Malang, Minggu 1 Februari 2026. Mahasiswa KKM Kelompok 22 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, mengikuti perpisahan terakhir di yayasan Abu Al-Yatama Masjid Agung Jami' Malang.
Di bawah naungan kokohnya menara Masjid Agung Jami’ Malang, sebuah pertemuan yang diawali dengan niat tulus harus sampai pada titik perpisahan. Malam itu, Mahasiswa KKM Kelompok 22 berkumpul di aula Yayasan Yatim Piatu Abu Al Yatama untuk mengikuti agenda Salam Perpisahan. Suasana yang biasanya riuh dengan canda tawa saat jam belajar, seketika berubah menjadi sunyi yang dibalut keharuan mendalam.
Bagi mahasiswa Kelompok 22, Abu Al-Yatama bukan sekadar lokasi pengabdian formal. Tempat ini telah menjadi rumah kedua yang mengajarkan mereka tentang arti hidup yang sesungguhnya. Selama masa KKM, para mahasiswa tidak hanya datang untuk mengajar, tetapi mereka justru banyak "belajar" dari ketegaran adik-adik yatim dalam menjalani hari tanpa sosok orang tua di sisi mereka.
Dalam sambutan yang disampaikan dengan nada tertahan, ketua kelompok mengungkapkan bahwa setiap detik yang dilewati bersama adik-adik di Abu Al Yatama adalah pelajaran tentang rasa syukur. "Kami datang membawa sedikit ilmu, namun kami pulang membawa sejuta pelajaran tentang kesabaran dari kalian," ucapnya di depan pengasuh dan anak-anak asuh yang tampak berkaca-kaca.
Acara perpisahan ini diwarnai dengan penayangan video singkat yang merangkum perjalanan Kelompok 22 di yayasan Abu Al-Yatama. Gelak tawa sempat pecah saat melihat foto-foto kegiatan belajar yang lucu, namun suasana kembali syahdu saat sesi penyampaian kesan dan pesan. Perwakilan dari anak-anak Abu Al-Yatama memberikan surat kecil yang mereka tulis tangan, sebuah tanda kasih sederhana yang bagi mahasiswa nilainya jauh melebihi materi apa pun.
Puncak haru terjadi saat sesi bersalaman. Tidak ada lagi jarak antara "mahasiswa" dan "anak panti"; yang ada hanyalah pelukan hangat antara kakak dan adik yang telah terikat secara emosional. Isak tangis tak lagi terbendung saat adik-adik kecil itu memegang erat tangan para mahasiswa, seolah tidak rela melepas kakak-kakak yang selama ini menjadi teman bermain dan pelindung mereka.
Pengasuh Yayasan Abu Al-Yatama, dalam pesan penutupnya, mengingatkan bahwa pengabdian ini boleh berakhir secara singkat, namun silaturahmi adalah ibadah yang tak mengenal batas waktu. Beliau mengapresiasi segala bantuan, mulai dari pendampingan belajar hingga bantuan operasional yang telah diberikan mahasiswa. Beliau berharap, langkah kaki mahasiswa KKM Kelompok 22 menuju kesuksesan di masa depan senantiasa diberkahi karena doa-doa tulus dari anak-anak yatim yang mereka cintai.
Sebagai penutup, dilakukan penyerahan cinderamata dan foto bersama di ruang rapat masjid yang ikonik. Foto itu bukan sekadar gambar, melainkan bukti bahwa mereka pernah menjadi satu keluarga besar dalam satu tarikan napas pengabdian.
Mahasiswa KKM Kelompok 22 melangkah keluar dari gerbang Masjid Agung Jami’ dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa sedih karena harus berpisah, namun ada rasa bangga karena telah berhasil menyelesaikan tugas dengan cara yang paling manusiawi: yaitu dengan mencintai. Perpisahan di Abu Al-Yatama ini bukanlah titik akhir, "melainkan sebuah babak baru bagi setiap mahasiswa untuk menjadi pribadi yang lebih peka dan peduli terhadap kemanusiaan di mana pun mereka berada".

.jpeg)






