Mahasiswa Kelompok 88 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan edukatif ke sentra produksi Kerupuk Samiler di Dusun Pohkecik, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Kerupuk Samiler yang menjadi ikon kuliner khas Desa Sukolilo ini tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga merupakan sumber mata pencaharian utama bagi puluhan keluarga di dusun tersebut.
Kerupuk Samiler: Warisan Kuliner Sejak 1997
Kerupuk Samiler adalah salah satu jenis kerupuk yang dibuat dari bahan baku singkong dengan tambahan bumbu seperti bawang putih, daun bawang, garam, dan penyedap. Bentuknya yang bulat pipih dan cita rasanya yang gurih khas menjadikan kerupuk ini berbeda dari kerupuk singkong pada umumnya.
Kerupuk yang menjadi salah satu ciri khas Desa Sukolilo ini mulai diproduksi antara tahun 1997-1998 yang terpusat di Dusun Pohkecik. Dari awal yang sederhana, usaha ini terus berkembang pesat. Rumah produksi yang awalnya hanya berjumlah 3 tempat berkembang menjadi 20 rumah produksi sehingga membuka banyak lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Proses Produksi yang Sederhana namun Menghasilkan
Para mahasiswa berkesempatan melihat langsung seluruh tahapan produksi Kerupuk Samiler. Prosesnya dimulai dari pemilihan singkong berkualitas, pengupasan dan pencucian bersih, kemudian pemarutan menggunakan mesin hingga halus. Adonan singkong parut kemudian dibumbui dengan bawang putih yang diulek, garam, penyedap rasa, dan irisan daun bawang untuk menambah aroma khas.
Setelah semua bahan tercampur rata, adonan dipipihkan di atas cetakan bulat, lalu dikukus hingga matang dan berubah warna menjadi kecoklatan. Tahap selanjutnya adalah penjemuran di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Kerupuk mentah yang sudah kering siap untuk digoreng atau dijual dalam bentuk mentah.
Harga Terjangkau, Keuntungan Menjanjikan
Salah satu daya tarik Kerupuk Samiler adalah harganya yang sangat terjangkau. Harga kerupuk Samiler yaitu Rp 5.000 per bungkus (isi 12/sudah matang), untuk yang dijual mentah harganya 1 kg Rp 17.000 (harga bisa berubah tergantung bahan tambahan seperti kurang manis atau asin), tergantung pesenan pembeli.
Meskipun dijual dengan harga murah, keuntungan yang diperoleh produsen cukup menjanjikan karena volume penjualan yang tinggi. Salah satu produsen, Bu Winarti, menuturkan: "Mulai damel jam 9 paling sampai jam 3. Bikinnya 1 kwintal lebih, jadinya 30kg sampai 35 kg". Artinya, dalam satu hari produksi dari 100 kg singkong bisa menghasilkan 30-35 kg kerupuk mentah.
Modal Kecil, Pasar Luas
Yang menarik dari usaha Kerupuk Samiler adalah modalnya yang relatif terjangkau. Bu Roidah (Bu Ida) menjelaskan, ia memilih membuka usaha kerupuk Samiler karena biaya produksi yang lebih murah, selain itu ia menuturkan bahwa singkong sebagai bahan pokok pembuatan kerupuk Samiler juga dapat diutang dari pengepul singkong. Sistem utang bahan baku ini sangat membantu para pengusaha kecil yang modalnya terbatas.
Pasar Kerupuk Samiler juga sudah sangat luas. Kerupuk Samiler mulai familiar sekitar tahun 2000-an. Permintaan pembeliannya pun sudah mulai banyak dari tahun ke tahun. Tidak hanya masyarakat sekitar desa, peminat kerupuk ini juga sudah merembet ke berbagai daerah di Jawa Timur dan sekitarnya.
Kunci Sukses: Kualitas dan Rasa Khas
Salah satu alasan kerupuk ini banyak digemari oleh masyarakat adalah karena harganya yang sangat terjangkau dan rasanya yang khas karena diolah dengan bumbu-bumbu spesial yang alami tanpa tambahan pengawet. Keaslian rasa dan pengolahan tradisional menjadi nilai jual utama yang membedakan Samiler Sukolilo dengan produk serupa dari daerah lain.
Bu Winarti yang merupakan produsen generasi kedua menceritakan bahwa usaha kerupuk Samiler sudah menjadi warisan turun temurun. Ia melanjutkan usaha yang dirintis keluarganya dan kini memiliki pelanggan tetap. Loyalitas pelanggan ini menunjukkan kualitas produk yang konsisten dari waktu ke waktu.
Pembelajaran dan Rencana Pengembangan
Para mahasiswa Kelompok 88 tidak hanya mengamati, tetapi juga ikut membantu beberapa tahapan produksi seperti membentuk adonan, menjemur kerupuk, hingga membantu memperbaiki estetika tempat produksi. Mereka juga berdiskusi dengan para produsen tentang tantangan yang dihadapi, seperti persaingan pasar, fluktuasi harga bahan baku, dan pentingnya diversifikasi produk.
"Kami sangat kagum dengan semangat ibu-ibu yang memproduksi Kerupuk Samiler. Dengan modal kecil dan teknologi sederhana, mereka mampu menciptakan produk yang berkualitas dan memiliki pasar luas. Kami berencana membantu dalam hal branding dan promosi digital agar Kerupuk Samiler Sukolilo semakin dikenal," ungkap salah satu anggota Kelompok 88.
Beberapa ide program yang muncul antara lain pembuatan konten promosi di media sosial, pendampingan kemasan yang lebih menarik dan higienis, pembuatan label produk yang informatif, dan pengenalan varian rasa baru untuk menarik segmen pasar yang lebih luas.
UMKM Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan
Kerupuk Samiler menjadi sumber penghasilan utama bagi pelaku UMKM yang berada di Dusun Pohkecik, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Meski terbilang usaha kecil, tapi produksi kerupuk Samiler mampu membuka lapangan kerja untuk masyarakat sekitar.
Keberhasilan UMKM Kerupuk Samiler di Pohkecik menunjukkan bahwa usaha berbasis komunitas dengan produk lokal yang berkualitas dapat menjadi solusi ekonomi yang berkelanjutan. Dengan dukungan promosi yang lebih baik dan pengemasan yang menarik, potensi pengembangan Kerupuk Samiler masih sangat besar.
Kegiatan kunjungan ini merupakan bagian dari program studi potensi ekonomi lokal Kelompok 88 KKM. Melalui pemahaman langsung tentang dinamika UMKM seperti Kerupuk Samiler, mahasiswa diharapkan dapat merumuskan program pendampingan yang tepat sasaran untuk meningkatkan daya saing produk lokal Desa Sukolilo.
Program KKM Kelompok 88 di Desa Sukolilo akan berlangsung hingga 4 Februari 2026, dengan harapan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan UMKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.