Salah satu momen paling berkesan selama pelaksanaan KKM FKIK UIN Malang adalah ketika kami berkesempatan mengunjungi langsung rumah calon jamaah haji periode 2025/2026. Kunjungan ini bukan sekedar kegiatan formal, namun menjadi ruang belajar yang nyata tentang bagaimana ilmu kesehatan diterapkan secara sederhana di tengah masyarakat. Sejak langkah pertama memasuki rumah, kami disambut dengan suasana hangat, penuh kasih sayang, dan rasa kekeluargaan yang begitu terasa.
Kami duduk bersama, berbincang santai, dan saling memperkenalkan diri. Percakapan yang awalnya ringan perlahan berkembang menjadi diskusi yang bermakna tentang persiapan ibadah haji, terutama dari sisi kesehatan. Calon jamaah berbagi cerita mengenai kondisi fisik mereka, kebiasaan sehari-hari, serta upaya yang telah dilakukan untuk menjaga kesehatan menjelang keberangkatan. Dari sana, kami menyadari bahwa setiap calon jamaah memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda, sehingga pendekatan edukasi juga harus disampaikan dengan empati dan bahasa yang mudah dipahami.
Dalam kesempatan tersebut, kami memberikan edukasi kesehatan sederhana, mulai dari pentingnya menjaga pola makan, aktivitas fisik ringan, kepatuhan dalam mengonsumsi obat, hingga menjaga daya tahan tubuh. Kami juga menekankan bahwa persiapan ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan kesiapan spiritual dan administratif, tetapi juga kesiapan fisik yang optimal. Respons yang diberikan sangat positif; calon jamaah tampak antusias, aktif bertanya, dan berbagi pengalaman pribadi mereka terkait kesehatan.
Yang membuat pengalaman ini semakin berkesan adalah suasana interaksi yang begitu hangat. Tidak ada jarak antara pelajar dan masyarakat. Kami tidak hanya datang sebagai pemberi edukasi, tetapi juga sebagai pendengar yang belajar dari pengalaman hidup mereka. Tawa, cerita, dan doa yang dipanjatkan bersama menciptakan kedekatan emosional yang sulit dilupakan.
Melalui kegiatan ini, kami menyadari bahwa peran tenaga kesehatan tidak hanya berada di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, mendampingi dan memberdayakan. Rumah menjadi ruang edukasi, percakapan menjadi media pembelajaran, dan silaturahmi menjadi jembatan kepercayaan. Pengalaman ini mengajarkan kami arti penting komunikasi yang humanis, kepedulian, serta pendekatan promotif-preventif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Kunjungan ini bukan sekedar tentang menjalankan program KKM, namun tentang membangun hubungan, menumbuhkan kepedulian, dan memahami makna pengabdian secara langsung. Senyum hangat calon jamaah, doa yang mereka sampaikan, serta rasa syukur karena dapat berbagi ilmu menjadi kenangan yang akan selalu kami ingat. Dari rumah sederhana itu, kami belajar bahwa pengabdian yang tulus sering kali dimulai dari langkah kecil,menyapa, mendengar, dan hadir dengan sepenuh hati.