Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fase krusial dalam masa keemasan (golden age) perkembangan anak. Pada masa ini, stimulasi terbaik tidak hanya didapatkan melalui interaksi di dalam ruang kelas saja, melainkan lewat pengalaman nyata yang menyentuh panca indra mereka. Pembelajaran kontekstual luar kelas atau yang biasa dikenal sebagai outing class hadir sebagai strategi efektif untuk menjembatani teori dan realita kehidupan.
Sebagai lembaga pendidikan yang telah mengantongi Akreditasi A, KB TK Muslimat NU 2 Singosari terus berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu tinggi dan inovatif. Sekolah yang beralamat di Jl. Sidorejo No. 8, Pagentan, Singosari, Malang ini menyadari betul pentingnya mengenalkan kearifan lokal (local wisdom) kepada para peserta didik. Di bawah kepemimpinan Ibu Hj. Siti Aisyah, S.Pd., sekolah merancang sebuah agenda edukatif yang memanfaatkan kekayaan sejarah di lingkungan sekitar, yakni kawasan cagar budaya Singosari.
Kegiatan pembelajaran berbasis lingkungan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Januari 2026. Program ini dirancang secara inklusif dan masif, melibatkan seluruh siswa-siswi serta dewan guru KB TK Muslimat NU 2 Singosari. Tidak kalah penting, jalannya kegiatan ini juga didampingi penuh oleh para mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) yang bahu-membahu bersama guru kelas di masing-masing kelompok. Kehadiran tim AM ini memberikan kontribusi besar dalam memastikan rasio pendampingan anak berjalan ideal dan aman.
Sejak pagi hari, keceriaan tampak jelas dari wajah anak-anak yang tampil rapi menggunakan seragam Hijau Putih. Warna ini tidak hanya merepresentasikan identitas sekolah yang asri dan islami, tetapi juga memudahkan pemantauan visual di ruang publik. Destinasi edukasi kali ini mencakup tiga titik historis utama di wilayah Singosari, yaitu Candi Singosari, Arca Dwarapala, dan Museum Singosari.
Secara akademis, kunjungan ke situs sejarah seperti Candi Singosari, Arca Dwarapala, dan Museum Singosari memberikan stimulasi multiaspek bagi anak usia dini. Destinasi pertama dan kedua, yaitu candi dan arca raksasa Dwarapala, merangsang aspek kognitif dan fisik motorik anak. Mereka belajar mengamati bentuk geometri candi secara langsung, mengagumi ukuran fisik arca yang megah, serta berjalan mengeksplorasi area terbuka. Sementara itu, kunjungan ke Museum Singosari memberikan pemahaman yang lebih terstruktur melalui benda-benda peninggalan purbakala yang tersusun rapi di dalam etalase.
Namun, nilai paling esensial dari kegiatan outing class ini terletak pada proses internalisasi karakter, etika, dan sopan santun di ruang publik. Guru dan mahasiswa Asistensi Mengajar secara aktif memberikan pembiasaan positif kepada anak-anak selama di lokasi. Salah satunya adalah penerapan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun). Anak-anak diajak untuk menyapa dan melakukan tradisi salam-salim (mencium tangan) kepada petugas atau penjaga candi. Tindakan sederhana ini merupakan stimulasi kecerdasan interpersonal yang mengajarkan anak untuk menghargai serta menghormati setiap orang, khususnya para penjaga kelestarian sejarah.
Selain itu, aspek sosial-emosional anak juga dilatih melalui pembiasaan menjaga ketertiban. Berada di cagar budaya menuntut anak-anak untuk belajar mengendalikan diri: mereka diajarkan berjalan mengantri, tidak berlarian di area yang sakral atau berbahaya, tidak menyentuh objek secara sembarangan, serta mendengarkan instruksi guru dengan baik. Melalui pendekatan yang humanis, anak-anak memahami bahwa menjaga sikap sopan santun merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan outing class yang diselenggarakan oleh KB TK Muslimat NU 2 Singosari, dapat disimpulkan bahwa situs warisan budaya lokal sangat efektif ditransformasikan menjadi laboratorium belajar yang ramah anak. Sinergi yang baik antara Kepala Sekolah Ibu Hj. Siti Aisyah, S.Pd., para guru kelas, dan mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) menjadi kunci suksesnya kegiatan ini. Program ini berhasil membuktikan bahwa pengenalan sejarah dan penanaman karakter mulia seperti sopan santun, ketertiban, dan kemandirian dapat tumbuh subur ketika anak-anak dilibatkan langsung dalam lingkungan sosial yang nyata.