3 months ago

Ketika Santri Butuh Didengar: Sharing Session KKM Fakultatif UIN Malang di Pesantren An-Najiyah 2 Bahrul Ulum

Header Image
ACHMAD SYAIFULLAH AMIN

230401110067 • KKM Unggulan Fakultatif • G.254

Kembali ke lingkungan pesantren setelah libur panjang bukan hal yang mudah bagi sebagian santri. Di balik rutinitas ibadah dan jadwal kegiatan yang kembali padat, tersimpan berbagai perasaan yang sering kali tidak terungkap. Rasa rindu rumah, konflik dengan teman sekamar, hingga kebingungan memikirkan masa depan menjadi pengalaman yang nyata bagi santri dalam proses adaptasi kembali ke pondok.



Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan salah satu program kerja berupa sharing session di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 Bahrul Ulum, Jombang, pada tanggal 5 Januari 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang aman bagi santri untuk berbagi cerita, mengekspresikan emosi, serta menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi selama menjalani kehidupan mondok.



Ruang Aman untuk Berbagi Cerita



Sejak awal kegiatan, mahasiswa KKM menegaskan bahwa sharing session ini bukan sekadar agenda formal. Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penjelasan tujuan program, sekaligus pengenalan peran mahasiswa KKM selama berada di pesantren, termasuk layanan konseling yang dapat dimanfaatkan oleh santri. Suasana dibuat santai dan terbuka agar santri merasa nyaman dan tidak sungkan untuk berbicara.



Memasuki sesi inti, sharing session dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil. Pendekatan ini dipilih agar santri lebih leluasa menyampaikan pengalaman dan perasaan pribadi. Dalam sesi tersebut, berbagai cerita mulai mengalir, baik yang bernada positif maupun yang sarat dengan emosi.



Dinamika Perasaan Santri di Pondok



Sebagian santri mengungkapkan perasaan senang karena dapat kembali bertemu teman-teman dan merasakan kebersamaan di asrama. Aktivitas pesantren yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka juga memberikan semangat baru setelah masa liburan.



Namun, tidak sedikit santri yang masih merasakan kesedihan dan kerinduan terhadap keluarga. Rasa rindu rumah kerap muncul lebih kuat pada malam hari, ketika suasana pondok mulai tenang dan aktivitas telah usai. Menariknya, beberapa santri menyadari bahwa perasaan senang dan sedih dapat hadir secara bersamaan dalam proses adaptasi kembali ke pesantren.



Selain aspek emosional, santri juga menyampaikan berbagai permasalahan praktis yang mereka hadapi. Jam tidur yang tidak teratur, kesulitan tidur karena banyak pikiran, sisa makanan saat jam makan, hingga persoalan kebersihan kamar menjadi isu yang cukup sering muncul. Konflik dengan teman sekamar akibat perbedaan karakter dan kebiasaan juga menjadi keluhan yang banyak dipendam. Bahkan, sebagian santri menyinggung hubungan dengan pengurus pesantren yang dirasa cukup keras dalam menerapkan kedisiplinan.



Kebingungan Masa Depan dan Relasi Sosial



Pada santri putri jenjang Madrasah Aliyah (MA), persoalan yang paling dominan berkaitan dengan perencanaan masa depan. Banyak dari mereka mengaku bingung menentukan jurusan kuliah, memilih perguruan tinggi, hingga menghadapi perbedaan pandangan dengan orang tua terkait pendidikan lanjutan. Kebingungan ini menimbulkan tekanan psikologis karena santri merasa belum sepenuhnya mengenal potensi diri yang dimiliki.



Sementara itu, santri kelas X lebih banyak bergulat dengan persoalan relasi pertemanan. Proses adaptasi dengan lingkungan baru, perbedaan karakter teman sekamar, serta pola komunikasi yang belum terbangun dengan baik sering memicu konflik kecil yang cenderung tidak diungkapkan secara langsung.



Pesan Edukatif dan Harapan Keberlanjutan



Menutup kegiatan, mahasiswa KKM juga menyampaikan pesan edukatif mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesantren. Lingkungan yang bersih tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kenyamanan, suasana hati, dan kesehatan psikologis santri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.



Melalui sharing session ini, mahasiswa KKM berharap santri merasa lebih didengar dan dipahami. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk merancang program lanjutan yang lebih responsif terhadap kebutuhan santri. Di balik dinding pesantren yang tampak kokoh, terdapat cerita-cerita personal yang layak untuk didengarkan dan dihargai.