau bahkan main ke posko dengan membawa makanan untuk kami.
Dan momen paling berat adalah hari perpisahan. Melihat mereka sedih karena kami harus kembali ke kota masing-masing membuat saya sadar kalau pengabdian ini bukan sekadar tugas kuliah. Ada ikatan emosional yang tertinggal di sana. Saya pulang membawa oleh-oleh yang lebih berharga dari sekadar nilai A di transkrip nilai. Saya pulang dengan hati yang lebih penuh. Terima kasih SDN 1 Sarongan, terima kasih bapak/ibu guru yang luar biasa dedikasinya, dan terima kasih adik-adikku yang sudah mengajarkan saya arti bersyukur di tengah keterbatasan. Sarongan mungkin jauh di peta, tapi akan selalu punya tempat khusus di ingatan saya.