12 months ago

Inisiatif Edukatif KKM 313 Sumenep: Belajar Toleransi Lewat Warna

Header Image
HIKMALYANSYAH HIDAYAT

220102110115 • KKM MBKM & Pengabdian Lain • G.313

Ada yang berbeda di sore itu, di sebuah desa kecil bernama Pangarangan, Sumenep. Tak ada mimbar tinggi, tak ada seminar bertabur slide dan jargon. Yang ada hanya anak-anak, lembaran gambar tokoh agama, dan krayon warna-warni yang mereka genggam dengan antusias.



Di bawah langit yang cerah, KKM 313 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memilih untuk tak hanya hadir di tengah masyarakat akan tetapi mengakar. Bukan dengan suara keras, tapi dengan pendekatan yang lembut. Bukan dengan perintah, tapi dengan keteladanan.



Mereka menggelar Lomba Mewarnai Tokoh Agama, sebuah kegiatan sederhana namun sarat makna. Bertema moderasi beragama, lomba ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi para santri TPQ Sakinah. Di atas kertas putih itu, mereka mewarnai bukan hanya gambar, tapi juga makna keberagaman. Mereka menggambar masa depan yang damai serta saling menerima.



Karena kita tahu, keberagaman bukan sekadar fakta sosial, melainkan karunia. Dan toleransi bukan sekadar sikap, melainkan fondasi. Maka, mengajarkannya sejak dini bukan pilihan, tapi keharusan.



Salah satu panitia menyampaikan, “Kami ingin menanamkan nilai-nilai seperti saling menghargai, hidup berdampingan, dan menjauhi sikap ekstrem. Tapi caranya harus menyenangkan. Harus menyentuh dunia anak-anak.” Dan mereka melakukannya dengan cara yang tepat.



Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Ada pesan moral yang diselipkan di balik canda tawa, ada edukasi yang dibungkus dalam kesederhanaan. Bahkan pengasuh TPQ, Ustadz Fatahani, menyampaikan rasa syukurnya. “Anak-anak bisa bermain sambil belajar mengenal bahwa Indonesia ini terdiri dari banyak perbedaan, dan kita bisa hidup rukun,” katanya.



Sore itu, tak hanya pengumuman pemenang yang ditunggu-tunggu. Tapi juga penguatan nilai. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjauhan, tapi alasan untuk saling mendekat.



Karena itulah pendidikan sejati: bukan sekadar transfer ilmu, tapi penanaman nilai. Bukan hanya soal tahu, tapi soal tumbuh.


12 months ago

Inisiatif Edukatif KKM 313 Sumenep: Belajar Toleransi Lewat Warna

Header Image
ANISAH MAIMUNAH

220104110154 • KKM MBKM & Pengabdian Lain • G.313

Ada yang berbeda di sore itu, di sebuah desa kecil bernama Pangarangan, Sumenep. Tak ada mimbar tinggi, tak ada seminar bertabur slide dan jargon. Yang ada hanya anak-anak, lembaran gambar tokoh agama, dan krayon warna-warni yang mereka genggam dengan antusias.



Di bawah langit yang cerah, KKM 313 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memilih untuk tak hanya hadir di tengah masyarakat akan tetapi mengakar. Bukan dengan suara keras, tapi dengan pendekatan yang lembut. Bukan dengan perintah, tapi dengan keteladanan.



Mereka menggelar Lomba Mewarnai Tokoh Agama, sebuah kegiatan sederhana namun sarat makna. Bertema moderasi beragama, lomba ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi para santri TPQ Sakinah. Di atas kertas putih itu, mereka mewarnai bukan hanya gambar, tapi juga makna keberagaman. Mereka menggambar masa depan yang damai serta saling menerima.



Karena kita tahu, keberagaman bukan sekadar fakta sosial, melainkan karunia. Dan toleransi bukan sekadar sikap, melainkan fondasi. Maka, mengajarkannya sejak dini bukan pilihan, tapi keharusan.



Salah satu panitia menyampaikan, “Kami ingin menanamkan nilai-nilai seperti saling menghargai, hidup berdampingan, dan menjauhi sikap ekstrem. Tapi caranya harus menyenangkan. Harus menyentuh dunia anak-anak.” Dan mereka melakukannya dengan cara yang tepat.



Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Ada pesan moral yang diselipkan di balik canda tawa, ada edukasi yang dibungkus dalam kesederhanaan. Bahkan pengasuh TPQ, Ustadz Fatahani, menyampaikan rasa syukurnya. “Anak-anak bisa bermain sambil belajar mengenal bahwa Indonesia ini terdiri dari banyak perbedaan, dan kita bisa hidup rukun,” katanya.



Sore itu, tak hanya pengumuman pemenang yang ditunggu-tunggu. Tapi juga penguatan nilai. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjauhan, tapi alasan untuk saling mendekat.



Karena itulah pendidikan sejati: bukan sekadar transfer ilmu, tapi penanaman nilai. Bukan hanya soal tahu, tapi soal tumbuh.