1 week ago

Kolaborasi KKM UIN Malang Kelompok 77 Satyaseva dan MAN 2 Malang Gelar Rangkaian Edukasi "Madrasah Ramah Anak" Guna Cegah Perundungan dan Adiksi

Header Image
FAHIMAH DZAKIYYAH

230102110052 • KKM Unggulan Fakultatif (FITK) • G.577

Kolaborasi KKM UIN Malang Kelompok 77 Satyaseva dan MAN 2 Malang Gelar Rangkaian Edukasi "Madrasah Ramah Anak" Guna Cegah Perundungan dan Adiksi



MALANG - Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu kesehatan mental remaja, perundungan di lingkungan pendidikan, hingga tantangan adiksi digital, sekolah dituntut tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang aman bagi tumbuh kembang peserta didik. Berbagai kasus kekerasan verbal, diskriminasi sosial, hingga tekanan psikologis yang dialami pelajar menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan kesehatan mental merupakan persoalan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.



Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di tingkat global maupun nasional, tetapi juga menjadi perhatian serius di lingkungan pendidikan lokal. Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, MAN 2 Malang terus memperkuat komitmennya sebagai lembaga pendidikan yang inklusif, aman, dan ramah anak melalui rangkaian kegiatan bertajuk "Madrasah Lingkungan Ramah Anak" yang diselenggarakan pada 21-22 April 2026 di Masjid Al-Asmu'i MAN 2 Malang.



Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi antara OSIS MAN 2 Malang, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 77 Satyaseva, serta mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang sama-sama sedang melaksanakan program Asistensi Mengajar (AM) di MAN 2 Malang. Rangkaian acara dikemas dalam bentuk seminar dan workshop yang membahas isu keberagaman, kesetaraan, anti perundungan, kesehatan mental, hingga pencegahan adiksi di kalangan remaja.



Tidak hanya menjadi kegiatan edukatif biasa, acara ini juga menjadi ruang refleksi bersama bagi para siswa untuk memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat secara sosial maupun emosional.



Hari Pertama : Seminar "Merawat Keberagaman, Menegakkan Kesetaraan, dan Melawan Kekerasan"



Rangkaian kegiatan diawali pada Selasa, 21 April 2026, pukul 10.00-15.10 WIB dengan seminar bertema "Merawat Keberagaman, Menegakkan Kesetaraan, dan Melawan Kekerasan". Seminar ini menghadirkan Drs. Khotfirul Aziz, Fadilla Atsjira, dan Afiq Fatturrohman Vidiansyah sebagai pemateri. Dua pemateri terakhir merupakan mahasiswa AM UM Malang yang turut berpartisipasi dalam memberikan edukasi kepada peserta.



Dalam seminar tersebut, peserta diajak memahami pentingnya menjaga toleransi dan menghargai keberagaman di lingkungan sekolah maupun kehidupan bermasyarakat. Para pemateri menekankan bahwa perbedaan latar belakang, karakter, maupun kemampuan individu bukan alasan untuk mendiskriminasi seseorang, melainkan kekuatan yang harus dijaga bersama.



Selain itu, seminar juga membahas berbagai bentuk kekerasan yang sering muncul di lingkungan remaja, baik secara verbal, sosial, maupun psikologis. Banyak tindakan yang sering dianggap "candaan biasa" ternyata dapat meninggalkan dampak emosional yang mendalam bagi korban.



Diskusi berlangsung secara interaktif dan mendapat respons positif dari peserta. Para siswa terlihat aktif menyampaikan pendapat dan pengalaman mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.



Hari Kedua : Talkshow "Mewujudkan Ramah Anak: Inklusif, Aman, dan Bebas Perundungan"



Kegiatan berlanjut pada Rabu, 22 April 2026, pukul 13.00-14.00 WIB melalui kegiatan Talkshow bertema "Mewujudkan Ramah Anak: Inklusif, Aman, dan Bebas Perundungan" yang menghadirkan Diah Mayasari, M.Psi. sebagai pemateri utama. Seminar ini dimoderatori oleh M. Izzul Islam, mahasiswa yang sedang melaksanakan program Asistensi Mengajar di MAN 2 Malang.



