3 months ago

Edukasi Anti-Bullying untuk Siswa MI Al Hidayah oleh KKM 35 Pandareka

Header Image
NAJWA NAILA KHARISMA CITRA

230302110155 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.35

Tawa anak-anak terdengar riuh di halaman MI Al Hidayah pada pertengahan Januari lalu. Di balik keceriaan itu, tersimpan satu realitas yang tidak selalu terlihat, bullying atau perundungan masih sering terjadi di lingkungan sekolah tanpa disadari. Berangkat dari kepedulian tersebut, Kelompok 35 Pandareka KKM UIN Malang mengadakan kegiatan sosialisasi Stop Bullying sebagai upaya menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya saling menghargai.



 



Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, yaitu pada tanggal 12, 13, dan 14 Januari, dengan sasaran siswa kelas 4, 5, dan 6 MI Al Hidayah. Di tingkatan kelas tersebut merupakan fase penting dalam pembentukan karakter, sehingga edukasi mengenai bullying menjadi sangat relevan untuk diberikan.



 



Kegiatan dikemas dalam bentuk penyampaian materi secara interaktif. Anak-anak diajak berdiskusi ringan dan terlibat aktif melalui sesi tanya jawab. Pertanyaan sederhana seperti, “Apakah mengejek teman termasuk bullying?” ternyata memancing banyak respon dan cerita dari peserta.



 



Dalam sosialisasi ini, siswa dikenalkan pada pengertian bullying sebagai tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Mereka juga diajak memahami bahwa bullying tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga bisa hadir melalui kata-kata maupun sikap.



 



Kami menjelaskan tiga bentuk bullying yang sering terjadi:



Bullying fisik, seperti mendorong, menendang, atau menyakiti secara langsung.



Bullying verbal, seperti mengejek, menghina, atau memberi julukan yang tidak baik.



Bullying mental atau psikologis, seperti mengucilkan teman atau membuatnya merasa malu dan tidak dihargai.



 



Ketika contoh-contoh tersebut disampaikan, beberapa siswa terlihat mulai memahami bahwa candaan berlebihan atau ejekan yang dianggap biasa ternyata bisa melukai perasaan teman.



 



Dalam sesi diskusi, siswa juga diajak memahami dampak dari bullying. Tidak sedikit yang terkejut ketika mengetahui bahwa perundungan dapat menyebabkan seseorang kehilangan rasa percaya diri, sulit berkonsentrasi saat belajar, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Melalui penjelasan sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka, siswa mulai menyadari bahwa tindakan kecil yang dianggap sepele bisa meninggalkan luka yang mendalam.



 



Selama tiga hari pelaksanaan, antusiasme siswa terasa begitu kuat. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengangkat tangan untuk berbagi pengalaman, bahkan berani mengungkapkan perasaan mereka. Momen-momen tersebut menjadi bagian paling berkesan dalam kegiatan ini.



 



Bagi kami, Kelompok 35 Pandareka, kegiatan ini bukan sekadar menyampaikan materi. Ini adalah proses belajar bersama, belajar mendengar, memahami, dan membangun empati.



 



Seluruh anggota kelompok terlibat mulai dari penyusunan materi, pembagian tugas penyampaian, hingga mendampingi siswa selama diskusi berlangsung. Kerja sama tim dan dukungan dari pihak sekolah menjadi faktor penting dalam kelancaran kegiatan ini.



 



Dari kegiatan ini, kami menyadari bahwa edukasi mengenai bullying perlu dilakukan secara berkelanjutan. Masih ada siswa yang belum memahami batas antara bercanda dan menyakiti. Namun, langkah kecil yang dimulai dari ruang kelas MI Al Hidayah ini menjadi awal yang berarti.



 



Kami berharap, setelah mengikuti sosialisasi ini, siswa kelas 4, 5, dan 6 MI Al Hidayah dapat lebih peduli terhadap perasaan teman, berani berkata tidak pada tindakan perundungan, serta tidak ragu untuk berbicara jika mengalami atau menyaksikan bullying. Karena sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar, bertumbuh, dan bermimpi.