1 year ago

Kolaborasi Mahasiswa dan bidan desa : Strategi Edukasi Pencegahan Stunting di Desa Jetak

Header Image
DIRA GALUH PARAMITA

220102110059 • KKM MBKM & Pengabdian Lain • G.309

Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius yang dihadapi Indonesia. Meski prevalensinya terus menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun, angka stunting nasional masih jauh dari target ideal. Salah satu wilayah yang turut terdampak adalah Desa Jetak di Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Di sana, stunting tidak hanya menjadi persoalan gizi semata, tetapi juga erat kaitannya dengan minimnya edukasi, keterbatasan akses informasi, dan lemahnya pola asuh anak yang sehat.



Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang melaksanakan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Jetak menggagas program kolaboratif bersama bidan desa setempat. Tujuannya adalah mengoptimalkan kegiatan Posyandu sebagai sarana edukasi untuk pencegahan stunting secara langsung kepada masyarakat.



“Awalnya banyak ibu yang tidak tahu kalau stunting bisa dicegah sejak masa kehamilan. Lewat penyuluhan ini, mereka jadi lebih mengerti pentingnya gizi dan perawatan anak sejak dini,” ujar Bu Yuli, bidan desa Jetak, yang turut mendampingi mahasiswa dalam kegiatan edukasi. Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak sekadar menjadi fasilitator. Mereka aktif menyusun materi, dan mendampingi pemeriksaan



Dalam praktiknya, mahasiswa dan bidan desa menyampaikan berbagai materi edukatif seputar kesehatan dan gizi kepada kelompok sasaran, yakni ibu hamil, ibu balita, dan remaja pra-nikah. Materi yang diberikan mencakup pentingnya gizi selama masa kehamilan, pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang sesuai, serta edukasi pra-nikah sebagai bentuk pencegahan stunting dari hulu. Tidak hanya teori, tetapi mereka juga terlibat langsung dalam pendampingan kader Posyandu serta simulasi penyusunan menu sehat dan seimbang bagi anak-anak. Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan tenaga kesehatan di lapangan sangat penting. Mahasiswa sebagai agen perubahan mampu membawa pendekatan yang kreatif dan komunikatif, sementara bidan desa hadir dengan pengalaman dan pemahaman medis yang mendalam. Kolaborasi ini menjadikan edukasi tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga kontekstual dan mudah diterima oleh warga.



Model pendekatan ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR), yang menekankan keterlibatan aktif semua elemen masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan. Dengan begitu, upaya edukasi tidak bersifat satu arah, melainkan menjadi proses belajar bersama yang membentuk kesadaran kolektif dalam menghadapi masalah stunting.



Melalui langkah ini, Desa Jetak tidak hanya mendapatkan edukasi kesehatan, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat lokal bisa membentuk ekosistem pencegahan stunting yang lebih kuat dan berkelanjutan.