Dalam pemaparannya, Diah Mayasari menekankan bahwa konsep Madrasah Ramah Anak bukan sekadar program formal atau slogan sekolah, melainkan budaya yang harus dibangun bersama oleh seluruh warga sekolah. Menurutnya, setiap anak memiliki hak untuk merasa aman dan diterima di lingkungan pendidikan, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).



"Membangun Madrasah Ramah Anak bukan sekadar label, tetapi bagaimana kita mampu menghadirkan empati, kepedulian, dan sistem perlindungan nyata bagi siswa," jelasnya di hadapan peserta seminar.



Beliau juga mengajak para siswa untuk mulai lebih peka terhadap kondisi teman di sekitar mereka. Terkadang, tindakan sederhana seperti menghargai, mendengarkan, dan tidak merendahkan orang lain dapat menjadi langkah awal dalam mencegah perundungan di lingkungan sekolah.



Sesi seminar berlangsung dinamis dan komunikatif. Peserta tampak antusias mengikuti jalannya diskusi serta aktif memberikan tanggapan terhadap berbagai persoalan sosial yang sering terjadi di kalangan remaja.



Hari Kedua : Workshop "Pencegahan Adiksi & Kesehatan Mental"



Setelah seminar selesai, kegiatan dilanjutkan dengan workshop bertema "Pencegahan Adiksi & Kesehatan Mental" mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai. Workshop ini menghadirkan Octaviana R., S.Psi. sebagai pemateri dan dimoderatori oleh Sania Sahril M., mahasiswa yang sedang melaksanakan program Asistensi Mengajar di MAN 2 Malang.



Dalam workshop tersebut, peserta diajak memahami berbagai tantangan kesehatan mental yang dihadapi remaja masa kini, terutama akibat perkembangan teknologi digital dan tekanan sosial. Pemateri menjelaskan bahwa penggunaan media sosial dan gadget secara berlebihan dapat memicu berbagai bentuk adiksi yang berdampak pada kesehatan mental, pola belajar, hingga hubungan sosial siswa.



Selain membahas tentang adiksi digital, workshop juga mengupas pentingnya menjaga keseimbangan emosional, mengelola stres akademik, serta mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental seperti kecemasan berlebihan, kelelahan emosional, dan penurunan motivasi belajar.



Suasana workshop berlangsung sangat interaktif. Para peserta tampak aktif bertanya dan berdiskusi mengenai pengalaman maupun fenomena yang sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang komunikatif, materi yang disampaikan terasa lebih dekat dan relevan dengan kondisi remaja saat ini.



Wujud Kolaborasi Madrasah dan Mahasiswa dalam Membangun Lingkungan Sekolah yang Aman



Rangkaian kegiatan "Madrasah Lingkungan Ramah Anak" ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, empati sosial, dan kesehatan mental peserta didik.



Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi antara OSIS MAN 2 Malang, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 77 Satyaseva, serta mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang sama-sama sedang melaksanakan program Asistensi Mengajar (AM) di MAN 2 Malang. Kolaborasi lintas institusi ini menghadirkan suasana kegiatan yang lebih dinamis dan dekat dengan para siswa.



Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini tidak hanya membantu proses pelaksanaan acara, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan pendekatan edukatif yang lebih relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Para mahasiswa turut berperan aktif dalam pendampingan peserta, koordinasi kegiatan, hingga membangun suasana diskusi yang komunikatif dan interaktif.



Sinergi antara pihak madrasah, organisasi siswa, dan mahasiswa Asistensi Mengajar ini menunjukkan bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Dengan adanya kerja sama tersebut, diharapkan nilai-nilai empati, toleransi, dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh di lingkungan MAN 2 Malang.



Melalui kegiatan ini pula, para siswa diharapkan semakin sadar bahwa menjaga kesehatan mental, menghargai keberagaman, dan menolak segala bentuk perundungan merupakan tanggung jawab bersama demi terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat dan suportif bagi semua.