SDN Kalikatir, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto Kesadaran akan pentingnya mengonsumsi makanan sehat harus dipupuk sejak dini agar anak-anak tidak terjebak dalam bahaya jajanan sembarangan. Memahami hal tersebut, mahasiswa KKM Kelompok 183 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan sosialisasi dan uji keamanan pangan di SDN Kalikatir pada Jum'at dan Sabtu (09-10/01/2026). Kegiatan ini dirancang secara terstruktur dan berlangsung kondusif di dalam ruang kelas masing-masing, sehingga materi yang disampaikan dapat diserap dengan maksimal oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
Pada hari pertama Jum'at, 9 Januari 2026 kegiatan difokuskan bagi siswa kelas rendah, yakni kelas 1, 2, dan 3. Mahasiswa masuk ke setiap kelas untuk memberikan pemahaman dasar mengenai ciri-ciri makanan sehat dan tidak sehat melalui media visual yang menarik. Dengan suasana yang tenang namun antusias, anak-anak diajarkan untuk lebih waspada terhadap jajanan yang memiliki warna terlalu mencolok atau rasa yang terlalu gurih. Pendekatan di dalam kelas ini memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih personal antara mahasiswa dan siswa, sehingga pesan mengenai pola makan sehat tersampaikan dengan baik.
Memasuki hari kedua Sabtu, 10 Januari 2026, giliran siswa kelas 4, 5, dan 6 yang mendapatkan edukasi. Berbeda dengan hari sebelumnya, materi untuk kelas tinggi ini disusun dengan penjelasan yang lebih mendalam mengenai dampak jangka panjang dari penggunaan bahan kimia pada makanan. Siswa diajak berdiskusi secara aktif mengenai kebiasaan jajan mereka di luar sekolah. Suasana belajar di masing-masing kelas tetap terjaga kondusif karena mahasiswa menggunakan metode penyampaian yang santai namun tetap sarat akan muatan ilmiah yang mudah dipahami oleh anak usia sekolah dasar.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah praktik langsung pengujian zat berbahaya pada jajanan yang sering ditemui di lingkungan sekitar sekolah. Tim KKM 183 membawa sampel makanan yang diambil bukan dari kantin sekolah, melainkan dari pedagang luar, yaitu bakso, tempura, dan mie instan. Pengambilan sampel ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata kepada siswa bahwa risiko kontaminasi bahan tambahan pangan berbahaya justru sering kali muncul dari jajanan yang tidak diawasi oleh standar kebersihan sekolah.
Dalam uji coba tersebut, mahasiswa mendemonstrasikan cara mendeteksi boraks menggunakan ekstrak kunyit. Siswa di tiap kelas diajak mengamati bagaimana cairan kunyit berubah warna menjadi merah pekat saat bereaksi dengan sampel yang mengandung boraks. Selain itu, untuk pengujian formalin, mahasiswa memanfaatkan bahan alami berupa ekstrak kulit buah naga. Jika warna ungu alami dari kulit buah naga memudar setelah dicampurkan dengan sampel bakso atau mie, maka hal tersebut menjadi indikasi kuat adanya kandungan pengawet mayat di dalam makanan tersebut.
Rangkaian kegiatan selama dua hari ini berjalan sukses dan mendapatkan apresiasi tinggi dari pihak guru SDN Kalikatir. Dengan metode yang aplikatif, para siswa kini memiliki pengetahuan baru untuk menjadi lebih selektif dalam memilih konsumsi harian mereka. Kelompok 183 KKM UIN Malang berharap melalui edukasi mandiri menggunakan bahan-bahan di dapur seperti kunyit dan kulit buah naga, siswa dapat melindungi diri mereka sendiri serta membagikan ilmu berharga ini kepada orang tua di rumah untuk mewujudkan pola hidup sehat yang berkelanjutan.