3 months ago

Di Balik Doa dan Kebersamaan: Adat Khitan di Desa Ngadas

Header Image
BILQIS NAILA AZZAHRO

230501110064 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.94

Desa Ngadas yang terletak di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, dikenal sebagai salah satu desa adat di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Berada di wilayah pegunungan dengan udara sejuk dan panorama alam yang indah, Desa Ngadas tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang masih terjaga hingga kini. Salah satu tradisi yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat adalah upacara khitanan.



Sebelum proses khitan dilakukan secara medis oleh tenaga kesehatan, masyarakat Desa Ngadas terlebih dahulu melaksanakan rangkaian ritual adat yang dikenal sebagai khitan adat. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam upacara khitanan karena mengandung nilai spiritual dan adat yang diwariskan secara turun-temurun.



Salah satu ritual utama sebelum khitan adat adalah banten manten. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu masyarakat Desa, banten manten merupakan ritual persiapan adat yang dilakukan sebelum anak menjalani khitan. Ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan, kelancaran, serta perlindungan bagi anak yang akan memasuki fase baru dalam kehidupannya.



Pelaksanaan banten manten dipimpin oleh romo dukun, yaitu tokoh adat yang memiliki peran penting dalam menjaga dan menjalankan tradisi masyarakat Desa Ngadas. Dalam ritual ini, romo dukun memimpin doa-doa adat dan mengatur tata cara pelaksanaan sesuai dengan aturan leluhur. Kehadiran romo dukun menandai bahwa prosesi yang dijalankan telah sah secara adat.



Setelah banten manten selesai dilaksanakan, barulah prosesi khitan adat dilakukan. Khitan adat menjadi simbol kesiapan anak, baik secara lahir maupun batin, sebelum menjalani khitan secara medis. Pada proses ini dilakukan oleh dukun khitan, yang mana beliau juga memberikan doa dan nasihat adat kepada anak dan keluarga, sebagai pengingat akan tanggung jawab serta nilai-nilai kehidupan yang harus dijalani setelah di khitan.



Usai rangkaian khitan adat, barulah anak menjalani proses khitan oleh dokter. Meskipun dilakukan secara modern dan medis, masyarakat Desa Ngadas tetap memandang bahwa prosesi adat yang mendahuluinya memiliki peran yang tidak kalah penting. Hal ini menunjukkan adanya keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman dalam kehidupan masyarakat desa.



Setelah seluruh rangkaian selesai, keluarga biasanya mengadakan hajatan sebagai ungkapan rasa syukur. Warga sekitar diundang untuk berdoa bersama dan menikmati hidangan yang disiapkan. Momen ini menjadi penutup rangkaian upacara sekaligus wujud kebersamaan dan solidaritas sosial masyarakat Desa Ngadas.