Hari pertama pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membawa pengalaman yang sangat berbeda. Berbeda dengan KKM pada umumnya, program kami bersifat fakultatif dengan fokus khusus pada Hajj Interprofessional Education (HIPE). Tujuannya tidak hanya melakukan pengabdian masyarakat, tetapi juga mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu kesehatan dalam satu pendekatan kolaboratif untuk mempersiapkan calon jamaah haji (CJH) secara holistik, baik dari aspek fisik, mental, maupun spiritual. Harapannya, CJH dapat menjalani ibadah haji dengan kondisi kesehatan yang optimal, lancar, dan penuh kekhusyukan, sehingga mampu meraih predikat haji yang mabrur.
9 Januari 2026, kami memulai kunjungan pertama dengan destinasi yang cukup jauh, lebih dari 70 km perjalanan pulang-pergi, menuju rumah seorang CJH yang sedang tinggal sementara di rumah keluarga besarnya karena orang tua yang sedang sakit. Perjalanan sore itu diwarnai dengan semangat untuk menjalankan misi HIPE, meski disertai sedikit kecemasan akan kesan pertama yang akan kami berikan. Sebelum berangkat, kami sempatkan membeli buah sebagai buah tangan dan penghormatan. Namun, alam sepertinya ingin menguji komitmen kami. Di tengah perjalanan, hujan turun cukup deras, membasahi jalan dan sedikit menguji semangat kami. Tapi, justru dalam perjalanan yang sedikit basah ini, kami merasa semakin solid sebagai tim interprofesi saling mendukung dan mengingatkan peran masing-masing dalam pendampingan kesehatan haji.
Sampailah kami di tujuan dan semua lelah serta basah akibat hujan seketika terbayar lunas. Kami disambut bukan hanya dengan senyuman, tetapi dengan kehangatan yang luar biasa dari keluarga besar CJH. Segelas teh hangat dan biskuit yang disuguhkan terasa lebih bermakna dari hidangan mewah apa pun. Di sinilah kami menyadari bahwa pendekatan interprofesional dalam KKM HIPE bukan hanya tentang teknis medis, tetapi juga tentang membangun kepercayaam dan kedekatan emosional dengan CJH dan keluarganya.
Kami pun berkenalan. Suasana cair seketika. Bapak Eko Purwanto, sang calon jamaah haji, dengan ramah berbagi cerita tentang persiapan spiritual dan fisiknya menuju Tanah Suci. Diskusi kami mengalir secara interprofesional: dari pemantauan tanda-tanda vital dan konsultasi kesehatan, edukasi gizi seimbang untuk persiapan haji, hingga penyuluhan mengenai manajemen stres dan pentingnya menjaga kebersihan diri di tanah suci. Tidak hanya menerima, Bapak Eko juga memberikan nasihat berharga tentang kesabaran, ketawakalan, dan makna ibadah yang sesungguhnya. Setiap kata-katanya menguatkan komitmen kami bahwa pendampingan kesehatan haji harus dilakukan dengan hati, tidak sekadar prosedur.
Sepulang dari kunjungan itu, tubuh terasa lelah. Namun, hati ini dipenuhi dengan kepuasan dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Sebagai bentuk apresiasi untuk tim kami sendiri, kami menyempatkan diri untuk makan malam bersama di sebuah restoran. Di sana, kami merefleksikan pelajaran hari itu bahwa kolaborasi antarprofesi kesehatan dalam KKM HIPE benar-benar membawa dampak yang lebih menyeluruh.
Melalui intervensi kesehatan yang telah dan akan kami lakukan, kami berharap Bapak Eko dan seluruh CJH yang kami dampingi senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan. Semoga persiapan lahir dan batin mereka semakin matang, sehingga dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar, selamat, dan penuh keberkahan. Dan yang terpenting, semoga mereka menjadi haji yang mabrur yang kepergian dan kepulangannya membawa kebaikan bagi diri, keluarga, dan lingkungan.
Perjalanan 70 km di hari pertama ini mengajarkan kami bahwa dalam pengabdian melalui HIPE, yang terpenting adalah kolaborasi, ketulusan, dan hubungan manusiawi yang hangat. Ini baru awal, dan kami siap melanjutkan langkah ini dengan semangat yang sama: mengabdi dengan ilmu, menguatkan dengan hati.