Permasalahan sampah masih menjadi isu utama di berbagai wilayah pedesaan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Tim KKM Unggulan Fakultatif 249 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ke beberapa dusun di Desa Ngenep, sebagian besar masyarakat menyampaikan keluhan terkait penumpukan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Sampah yang tidak terkelola dengan baik menimbulkan bau tidak sedap serta mengundang lalat, sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan.
Dalam proses pengkajian permasalahan tersebut, Tim KKM didampingi oleh Kelompok Tani Integrated Farming untuk mencari solusi yang tepat dan aplikatif. Dari hasil kajian tersebut, ditemukan sebuah inovasi pengelolaan sampah organik rumah tangga berupa KOPER SAKTI. Melalui pengelolaan ini, volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dapat berkurang hingga sekitar 30%.
KOPER SAKTI merupakan singkatan dari Kotak Komposter Sampah Aktif Kelola Terintegrasi, yaitu sebuah kotak sederhana yang digunakan untuk mengolah sampah dapur menjadi pupuk kompos. Inovasi ini dipilih karena bahan pembuatannya mudah diperoleh dari lingkungan sekitar, tidak menimbulkan bau apabila digunakan dengan benar, serta hasil akhirnya sangat bermanfaat karena dapat langsung dimanfaatkan sebagai kompos dan media tanam.
Tujuan utama dari kegiatan penyuluhan KOPER SAKTI adalah untuk mengedukasi masyarakat Desa Ngenep agar dapat mengurangi ketergantungan pada truk pengangkut sampah. Selama ini, pengangkutan sampah hanya dilakukan satu hingga dua kali seminggu, sehingga apabila sampah dibiarkan terlalu lama akan menimbulkan bau dan penumpukan. Dengan KOPER SAKTI, sampah organik dapat dikelola langsung dari rumah.
Bahan pembuatan KOPER SAKTI terdiri dari bahan rangka dan bahan isian. Rangka KOPER SAKTI dibuat dari gedeg (anyaman bambu) yang diperkuat dengan kayu penjepit, kawat, dan paku, serta menggunakan alat bantu seperti tang dan sekop. Sementara bahan isian meliputi ranting, sekam, kohe (kotoran hewan), starter (air rebusan kentang, humus bambu, dan molase), sampah organik seperti sisa sayur dan kulit buah, tanah, daun kering, serta plastik atau karung bekas pakan kucing sebagai penutup.
Proses pembuatannya diawali dengan membuat gedeg berukuran panjang 1 meter dan lebar 50 cm, kemudian dicat menggunakan cat minyak agar lebih awet. Bagian rangka diperkuat menggunakan kawat atau paku agar kokoh. KOPER SAKTI kemudian diletakkan langsung di atas tanah tanpa alas seperti paving atau lantai. Setelah itu, bahan komposter disusun secara berlapis, dimulai dari ranting dan sekam, kohe, starter, sampah organik, tanah, daun kering, dan terakhir ditutup menggunakan plastik.
Dalam penggunaannya, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses pengomposan berjalan optimal, seperti suhu, kelembapan, keseimbangan antara bahan organik dan bahan kering, sirkulasi udara, serta sistem pelapisan bahan. Selain itu, lokasi KOPER SAKTI sebaiknya berada di tempat yang teduh, terlindung dari hujan, dan dijauhkan dari area sensitif seperti dapur atau rumah tetangga.
Hasil dari KOPER SAKTI dapat dimanfaatkan sebagai kompos organik sekaligus media tanam. Kegiatan penyuluhan ini mendapatkan respons yang sangat positif dari masyarakat, khususnya Ibu-ibu PKK, yang terlihat antusias dan tertarik untuk mencoba penerapannya secara mandiri di rumah.
Diharapkan melalui penerapan KOPER SAKTI, jumlah sampah organik di Desa Ngenep dapat berkurang secara signifikan dan inovasi ini dapat ditiru oleh lebih banyak masyarakat. Program ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara berkelanjutan karena bersifat praktis, sederhana, dan dapat diaplikasikan baik di rumah maupun di Green House desa.
Melalui kegiatan ini, Tim KKM Unggulan Fakultatif 249 berharap KOPER SAKTI dapat memberikan manfaat nyata, berdampak positif bagi lingkungan, serta menjadi langkah kecil menuju pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.