Matahari pagi menyapa hangat Musholla Raudhotus Sholihin yang terletak di lingkungan MI Al Hayatul Islamiyah, Kedungkandang, Malang. Jumat, 16 Maret 2025, bertepatan dengan bulan Ramadhan yang suci, menjadi saksi pertemuan istimewa antara kelompok Baromusa dan DKR Kedungkandang. Pertemuan ini bukanlah sekadar kolaborasi biasa, melainkan wujud nyata dari tema yang mereka usung: "Perbedaan Agama tidak Menghalangi Kerjasama". Terlebih lagi, DKR Kedungkandang sendiri memiliki anggota dengan latar belakang agama yang beragam, sehingga menjadikan kegiatan moderasi beragama ini semakin bermakna. Seorang guru MI Al Hayatul Islamiyah berperan sebagai jembatan penghubung antara kedua kelompok ini, memastikan bahwa kegiatan dapat berjalan dengan lancar meski bertepatan dengan agenda DKR lainnya.
Begitu mentari berada di puncak langit, semangat gotong royong semakin terasa. Tangan-tangan berbeda keyakinan bekerja bersama membersihkan setiap sudut musholla dan memperbaiki fasilitas yang rusak. Tidak ada sekat, tidak ada canggung, hanya ada keriangan dan canda tawa yang mewarnai kegiatan hingga ba'da Dzuhur. Sapu, pel, kain lap, dan peralatan perbaikan menjadi saksi bisu bagaimana perbedaan keyakinan justru memperkaya harmoni yang tercipta. Bahkan mereka yang bukan beragama Islam pun terlihat antusias membantu mempercantik rumah ibadah tersebut, membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan melampaui batasan agama.
Saat matahari mulai condong ke barat, setelah sholat Ashar, musholla yang kini bersih dan rapi menjadi tempat untuk melantunkan syair-syair indah dalam tradisi pembacaan diba maulid nabi. Menariknya, anggota DKR yang bukan Muslim pun ikut hadir, duduk dengan khidmat, menghormati tradisi keagamaan yang berbeda dengan keyakinan mereka. Ketika adzan Maghrib berkumandang, mereka yang berpuasa bersiap berbuka dengan menu sederhana yang telah disiapkan. Mauidhoh Hasanah yang disampaikan sebelum berbuka puasa menyentuh tema-tema universal tentang kasih sayang, persaudaraan, dan toleransi yang menjadi nilai inti dari setiap agama. Momen berbuka puasa diikuti dengan sholat Maghrib berjamaah, menciptakan suasana spiritual yang mendalam bagi yang melaksanakan, sementara yang berbeda keyakinan menunggu dengan penuh hormat.
Malam semakin larut, namun kehangatan persaudaraan semakin terasa. Usai menjalankan ibadah, kelompok Baromusa dan DKR Kedungkandang duduk melingkar, berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati hidangan berbuka. Perbincangan ringan namun bermakna mengalir, menyingkap betapa banyak nilai-nilai kemanusiaan yang mereka bagikan meski berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Sebelum berpisah, mereka mengabadikan momen berharga tersebut dalam sebuah foto bersama, simbol dari keberhasilan moderasi beragama yang telah mereka wujudkan. Ucapan terima kasih tulus disampaikan kepada DKR Kedungkandang atas kolaborasi yang telah membuktikan bahwa di tengah keberagaman, persatuan dan kerja sama dapat terjalin dengan indah. Kisah dari Musholla Raudhotus Sholihin ini mungkin hanyalah setitik air di samudera luas, namun cukup untuk menginspirasi masyarakat sekitar bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang, melainkan jembatan yang memperkaya harmoni kehidupan.