Selama kegiatan KKM, salah satu hal yang paling menarik buat saya bukan hanya kegiatan kesehatan seperti senam atau edukasi, tapi juga interaksi dengan calon jamaah haji (CJH) yang ternyata sangat akrab dan curious dengan kami.
CJH yang kami dampingi adalah orang yang terbuka dan senang bercerita. Suatu hari, beliau bercerita tentang pengalaman keluarganya saat masa pandemi COVID-19. Menurut cerita beliau, saat itu bukan hanya dirinya yang terkena COVID-19, tetapi juga beberapa anggota keluarganya. Awalnya kondisi keluarganya di rumah terlihat baik-baik saja. Namun setelah dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan suntikan (terapi), sekitar 5–6 jam kemudian keluarga beliau meninggal dunia.
Lalu beliau bertanya kepada kami dengan nada serius,
“Ini saya benar-benar bertanya ya… kenapa kok bisa seperti itu?”
sebagai mahasiswa semester 5 yang masih belajar, saya sempat panik dalam hati. Saya ingin menjawab dengan cara yang tetap ilmiah, tetapi tidak menyinggung perasaan beliau, apalagi karena ini menyangkut pengalaman kehilangan keluarga.
Akhirnya saya menjelaskan dengan hati-hati bahwa pandemi COVID-19 terjadi sangat cepat dan dalam waktu yang relatif singkat, sekitar tiga tahun. Pada masa itu, angka kematian juga meningkat dengan cepat, sehingga tenaga kesehatan harus mengambil keputusan terapi dalam waktu yang cepat pula. Padahal, pengembangan obat idealnya membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa mencapai 5–10 tahun sampai benar-benar terbukti aman dan efektif.
Saya juga menyampaikan bahwa terapi yang diberikan saat itu kemungkinan adalah obat atau tindakan yang pada masa tersebut dianggap bisa membantu meringankan COVID-19 berdasarkan pengetahuan medis yang tersedia saat itu. Namun, respons tubuh tiap orang bisa berbeda-beda, tergantung kondisi awal pasien, tingkat keparahan penyakit, komorbid, serta daya tahan tubuhnya. Jadi, efek dari terapi bisa berbeda pada setiap individu.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa pertanyaan seperti ini sangat mungkin sering muncul di masyarakat, baik sekarang maupun nanti ketika kami sudah menjadi tenaga kesehatan. Oleh karena itu, kami perlu belajar menjelaskan informasi medis dengan jelas, dapat dipahami, tetap ilmiah, dan yang paling penting disampaikan dengan hati-hati agar tidak menyinggung pasien maupun siapa pun yang sedang mengalami kehilangan atau trauma.