Bu Narti merupakan salah satu calon jemaah haji (CJH) yang kami dampingi selama pelaksanaan KKM. Beliau adalah seorang lansia yang tinggal seorang diri, dengan keterbatasan mobilitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sebagai mahasiswa yang baru pertama kali terjun langsung ke masyarakat, jujur saja saya sempat merasa khawatir, apakah kami mampu menjalankan program pendampingan ini dengan maksimal, terutama pada kondisi lansia seperti Bu Narti.
Namun, segala keresahan itu perlahan pudar saat kami pertama kali berkunjung ke rumah beliau. Bu Narti menyambut kami dengan senyum hangat dan sikap yang sangat ramah. Bahkan, di tengah keterbatasannya, beliau masih menyempatkan diri menyiapkan suguhan yang dimasak sendiri untuk kami. Sambutan sederhana itu justru menjadi awal dari kesan mendalam yang sulit saya lupakan.
Selama proses pendampingan, Bu Narti menunjukkan semangat yang luar biasa. Beliau menerima setiap edukasi kesehatan dengan sangat baik, rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran, serta berusaha konsisten melakukan olahraga ringan. Tekadnya untuk menjaga kesehatan demi bisa berangkat menunaikan ibadah haji benar-benar terasa kuat. Dari beliau, saya belajar bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang yang memiliki niat dan harapan besar.
Menjelang berakhirnya program KKM, Bu Narti mengungkapkan kesedihannya. Beliau berharap kegiatan pendampingan ini bisa berlangsung lebih lama. Ungkapan sederhana itu justru menjadi momen paling menyentuh bagi saya, bahwa kehadiran kami bukan sekadar menjalankan program, tetapi juga memberi arti dan menemani seseorang yang selama ini menjalani hari-harinya seorang diri.
KKM ini mengajarkan saya bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi juga tentang apa yang kita pelajari. Dan dari Bu Narti, saya belajar tentang keteguhan, ketulusan, dan arti harapan yang sesungguhnya.