3 months ago

Kajian Dhuha Spesial di Masjid At-Taqwa : Pelatihan Perawatan Jenazah Sebagai Bekal Sosial Keumatan

Header Image
ARINAL HUSNA

230201110017 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.121

Suasana Masjid At-Taqwa Perumahan Bumi Tunggulwulung Indah, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tampak lebih ramai dari biasanya pada Minggu pagi, 25 Januari 2026. Sejak pukul 07.30 WIB, jamaah mulai berdatangan satu per satu, memenuhi ruang utama masjid dengan wajah penuh antusias. Tidak hanya orang tua, tetapi juga remaja hingga anak-anak ikut meramaikan saf. Pagi itu, Masjid At-Taqwa menggelar Kajian Dhuha Spesial yang berbeda dari agenda rutin bulanan, karena dikemas dengan pelatihan praktik perawatan jenazah bertema "Fardhu Kifayah: Bekal Mengantar Kepulangan."



Kajian dhuha ini sejatinya merupakan program rutin Masjid At-Taqwa yang dilaksanakan satu bulan sekali. Namun, pelaksanaan kali ini terasa lebih istimewa karena tidak hanya berisi tausiyah, melainkan juga praktik langsung pemulasaraan jenazah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kerja mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berkolaborasi dengan takmir masjid sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.



Rangkaian acara dibuka dengan salat dhuha berjamaah. Suasana khusyuk terasa ketika jamaah berdiri sejajar dalam saf, memulai kegiatan dengan ibadah. Setelah itu, jamaah tetap berada di tempat untuk mengikuti kajian dan pelatihan yang dipandu langsung oleh pemateri, Ustadz Asep Hidayatulloh, Wakil Ketua MUI Kecamatan Blimbing sekaligus Imam Masjid Sabilillah Kota Malang.



Dalam penyampaiannya, Ustadz Asep menjelaskan bahwa perawatan jenazah merupakan bagian dari fardhu kifayah yang sering dianggap sepele, padahal sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, banyak umat Islam yang memahami hukum pengurusan jenazah secara teori, tetapi masih ragu dan takut ketika harus terjun langsung di lapangan.



"Fardhu kifayah itu bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi tentang kesiapan umat. Banyak yang tahu hukumnya, tetapi belum tentu siap memandikan, mengkafani, dan menyolatkan jenazah. Melalui pelatihan seperti ini, jamaah tidak hanya paham, tapi juga terampil," tutur Ustadz Asep di hadapan jamaah.



Ia menambahkan bahwa kematian adalah kepastian yang akan dialami setiap manusia. Karena itu, ilmu tentang pemulasaraan jenazah seharusnya dimiliki oleh setiap keluarga dan komunitas muslim, bukan hanya oleh segelintir orang yang biasa mengurus.



"Hari ini kita belajar bukan untuk hari ini saja, tetapi untuk masa depan. Ketika suatu saat lingkungan kita membutuhkan, kita sudah tidak bingung dan tidak takut," lanjutnya.



Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung perawatan jenazah. Jamaah diarahkan untuk memperhatikan setiap tahapan, mulai dari niat, adab terhadap jenazah, hingga teknik memandikan yang benar. Peralatan praktik telah disiapkan di area masjid. Ustadz Asep memperagakan bagaimana menyiram, membersihkan anggota tubuh, menjaga aurat, serta memperlakukan jenazah dengan penuh kehormatan.



Tidak hanya menjelaskan, beliau juga mengingatkan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi di masyarakat, seperti tergesa-gesa, kurang menjaga adab, atau tidak memahami urutan yang tepat. Jamaah tampak serius menyimak, beberapa mencatat, sementara yang lain sesekali mengajukan pertanyaan.



Tahap berikutnya adalah mengkafani jenazah. Ustadz Asep menunjukkan cara melipat kain kafan, menata posisi tubuh, hingga mengikatnya sesuai tuntunan. Beberapa jamaah diberi kesempatan untuk mencoba langsung. Suasana menjadi lebih hidup karena peserta tidak hanya menonton, tetapi ikut terlibat dalam simulasi.



Selanjutnya, praktik dilanjutkan dengan simulasi salat jenazah. Jamaah diajarkan niat, susunan saf, bacaan takbir, serta doa-doa yang dibaca dalam salat jenazah. Penjelasan disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh seluruh kalangan.



