10 months ago

Inovasi Teknologi Nuklir: International PHITS Tutorial & Kunjungan Reaktor BRIN Yogyakarta

Header Image
AL FIYATUZ ZUHROH

220604110003 • KKM MBKM • G.

Dalam dua bulan terakhir, saya berkesempatan mengikuti dua kegiatan luar biasa yang memperluas wawasan saya dalam bidang nuklir: kunjungan ke Reaktor Kartini di BRIN Yogyakarta pada bulan Mei, dan International PHITS Tutorial pada bulan Juni. Kedua pengalaman ini bukan hanya memberi pemahaman teoretis dan praktis, tetapi juga membentuk cara pandang baru terhadap pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.



Kunjungan Edukatif ke Reaktor Kartini BRIN Yogyakarta



Reaktor Kartini yang terletak di Kawasan Sains dan Edukasi (KSE) Baiquni BRIN Yogyakarta adalah reaktor riset tipe TRIGA dengan daya 100 kW. Meski kecil, reaktor ini punya peran besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan nuklir di Indonesia.



Selama kunjungan, kami mempelajari:





  • Struktur dan sistem keselamatan reaktor




  • Proses pengoperasian dan pemantauan reaktor




  • Melihat langsung kolam reaktor dengan cahaya biru khas efek Cherenkov





Kegiatan ini sangat membuka mata, karena apa yang selama ini hanya saya baca di buku atau simulasi, kini bisa saya saksikan secara nyata. Ini menjadi bukti bahwa Indonesia punya infrastruktur nuklir yang aktif dan berkembang.



International PHITS Tutorial



Sebulan setelahnya, saya mengikuti International PHITS Tutorial—pelatihan intensif menggunakan perangkat lunak PHITS (Particle and Heavy Ion Transport code System), salah satu software simulasi transportasi partikel berbasis metode Monte Carlo yang sangat populer di dunia.



Materi yang saya pelajari meliputi:





  • Dasar teori transport partikel dan mekanisme interaksi radiasi




  • Struktur input file dan pengolahan hasil simulasi




  • Studi kasus seperti shielding radiasi, distribusi dosis dalam tubuh manusia, dan desain eksperimen




  • Aplikasi PHITS di bidang medis (termasuk terapi kanker BNCT), industri, dan keamanan





Yang membuat tutorial ini istimewa adalah kehadiran pengajar profesional dari luar negeri serta peserta dari berbagai institusi—menjadikannya forum belajar yang berskala global. Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris, yang turut melatih kemampuan komunikasi ilmiah saya.



Kunjungan ke reaktor memberi saya pemahaman fisik dan visual terhadap sistem nuklir, sementara PHITS Tutorial membekali saya dengan kemampuan untuk mensimulasikan dan menganalisis berbagai fenomena radiasi secara digital. Kombinasi keduanya memberikan pemahaman menyeluruh—dari teori, simulasi, hingga praktik lapangan.



Kegiatan ini membuktikan bahwa pengembangan teknologi nuklir di Indonesia terus berjalan dan terbuka untuk generasi muda yang ingin belajar dan berkontribusi. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari proses ini—dan saya harap lebih banyak mahasiswa dan peneliti muda bisa merasakan pengalaman serupa.