Setiap tahun, umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj sebagai salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian. Perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang dilanjutkan dengan kenaikan ke Sidratul Muntaha, bukan sekadar kisah heroik tentang kecepatan dan dimensi. Di balik peristiwa spektakuler ini, tersimpan pesan mendalam tentang keseimbangan (tawazun) yang menjadi inti dari moderasi beragama.
Makna Isra’ Mi’raj: Ibadah yang Mengajarkan Keseimbangan
Isra’ Mi’raj adalah simbol harmoni antara dimensi vertikal dan horizontal. Perintah salat lima waktu yang diterima Nabi dalam peristiwa tersebut merupakan titik temu antara kebutuhan spiritual manusia dengan realitas sosial di bumi.
Dalam konteks moderasi, Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa kesalehan individu tidak boleh dipisahkan dari kesalehan sosial. Seseorang yang "naik" menemui Sang Pencipta melalui salat, harus kembali "turun" ke bumi membawa rahmat bagi sesama. Salat yang benar tidak hanya menjauhkan diri dari kekejian, tetapi juga melahirkan pribadi yang tenang, penuh empati, dan menghargai keberadaan orang lain.
Inilah esensi dari keseimbangan: kita tidak boleh terlalu ekstrem dalam mengejar urusan langit hingga melupakan kemanusiaan, dan sebaliknya.
Isra’ Mi’raj dan Moderasi: Merawat Ukhuwah dalam Keberagaman
Perjalanan Nabi dari Makkah ke Yerusalem (Isra’) melintasi batas geografis dan budaya. Masjidil Aqsa, yang menjadi titik transit, adalah tempat yang sarat sejarah bagi berbagai umat beragama. Hal ini memberikan sinyal kuat bahwa Islam hadir dalam ruang yang inklusif dan menghormati jejak kenabian sebelumnya.
Dalam kehidupan berbangsa yang majemuk, semangat Isra’ Mi’raj dapat kita terjemahkan ke dalam tiga pilar moderasi:
Komitmen Kebangsaan: Meneladani Nabi yang mencintai tanah airnya dan menghargai titik-titik suci di bumi.
Toleransi: Memahami bahwa perbedaan adalah sunnatullah. Sebagaimana langit memiliki banyak lapisan, manusia juga memiliki keragaman latar belakang.
Anti-Kekerasan: Perjalanan spiritual ini membawa pesan kedamaian. Moderasi beragama mengajak kita untuk menyelesaikan perbedaan dengan dialog, bukan dengan paksaan atau kebencian.
Merawat Persaudaraan (Ukhuwah)
Meneguhkan iman melalui Isra’ Mi’raj berarti memperkuat kembali tekad kita untuk menjadi pribadi yang "tengah-tengah" (wasathiyah). Kita diingatkan untuk merawat Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia).
Dengan memahami Isra’ Mi’raj secara substantif, kita tidak hanya merayakannya sebagai seremoni rutin. Kita menjadikannya momentum untuk melakukan "Mi’raj" mental—meninggalkan perilaku intoleran dan naik menuju derajat manusia yang membawa kedamaian bagi semesta alam (Rahmatan lil 'Alamin).