Kabut pagi masih menyelimuti udara sejuk Bumiaji ketika kami, sepuluh mahasiswa, berkumpul di titik awal. Agenda hari itu adalah pendampingan jalan sehat untuk sepasang calon jamaah haji, suami istri yang akan berangkat musim depan. Namun, mereka tidak datang sendirian. Sepasang calon haji lainnya, teman satu kelompok mereka, ikut serta. Jadilah rombongan kami berjumlah empat belas orang.
Rutenya cukup menantang: menyusuri jalanan berkelok dari Bumiaji, melewati kawasan Selecta, dan berujung di Coban Talun sebelum kembali pulang. Sebagai anak muda, kami tentu percaya diri. Sepatu hiking dan jaket sporti kami seolah menjamin ketangguhan.
Awal perjalanan lancar. Kami sambil menikmati pemandangan kebun apel dan sayur. Namun, seiring jalan menurun dan mulai landai, ritme kami justru mulai tak karuan. Napas kami cepat tersengal, lutut mulai terasa berat. Sebaliknya, keempat bapak dan ibu itu berjalan dengan langkah terukur dan stabil. Topi haji putih mereka tampak tetap rapi, wajah mereka tenang, bahkan sesekali tersenyum sambil menikmati udara pagi. Mereka berjalan bagai punya cadangan energi tak berujung, sementara kami, di usia sepertiga mereka, sudah seperti mesin tua yang reyot.
Kami terus berjalan, melewati gerbang Selecta yang masih sepi, lalu menyusuri jalan setapak menuju Coban Talun. Suara gemericik air terjun mulai terdengar, menyegarkan sekaligus menyadarkan betapa lelahnya kaki-kaki kami. Sesampainya di sana, kami langsung merebahkan diri di bebatuan dekat air terjun, menyerap keindahan alam yang menyejukkan. Keempat calon haji itu justru duduk dengan tenang, menikmati panorama sambil mungkin mengingat kebesaran Pencipta alam yang mereka akan segera kunjungi tanah suci-Nya.
Perjalanan pulang terasa lebih berat. Medan yang didominasi tanjakan membuat otot betis kami berteriak. Kami tertatih-tatih, sementara langkah mereka tetap ajek, seolah beban usia dan tanjakan tak berarti apa-apa dibanding beban rindu mereka untuk bersimpuh di depan Ka'bah. Rasa malu dan kagum bercampur dalam diri kami.
Setelah berjam-jam berjalan, akhirnya kami tiba kembali di titik awal. Tubuh kami lunglai, hanya ingin beristirahat. Namun, tiba-tiba dari dalam rumah calon haji pertama, tersiar aroma sedap yang menggugah selera. Kami diajak masuk. Sungguh di luar dugaan, di meja makan telah terhidang pesta kecil: nasi liwet hangat, ayam goreng lengkuas, sayur asem bening, sambal terasi, dan aneka lauk pendamping lainnya.
Ternyata, sang istri telah mempersiapkan semuanya sejak subuh, sebelum perjalanan kami mulai. Kami makan dengan lahap dan penuh rasa syukur. Di balik rasa lelah yang mendalam, ada pelajaran sederhana namun mendalam tentang konsistensi, persiapan, dan keramahan yang tulus. Hari itu kami kalah secara fisik, tetapi kami pulang membawa sebuah pelajaran tentang stamina sejati yang tidak diukur oleh usia, melainkan oleh keteguhan hati dan tujuan yang luhur.