Pada Kamis, 25 Desember 2025, kami dari KKM Mandiri Gravia kelompok 162 berkesempatan melakukan kunjungan edukatif ke Museum Keraton Sumenep, tempat bersejarah yang menjadi saksi kejayaan Kerajaan Sumenep di masa lampau. Begitu memasuki kawasan keraton, suasana masa lalu langsung terasa kuat. Bangunan tua yang masih berdiri kokoh ini seolah mengajak kami menelusuri jejak sejarah para pemimpin Sumenep yang pernah berjaya pada ratusan tahun silam.
Museum Keraton Sumenep menyimpan berbagai koleksi bersejarah yang sangat bernilai. Di dalamnya terdapat pusaka kerajaan seperti keris, tombak, pakaian kebesaran raja, hingga perabot rumah tangga kerajaan, termasuk kursi dan tempat tidur yang merupakan hadiah dari Ratu Inggris. Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian kami adalah mushaf Al-Qur’an tulisan tangan Sultan Abdurrahman, serta berbagai naskah lontar yang memuat ajaran Islam dan tradisi lokal masyarakat Madura. Selain itu, terdapat pula piagam perdamaian yang menjadi bukti hubungan diplomasi Kerajaan Sumenep dengan negara-negara Eropa, Tiongkok, dan Arab.
Selain itu, museum ini juga menyimpan kereta kencana peninggalan kerajaan, termasuk yang pernah digunakan oleh tokoh bersejarah seperti Arya Wiraraja. Koleksi-koleksi tersebut menunjukkan bahwa Kerajaan Sumenep tidak hanya kuat secara budaya dan spiritual, tetapi juga aktif menjalin hubungan dengan dunia luar.
Dari sisi arsitektur, Keraton Sumenep memiliki keunikan yang tersendiri. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Tionghoa bernama Louw Phia Ngo, yang berhasil memadukan berbagai gaya arsitektur secara harmonis. Unsur Jawa, Madura, Islam, Tiongkok, dan Eropa berpadu indah dalam setiap detail bangunan, mencerminkan keterbukaan dan kekayaan budaya Kerajaan Sumenep pada masanya. Di dalam kompleks keraton, terdapat beberapa bangunan penting yang masih terawat hingga kini. Labang Mesem sebagai gerbang utama menyambut setiap pengunjung dengan kesan megah. Pendopo Agung menjadi pusat pertemuan dan upacara resmi kerajaan, sementara Taman Sare dulunya digunakan sebagai tempat pemandian bangsawan. Bangunan lain seperti Kantor Koeninglijk dan Kantor Ambtenaar juga menunjukkan bagaimana sistem pemerintahan kerajaan dijalankan secara terstruktur.
Melalui kunjungan ini, kami tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah, tetapi juga belajar tentang nilai-nilai kepemimpinan, toleransi budaya, dan pentingnya menjaga warisan leluhur. Museum Keraton Sumenep menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi untuk memahami jati diri dan budaya bangsa di masa kini.