Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) sering kali dipersepsikan sekadar sebagai kewajiban akademik yang harus dituntaskan mahasiswa sebelum lulus. Namun, pengalaman KKM yang saya jalani bersama kelompok 47 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan justru mengubah cara pandang saya tentang makna pembelajaran kesehatan yang sesungguhnya. Melalui kegiatan pendampingan dan intervensi kesehatan bagi calon jamaah haji, KKM menjadi ruang belajar yang sangat kontekstual dan aplikatif.
Selama kurang lebih satu bulan, kami terlibat langsung dalam upaya mempersiapkan calon jamaah haji menuju kondisi istithaah, yaitu kesiapan menyeluruh untuk melaksanakan ibadah haji, termasuk dari aspek kesehatan. Konsep istithaah yang selama ini lebih sering dipahami secara administratif dan finansial, di lapangan ternyata sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik, pengetahuan kesehatan, serta perilaku hidup sehari-hari jamaah. Di titik inilah peran mahasiswa kesehatan menjadi relevan.
Kegiatan KKM diawali dengan pemetaan kondisi awal calon jamaah haji. Dari proses ini, kami menemukan bahwa sebagian besar jamaah sebenarnya memiliki semangat yang tinggi untuk menjaga kesehatan, tetapi belum sepenuhnya dibekali dengan informasi yang tepat dan praktis. Banyak yang belum memahami pentingnya pengelolaan penyakit kronis, kesiapan fisik, serta pola hidup sehat menjelang keberangkatan. Temuan sederhana ini menjadi dasar bagi kami untuk merancang intervensi kesehatan yang bersifat promotif dan preventif.
Intervensi yang dilakukan tidak hanya berupa penyuluhan satu arah. Kami menggunakan berbagai media edukasi seperti poster, video edukasi, buku saku kesehatan, dan booklet monitoring kesehatan. Pemilihan media ini bukan tanpa alasan. Poster berfungsi sebagai pengingat visual yang mudah dipahami, video edukasi membantu menyampaikan pesan secara lebih menarik, buku saku menjadi panduan praktis yang bisa dibaca ulang di rumah atau tanah suci, sementara booklet monitoring membantu jamaah dan pendamping memantau kondisi kesehatan secara berkala. Pendekatan multimodal ini terasa lebih efektif dibandingkan hanya ceramah konvensional.
Yang menarik, proses interaksi langsung dengan calon jamaah haji memberikan pembelajaran yang tidak pernah saya dapatkan secara utuh di ruang kelas. Di lapangan, teori promosi kesehatan, komunikasi risiko, dan pendekatan perilaku benar-benar diuji. Tidak semua pesan kesehatan bisa disampaikan dengan istilah medis. Kami belajar menyederhanakan bahasa tanpa menghilangkan esensi ilmiah, serta menyesuaikan pendekatan dengan latar belakang sosial dan usia sasaran. Ini adalah soft skill yang sering luput dari penilaian akademik, tetapi sangat krusial dalam praktik kesehatan masyarakat.
Dari sisi keilmuan, KKM ini juga mempertegas bahwa kesehatan haji bukan hanya isu klinis, melainkan isu kesehatan masyarakat. Upaya menjaga istithaah jamaah tidak bisa dilepaskan dari edukasi berkelanjutan, dukungan lingkungan, dan sistem monitoring yang konsisten. Intervensi kecil di tingkat komunitas, jika dilakukan dengan tepat, berpotensi memberikan dampak besar terhadap kualitas ibadah dan keselamatan jamaah.
Secara personal, KKM ini menjadi momen reflektif. Saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa FKIK bukan hanya tentang menguasai teori dan lulus ujian, tetapi juga tentang kemampuan hadir di tengah masyarakat dengan empati dan tanggung jawab ilmiah. Melihat antusiasme calon jamaah haji yang mulai lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan menjadi kepuasan tersendiri. Ada rasa bahwa ilmu yang dipelajari tidak berhenti di buku, tetapi benar-benar hidup dan bermanfaat.
KKM juga mengajarkan bahwa perubahan perilaku kesehatan tidak terjadi secara instan. Edukasi adalah proses, bukan hasil sekali pertemuan. Oleh karena itu, keberlanjutan program dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan setempat menjadi hal yang sangat penting. Mahasiswa mungkin hanya hadir sementara, tetapi dampak yang diharapkan harus bersifat jangka panjang.
Pada akhirnya, KKM ini bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja, tetapi tentang membangun kesadaran bahwa kesehatan adalah fondasi utama dalam setiap aktivitas manusia, termasuk ibadah. Pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa pendekatan promotif dan preventif harus terus diperkuat dalam sistem kesehatan, dan mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan di tingkat komunitas.
KKM mungkin telah selesai, tetapi pelajaran yang dibawanya akan terus melekat—tentang kesehatan yang nyata, manusiawi, dan kontekstual.