Oleh: Fatih
KKM bukan sekadar program akademik. Bagi Wening Praja 166, ia adalah perjalanan menemukan makna pengabdian.
Di Tamansari, mahasiswa belajar bahwa kebahagiaan bisa lahir dari hal sederhana—melihat anak-anak tersenyum saat jalan sehat, mendengar tawa saat bermain edukasi anti-bullying, atau menyaksikan pedagang bangga ketika tokonya kini memiliki QRIS.
Setiap sore, mereka duduk di lantai TPQ, mengajari huruf demi huruf Al-Qur’an. Kadang lelah, namun hati terasa penuh.
Program yang dijalankan mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terasa nyata: sekolah lebih ramah, UMKM lebih modern, dan santri lebih bersemangat belajar.
Di akhir masa pengabdian, satu hal yang disadari mahasiswa: bukan hanya desa yang mendapat manfaat, tetapi mereka sendiri yang paling banyak belajar—tentang empati, tanggung jawab, dan arti hadir bagi sesama.
Wening Praja 166 pun pulang dengan kenangan, meninggalkan jejak kecil yang semoga terus tumbuh di Desa Tamansari.