Desa Mulyoarjo, Lumajang - Sebuah kolaborasi apik antara mahasiswa dan masyarakat terwujud di Dusun Ampel Gading, Desa Mulyoarjo. Kelompok KKM 104 UIN Malang bersama warga setempat berhasil menyelesaikan pembangunan dinding pembatas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang dikerjakan dengan penuh semangat gotong royong selama empat hari.
Berawal dari Sowan dan Silaturahmi
Cerita ini dimulai ketika kelompok KKM 104 tiba di Desa Mulyoarjo. Seperti kebiasaan baik yang sudah mengakar dalam budaya Jawa, langkah pertama yang kami lakukan adalah melakukan sowan ke rumah Bapak RT dan RW di Dusun Ampel Gading. Sowan ini bukan sekadar formalitas, tapi menjadi momen penting untuk mendengarkan langsung apa yang dibutuhkan masyarakat.
Saat duduk bersama para sesepuh dan pengurus desa, banyak sekali masukan berharga yang kami terima. Obrolan mengalir santai namun penuh substansi, membahas berbagai persoalan yang dihadapi warga, terutama soal pengelolaan sampah di dusun tersebut. Di sinilah kami menyadari bahwa program kerja yang baik adalah program yang lahir dari kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar ide yang dipaksakan dari luar.
"Mas-mas, mbak-mbak, kalau mau bantu di sini, yang paling perlu itu pengelolaan sampahnya. TPS kita butuh pembenahan," ungkap salah satu ketua RW saat kami berdiskusi hangat di rumahnya.
Menentukan Prioritas Program
Dari diskusi panjang dengan para ketua RW, RT, dan juga pihak pengelola sampah yang ada di Dusun Ampel Gading, kami mendapat dua rekomendasi utama: pembenahan tungku pembakaran sampah dan pembuatan dinding pembatas sampah. Keduanya memang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah yang sudah ada.
Namun, setelah kami survey lebih dalam dan menghitung-hitung kebutuhan, ternyata pembuatan tungku pembakaran sampah membutuhkan proses yang cukup lama dan biaya yang lumayan tinggi. Mengingat waktu KKM yang terbatas dan budget yang harus dikelola dengan bijak, kami pun berdiskusi lagi dengan pihak desa untuk mencari solusi terbaik.
Akhirnya, kami sepakat untuk mengalihkan fokus pada pembuatan dinding pembatas TPS. Meskipun terkesan lebih sederhana, dinding pembatas ini sebenarnya sangat krusial fungsinya. Dengan adanya dinding pembatas, sampah tidak akan berserakan kemana-mana, TPS jadi lebih rapi, dan lingkungan sekitar pun lebih bersih dan nyaman dipandang mata.
Semangat Gotong Royong yang Membanggakan
Yang paling membuat kami terharu adalah ketika proses pembangunan dimulai. Kami sama sekali tidak merasa bekerja sendirian. Masyarakat Dusun Ampel Gading dan pengurus pengelola sampah benar-benar turun tangan membantu dari awal hingga akhir. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tapi juga bantuan material dan tenaga yang sangat berharga.
Bahan-bahan untuk membuat dinding pembatas, mulai dari batako, semen, pasir, hingga peralatan lainnya, banyak yang dibantu oleh warga. Bahkan ada beberapa warga yang dengan sukarela menyumbangkan material dari rumah mereka sendiri. Semangat kebersamaan ini benar-benar membuat kami merasa bahwa program ini bukan hanya milik kelompok KKM, tapi milik bersama.
Setiap hari selama empat hari pengerjaan, selalu ada warga yang datang membantu. Ada yang membawa kopi dan camilan untuk teman-teman yang sedang bekerja, ada yang ikut mengaduk semen dan menyusun batako, ada juga yang sekadar menemani sambil memberikan arahan dan tips supaya hasilnya maksimal.
"Ini namanya program yang pas, makanya masyarakat antusias. Kalau programnya sesuai kebutuhan, pasti warga akan support," kata salah satu pengurus pengelola sampah yang setiap hari menemani kami bekerja.
Suasana kekeluargaan yang terjalin selama proses pembangunan ini menjadi pelajaran berharga bagi kami sebagai mahasiswa. Bahwa pembangunan desa bukan soal datang, memberikan sesuatu, lalu pergi. Tapi tentang bagaimana kita bisa melebur bersama masyarakat, bekerja bahu-membahu, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar bermanfaat.
Hasil yang Membanggakan
Setelah empat hari bekerja keras bersama-sama, akhirnya dinding pembatas TPS selesai dibangun. Hasilnya cukup memuaskan. Dinding yang kokoh dan rapi kini berdiri tegak, membatasi area TPS dengan jelas. Sampah-sampah yang sebelumnya kerap berserakan kini bisa lebih tertata dengan baik.
Sebagai tanda bahwa ini adalah hasil kolaborasi antara mahasiswa KKM dan masyarakat, kami menuliskan "TPS Ampel Gading KKM 104 UIN Malang" pada dinding yang baru saja selesai dibangun. Bukan untuk mencari nama atau pamer, tapi sebagai kenangan dan bukti bahwa kami pernah bersama-sama bergotong royong membangun sesuatu yang bermanfaat untuk desa ini.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Terima kasih banyak untuk teman-teman mahasiswa yang sudah mau membantu desa kami. Semoga TPS ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat dan lingkungan kami jadi lebih bersih," ucap salah satu ketua RT dengan senyum lega.
Komitmen untuk Terus Berbuat Baik
Program pembangunan dinding pembatas TPS ini adalah salah satu dari sekian banyak program kerja yang akan kami laksanakan selama berada di Desa Mulyoarjo. Kami, Kelompok KKM 104 UIN Malang, berkomitmen untuk terus menjalankan program-program yang tidak hanya bagus di atas kertas, tapi benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Bagi kami, dinding pembatas TPS ini bukan sekadar tumpukan batako dan semen. Ini adalah simbol dari kolaborasi yang indah antara akademisi dan masyarakat. Kami berharap, dengan adanya dinding pembatas ini, pengelolaan sampah di Dusun Ampel Gading bisa lebih tertata. Lingkungan jadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali.
Terima kasih untuk seluruh masyarakat Dusun Ampel Gading, para ketua RT dan RW, pengurus pengelola sampah, dan semua pihak yang sudah mendukung program kami. Tanpa kalian, program ini tidak akan berjalan semulus dan semenyenangkan ini. Mari kita terus bersama-sama membangun desa yang lebih baik!
"Bersama Membangun, Bersama Berkembang" - Kelompok KKM 104 UIN Malang di Desa Mulyoarjo