Banyak yang mengira bahwa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) hanyalah sebatas pemenuhan kewajiban akademik atau pengabdian formal kepada masyarakat. Namun, perjalanan saya kali ini memberikan perspektif yang jauh berbeda. Ditugaskan untuk melakukan pendampingan dan bimbingan bagi calon jamaah haji, saya mengawali langkah dengan pemikiran bahwa ini hanyalah tugas berbagi ilmu dan bantuan teknis. Nyatanya, di balik persiapan administrasi dan manasik, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: ikatan kekeluargaan yang tulus.
Selama berinteraksi dengan para calon jamaah, batasan antara "pendamping" dan "yang didampingi" perlahan memudar. Saya tidak merasa sedang bekerja, melainkan sedang membersamai orang tua sendiri. Setiap tawa saat diskusi, cerita haru tentang penantian panjang mereka menuju Tanah Suci, hingga perhatian-perhatian kecil yang mereka berikan kepada saya, menciptakan suasana hangat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Mereka menyambut kehadiran saya bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar mereka.
Pengalaman ini memberikan pelajaran hidup yang tidak saya dapatkan di bangku perkuliahan. Saya belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan bagaimana sebuah pengabdian jika dilakukan dengan hati akan membuahkan kedekatan emosional yang erat. KKM ini bukan lagi soal laporan akhir atau nilai, melainkan tentang jejak kenangan dan saudara baru yang saya temukan. Pulang dari sini, saya membawa lebih dari sekadar pengalaman kerja; saya membawa kehangatan sebuah keluarga.