Antusiasme jamaah terlihat jelas. Peserta yang hadir berasal dari berbagai usia, mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak. Mereka mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir dengan penuh perhatian. Beberapa jamaah mengaku baru pertama kali mengikuti pelatihan perawatan jenazah secara lengkap dan terbuka seperti ini.



Salah satu jamaah menyampaikan kesannya setelah mengikuti kegiatan. "Biasanya kami hanya dengar ceramah. Hari ini beda karena langsung praktik. Jadi lebih paham dan tidak canggung lagi kalau suatu saat diminta membantu mengurus jenazah di lingkungan," ujarnya.



Di tengah berlangsungnya kegiatan, sinergi antara kampus dan masyarakat juga tampak nyata. Dosen Pembimbing KKM, Ibu Hersila Astari Pitaloka, hadir langsung mendampingi mahasiswa selama rangkaian acara. Kehadiran beliau menjadi bentuk dukungan institusi terhadap program pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Ibu Hersila tampak mengikuti jalannya kajian dan praktik, sekaligus berinteraksi dengan takmir dan jamaah sebagai wujud kolaborasi antara dunia akademik dan lingkungan warga.



Ketua Takmir Masjid At-Taqwa, H. Luqman Hakim, mengapresiasi kegiatan yang digagas bersama mahasiswa KKM tersebut. Ia menilai kajian dhuha kali ini memberi warna baru bagi jamaah.



"Kami rutin mengadakan kajian dhuha, tetapi kali ini terasa lebih lengkap karena ada praktik langsung. Ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga keberanian jamaah untuk terlibat dalam pengurusan jenazah di masyarakat," ungkapnya.



Ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan agar masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat edukasi umat.



"Masjid harus hidup, bukan hanya untuk salat, tetapi juga memberi keterampilan dan pengetahuan bagi warga. Kolaborasi dengan mahasiswa KKM ini sangat membantu kami," tambahnya.



Sementara itu, mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena melihat program ini sebagai bentuk pengabdian nyata. Mereka tidak hanya hadir sebagai tamu di tengah masyarakat, tetapi ikut berperan dalam memberdayakan jamaah melalui kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan warga.



Ustadz Asep dalam penutup materinya kembali menegaskan bahwa ilmu agama harus bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.



"Kalau hanya teori, orang mudah lupa. Tapi kalau sudah praktik, itu akan membekas. Harapannya, jamaah pulang membawa keberanian, bukan hanya catatan," jelasnya.



Selain memberi pengetahuan, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarjamaah. Interaksi selama praktik membuat warga saling mengenal, bekerja sama, dan membangun empati satu sama lain. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang belajar dan kebersamaan.



Setelah seluruh rangkaian kajian dan praktik selesai, acara ditutup dengan suasana hangat melalui sarapan bersama antara jamaah, pemateri, takmir, dosen pembimbing, dan mahasiswa KKM. Kebersamaan tersebut menjadi penutup yang sederhana namun bermakna, mencerminkan nilai gotong royong dan kekeluargaan di lingkungan Masjid At-Taqwa.



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kajian Dhuha Spesial di Masjid At-Taqwa : Pelatihan Perawatan Jenazah



Ustadz Asep dalam penutup materinya kembali menegaskan bahwa ilmu agama harus bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.



"Kalau hanya teori, orang mudah lupa. Tapi kalau sudah praktik, itu akan membekas. Harapannya, jamaah pulang membawa keberanian, bukan hanya catatan," jelasnya.



Selain memberi pengetahuan, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarjamaah. Interaksi selama praktik membuat warga saling mengenal, bekerja sama, dan membangun empati satu sama lain. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang belajar dan kebersamaan.



Setelah seluruh rangkaian kajian dan praktik selesai, acara ditutup dengan suasana hangat melalui sarapan bersama antara jamaah, pemateri, takmir, dosen pembimbing, dan mahasiswa KKM. Kebersamaan tersebut menjadi penutup yang sederhana namun bermakna, mencerminkan nilai gotong royong dan kekeluargaan di lingkungan Masjid At-Taqwa.



Melalui Kajian Dhuha Spesial ini, Masjid At-Taqwa menunjukkan bahwa edukasi fardhu kifayah dapat dikemas secara menarik, aplikatif, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan kesiapan umat dalam menghadapi realitas kehidupan, termasuk saat harus mengantar kepulangan seorang muslim dengan penuh tanggung jawab dan kehormatan.