3 months ago

Gali Filosofi 'Basic Life Skill', Mahasiswa KKM UIN Malang Belajar Bersama Mbah Karjo di Kampung Dolanan

Header Image
FAHMI ZIDAN

230605110185 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.90

MALANG -- Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar pertemuan dengan budayawan Syamsul Subakri, atau yang akrab disapa Mbah Karjo, pada Rabu (24/12/2025). Bertempat di Kampung Dolanan Senggayuh, kawasan Lombok Gambir, Dusun Bodean Putuk, Desa Toyomarto, para mahasiswa berdialog langsung dengan sang maestro mengenai pelestarian nilai-nilai luhur melalui permainan tradisional.



Sosok Penjaga Tradisi Mbah Karjo dikenal luas sebagai seniman dan pengrajin wayang mendong (suket) yang karyanya telah diapresiasi hingga ke mancanegara. Kehadirannya di Kampung Dolanan Senggayuh memberikan nuansa berbeda bagi para mahasiswa untuk belajar langsung dari sumbernya mengenai kearifan lokal.



Dalam diskusi tersebut, Mbah Karjo menegaskan bahwa fokus utamanya adalah edukasi berbasis pengetahuan setempat (local knowledge), di mana permainan dan lagu-lagu masa kecil digunakan sebagai media untuk menanamkan pendidikan karakter.



Filosofi Dolan dan Dulinan Mbah Karjo mengenalkan kembali konsep dasar bermain yang sering terlupakan. Ia membedakan antara "dolan" dan "dulinan".



"Dolan itu berarti anak pergi (bergerak), kalau dulinan dia stasioner, berhenti dan memainkan alat," jelasnya.



Menurut Mbah Karjo, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menanamkan basic life skill atau keterampilan dasar hidup. Dalam bermain, anak diajarkan menghadapi realita kehidupan: ada kalanya menang, kalah, atau seri. Namun, nilai fundamental yang ditanamkan adalah integritas. "Satu hal yang tidak ditoleransi dalam permainan adalah kecurangan," tegasnya.



Kejujuran dan Kecerdasan BatinSelain ketangkasan fisik, Mbah Karjo juga menekankan pentingnya kejujuran melalui filosofi permainan "pasaran" (jual beli). Ia menggambarkan bahwa meski uang dan barang yang digunakan dalam permainan adalah mainan, namun transaksinya adalah sungguhan. Hal ini mengajarkan anak untuk memegang komitmen dan berlaku jujur sejak dini.



Lebih dalam lagi, Mbah Karjo mengajak mahasiswa menyelami konsep "Pangroso" atau indra keenam (batin). Baginya, kecerdasan tidak hanya soal intelektual, tetapi juga kepekaan hati.



"Pangroso ini melengkapi panca indra. Ini mengajarkan kita untuk mengenali perasaan orang lain, kapan mereka sedih atau senang, sehingga tumbuh rasa empati," tuturnya.



Harapan untuk Generasi Muda Melalui pertemuan di Kampung Dolanan Senggayuh ini, Mbah Karjo berharap nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang tergerus zaman. Ia mendorong mahasiswa sebagai generasi penerus untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, jujur, dan peka terhadap lingkungan sosialnya.



Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa KKM UIN Malang untuk turut serta melestarikan budaya dan mengimplementasikan filosofi-filosofi sederhana namun bermakna dalam kehidupan sehari-hari.