1 year ago

Kelompok KKM 69 UIN Malang Galakkan Peduli Lingkungan Melalui Penyuluhan Ecobrick dan Ecoenzym

Header Image
NABIL ULWAN MUHAMMAD CAESAR

220605110127 • KKM Reguler Semester Ganjil 2024/2025 • G.69

Sumbertempur, 23 Januari 2025 Kelompok 69 KKM UIN Malang menggalakkan kampanye peduli lingkungan melalui penyuluhan ecobrick dan ecoenzym. Penyuluhan ini diselenggarakan di Balai Desa Suumbertempur dan dihadiri oleh tokoh masyarakat seperti Ketua RT, RW, Kepala Dusun dan Kepala Desa. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, diketahui bahwa Indonesia menyumbang setidaknya 20.426.722,41 ton per tahun. Sampah makanan menempati peringkat pertama dengan angka 39,24%. Peringkat kedua merupakan sampah plastik dengan angka 19,57% (SIPSN, 2024). Penyuluhan ini ditujukan untuk menjawab permasalahan lingkungan terkait dengan sampah tersebut, dengan menghadirkan solusi melalui pengolahan sampah menjadi barang yang lebih bernilai dan ramah lingkungan.



Kegiatan penyuluhan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini dimulai dengan sambutan dari ketua kelompok KKM dan Kepala Desa Sumbertempur. Materi ecobrick dan ecoenzym disampaikan oleh anggota kelompok KKM Faiza Arif Arrosyid. Dalam materinya, Faiza menyampaikan bahwa sampah plastik dapat menjadi barang yang bernilai jual bahkan meskipun olahan sampah tersebut masih setengah jadi "Di online shop seperti shopee, ecobrick ini dijual seharga Rp.15.000-19.000 per botolnya." Tak hanya itu, Faiza juga mengungkapkan dari produk setengah jadi tersebut dapat diolah menjadi hal-hal yang lebih bermanfaat seperti kerajinan seni ataupun barang utilitas. Sehingga menurutnya, ecobrick dapat memberikan solusi bagi beberapa masalah sekaligus yakni permasalahan lingkungan dan juga permasalahan ekonomi. Ia memberikan contoh karya ecobrick yang berupa meja dan kursi kecil serta mengetes kekuatan dari kursi tersebut "Ini (kursi) sangat kuat pak" (sembari duduk di atas kursi ecobrick). Selain itu, sampah-sampah organik juga dapat diolah menjadi hal lain seperti pupuk ecoenzym melalui proses penguraian sampah dalam sumur buatan. Dalam uraiannya, Faiza menyampaikan bahwa pupuk ini dapat digunakan setelah proses penguraian kurang lebih 3 bulan.



Setelah pemateri selesai menyampaikan materinya, bapak Kepala Desa menyampaikan terima kasih atas dedikasi kelompok KKM 69 dalam memberikan penyuluhan tersebut. Beliau juga menyampaikan kesenjangan antara tujuan ideal dari adanya penyuluhan ini dengan realita yang ada di masyarakat Sumbertempur "Di sini masyarakat tidak menggunakan air mineral untuk minum tapi dari sumber air, jadi tidak ada sampah plastik." Menurutnya pemasaran melalui online shop juga dirasa kurang bisa dilakukan oleh semua kalangan di Sumbertempur. Meskipun dalam keterangannya yang lebih lanjut beliau menyampaikan "yang punya anak, atau keluarga yang pinter bermain sosmed atau online shop seperti itu bisa minta tolong."



Melalui adanya penyuluhan ecobrick dan ecoenzym ini, masyarakat Sumbertempur diajak untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan terutama sampah. Dengan tema "pengolahan sampah menjadi ecobrick dan ecoenzym" kelompok KKM, berusaha mengajak masyarakat untuk mengolah kembali sampah-sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Olahan sampah-sampah ini bisa menjadi barang-barang yang lebih bernilai, baik secara utilitas maupun estetika.



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kreatif, Kelompok KKM 69 UIN Malang Galakkan Peduli Lingkungan Melalui Penyuluhan Ecobrick dan Ecoenzym", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/ishomal0871/6798c2dded64151a8a7250f2/kreatif-kelompok-kkm-69-uin-malang-galakkan-peduli-lingkungan-melalui-penyuluhan-ecobrick-dan-ecoenzym



Kreator: Ishomudin Al Aziz



Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.



Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com


1 year ago

Kelompok KKM 69 UIN Malang Galakkan Peduli Lingkungan Melalui Penyuluhan Ecobrick dan Ecoenzym

Header Image
ISHOMUDIN AL AZIZ

220401110173 • KKM Reguler Semester Ganjil 2024/2025 • G.69

Sumbertempur, 23 Januari 2025 Kelompok 69 KKM UIN Malang menggalakkan kampanye peduli lingkungan melalui penyuluhan ecobrick dan ecoenzym. Penyuluhan ini diselenggarakan di Balai Desa Suumbertempur dan dihadiri oleh tokoh masyarakat seperti Ketua RT, RW, Kepala Dusun dan Kepala Desa. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, diketahui bahwa Indonesia menyumbang setidaknya 20.426.722,41 ton per tahun. Sampah makanan menempati peringkat pertama dengan angka 39,24%. Peringkat kedua merupakan sampah plastik dengan angka 19,57% (SIPSN, 2024). Penyuluhan ini ditujukan untuk menjawab permasalahan lingkungan terkait dengan sampah tersebut, dengan menghadirkan solusi melalui pengolahan sampah menjadi barang yang lebih bernilai dan ramah lingkungan.



Kegiatan penyuluhan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini dimulai dengan sambutan dari ketua kelompok KKM dan Kepala Desa Sumbertempur. Materi ecobrick dan ecoenzym disampaikan oleh anggota kelompok KKM Faiza Arif Arrosyid. Dalam materinya, Faiza menyampaikan bahwa sampah plastik dapat menjadi barang yang bernilai jual bahkan meskipun olahan sampah tersebut masih setengah jadi "Di online shop seperti shopee, ecobrick ini dijual seharga Rp.15.000-19.000 per botolnya." Tak hanya itu, Faiza juga mengungkapkan dari produk setengah jadi tersebut dapat diolah menjadi hal-hal yang lebih bermanfaat seperti kerajinan seni ataupun barang utilitas. Sehingga menurutnya, ecobrick dapat memberikan solusi bagi beberapa masalah sekaligus yakni permasalahan lingkungan dan juga permasalahan ekonomi. Ia memberikan contoh karya ecobrick yang berupa meja dan kursi kecil serta mengetes kekuatan dari kursi tersebut "Ini (kursi) sangat kuat pak" (sembari duduk di atas kursi ecobrick). Selain itu, sampah-sampah organik juga dapat diolah menjadi hal lain seperti pupuk ecoenzym melalui proses penguraian sampah dalam sumur buatan. Dalam uraiannya, Faiza menyampaikan bahwa pupuk ini dapat digunakan setelah proses penguraian kurang lebih 3 bulan.



Setelah pemateri selesai menyampaikan materinya, bapak Kepala Desa menyampaikan terima kasih atas dedikasi kelompok KKM 69 dalam memberikan penyuluhan tersebut. Beliau juga menyampaikan kesenjangan antara tujuan ideal dari adanya penyuluhan ini dengan realita yang ada di masyarakat Sumbertempur "Di sini masyarakat tidak menggunakan air mineral untuk minum tapi dari sumber air, jadi tidak ada sampah plastik." Menurutnya pemasaran melalui online shop juga dirasa kurang bisa dilakukan oleh semua kalangan di Sumbertempur. Meskipun dalam keterangannya yang lebih lanjut beliau menyampaikan "yang punya anak, atau keluarga yang pinter bermain sosmed atau online shop seperti itu bisa minta tolong."



Melalui adanya penyuluhan ecobrick dan ecoenzym ini, masyarakat Sumbertempur diajak untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan terutama sampah. Dengan tema "pengolahan sampah menjadi ecobrick dan ecoenzym" kelompok KKM, berusaha mengajak masyarakat untuk mengolah kembali sampah-sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Olahan sampah-sampah ini bisa menjadi barang-barang yang lebih bernilai, baik secara utilitas maupun estetika.



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kreatif, Kelompok KKM 69 UIN Malang Galakkan Peduli Lingkungan Melalui Penyuluhan Ecobrick dan Ecoenzym", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/ishomal0871/6798c2dded64151a8a7250f2/kreatif-kelompok-kkm-69-uin-malang-galakkan-peduli-lingkungan-melalui-penyuluhan-ecobrick-dan-ecoenzym



Kreator: Ishomudin Al Aziz



Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.



Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com


1 year ago

Kelompok KKM 69 UIN Malang Galakkan Peduli Lingkungan Melalui Penyuluhan Ecobrick dan Ecoenzym

Header Image
NI`MATUS SHOLIKAH

220302110035 • KKM Reguler Semester Ganjil 2024/2025 • G.69

Sumbertempur, 23 Januari 2025 Kelompok 69 KKM UIN Malang menggalakkan kampanye peduli lingkungan melalui penyuluhan ecobrick dan ecoenzym. Penyuluhan ini diselenggarakan di Balai Desa Suumbertempur dan dihadiri oleh tokoh masyarakat seperti Ketua RT, RW, Kepala Dusun dan Kepala Desa. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, diketahui bahwa Indonesia menyumbang setidaknya 20.426.722,41 ton per tahun. Sampah makanan menempati peringkat pertama dengan angka 39,24%. Peringkat kedua merupakan sampah plastik dengan angka 19,57% (SIPSN, 2024). Penyuluhan ini ditujukan untuk menjawab permasalahan lingkungan terkait dengan sampah tersebut, dengan menghadirkan solusi melalui pengolahan sampah menjadi barang yang lebih bernilai dan ramah lingkungan.



Kegiatan penyuluhan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini dimulai dengan sambutan dari ketua kelompok KKM dan Kepala Desa Sumbertempur. Materi ecobrick dan ecoenzym disampaikan oleh anggota kelompok KKM Faiza Arif Arrosyid. Dalam materinya, Faiza menyampaikan bahwa sampah plastik dapat menjadi barang yang bernilai jual bahkan meskipun olahan sampah tersebut masih setengah jadi "Di online shop seperti shopee, ecobrick ini dijual seharga Rp.15.000-19.000 per botolnya." Tak hanya itu, Faiza juga mengungkapkan dari produk setengah jadi tersebut dapat diolah menjadi hal-hal yang lebih bermanfaat seperti kerajinan seni ataupun barang utilitas. Sehingga menurutnya, ecobrick dapat memberikan solusi bagi beberapa masalah sekaligus yakni permasalahan lingkungan dan juga permasalahan ekonomi. Ia memberikan contoh karya ecobrick yang berupa meja dan kursi kecil serta mengetes kekuatan dari kursi tersebut "Ini (kursi) sangat kuat pak" (sembari duduk di atas kursi ecobrick). Selain itu, sampah-sampah organik juga dapat diolah menjadi hal lain seperti pupuk ecoenzym melalui proses penguraian sampah dalam sumur buatan. Dalam uraiannya, Faiza menyampaikan bahwa pupuk ini dapat digunakan setelah proses penguraian kurang lebih 3 bulan.



Setelah pemateri selesai menyampaikan materinya, bapak Kepala Desa menyampaikan terima kasih atas dedikasi kelompok KKM 69 dalam memberikan penyuluhan tersebut. Beliau juga menyampaikan kesenjangan antara tujuan ideal dari adanya penyuluhan ini dengan realita yang ada di masyarakat Sumbertempur "Di sini masyarakat tidak menggunakan air mineral untuk minum tapi dari sumber air, jadi tidak ada sampah plastik." Menurutnya pemasaran melalui online shop juga dirasa kurang bisa dilakukan oleh semua kalangan di Sumbertempur. Meskipun dalam keterangannya yang lebih lanjut beliau menyampaikan "yang punya anak, atau keluarga yang pinter bermain sosmed atau online shop seperti itu bisa minta tolong."



Melalui adanya penyuluhan ecobrick dan ecoenzym ini, masyarakat Sumbertempur diajak untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan terutama sampah. Dengan tema "pengolahan sampah menjadi ecobrick dan ecoenzym" kelompok KKM, berusaha mengajak masyarakat untuk mengolah kembali sampah-sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Olahan sampah-sampah ini bisa menjadi barang-barang yang lebih bernilai, baik secara utilitas maupun estetika.



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kreatif, Kelompok KKM 69 UIN Malang Galakkan Peduli Lingkungan Melalui Penyuluhan Ecobrick dan Ecoenzym", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/ishomal0871/6798c2dded64151a8a7250f2/kreatif-kelompok-kkm-69-uin-malang-galakkan-peduli-lingkungan-melalui-penyuluhan-ecobrick-dan-ecoenzym



Kreator: Ishomudin Al Aziz



Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.



Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com