3 months ago

Laporan Akhir KKM Reguler Kelompok 110: Optimalisasi Program Family Corner Berbasis Masjid di Masjid Muthohharun, Kota Malang

Header Image
MUHAMMAD GUSTI BASKARA NAJIH

230401110198 • KKM Reguler Semester Ganjil • G.110

Abstrak



KKM Reguler Semester Ganjil Kelompok 110 melaksanakan pengabdian masyarakat berbasis masjid di Masjid Muthohharun, Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Fokus pengabdian adalah optimalisasi program Family Corner sebagai layanan keluarga berbasis masjid yang terstruktur, mudah diakses, dan berkelanjutan. Penguatan dilakukan melalui integrasi tiga strategi: (1) penguatan tata kelola layanan (arah SOP, kebutuhan operasional, akses layanan), (2) pendekatan preventif melalui psikoedukasi keluarga, dan (3) peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan konselor keluarga. Program inti meliputi sosialisasi Family Corner (±300 peserta), psikoedukasi perkembangan sosioemosi anak (±20 peserta; 14 Januari 2026), serta pelatihan konselor keluarga (±22 peserta; 17 Januari 2026). Hasil pengabdian menunjukkan bahwa optimalisasi Family Corner membutuhkan penguatan sistem layanan, promosi, akses yang jelas, serta peningkatan kompetensi pengelola agar layanan tidak bersifat insidental. Program juga menghasilkan rekomendasi keberlanjutan berupa SOP layanan, jadwal piket, mekanisme penjadwalan/booking, promosi rutin, upgrading SDM, dan psikoedukasi berkala sebagai program preventif. Selain luaran internal, kegiatan terdokumentasi melalui publikasi media online sebagai diseminasi pengabdian.



Kata Kunci: KKM; pengabdian masyarakat; Family Corner; masjid; ketahanan keluarga; psikoedukasi; konselor keluarga; tata kelola layanan.





1. Pendahuluan



1.1 Latar Belakang



Keluarga merupakan unit sosial paling dasar yang berperan besar dalam membentuk kualitas kehidupan masyarakat. Masalah keluarga (komunikasi, konflik, pengasuhan, relasi pasangan) berpotensi berdampak luas pada kualitas pendidikan anak, kesehatan mental, stabilitas sosial, dan produktivitas masyarakat. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga menjadi kebutuhan penting yang tidak hanya dilakukan melalui pendekatan individual, tetapi juga melalui penguatan dukungan komunitas.



Di sisi lain, masjid dalam masyarakat muslim memiliki posisi yang sangat strategis. Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, melainkan juga pusat pendidikan keagamaan, aktivitas sosial, dan pembinaan jamaah. Kedekatan masjid dengan jamaah membuat masjid memiliki potensi untuk menjadi “ruang layanan sosial” yang mudah diterima, efektif menjangkau masyarakat, dan relatif berkelanjutan karena ditopang oleh struktur dan jejaring lokal.



Dalam konteks itu, Masjid Muthohharun mengembangkan program Family Corner sebagai program layanan keluarga berbasis masjid. Program ini diarahkan menjadi ruang edukasi dan dukungan untuk keluarga—termasuk layanan konsultasi/pendampingan, edukasi keluarga, dan penguatan jejaring rujukan. Namun, sebuah program layanan sosial berbasis komunitas membutuhkan tata kelola yang jelas agar tidak berhenti sebagai kegiatan simbolik. Penguatan tata kelola, akses layanan, promosi yang konsisten, dan peningkatan kapasitas SDM menjadi prasyarat agar Family Corner dapat berjalan sebagai layanan nyata.



1.2 Lokasi dan Konteks Dampingan



Pengabdian dilaksanakan di:

Masjid Muthohharun

Jl. Klayatan Gg. 3 No.02, RT.8/RW.2, Bandungrejosari, Kec. Sukun, Kota Malang, Jawa Timur 65148.



Pemilihan lokasi didasarkan pada:




  1. Masjid memiliki struktur dan aset sosial (takmir, jamaah, ruang kegiatan) yang memungkinkan program layanan berjalan berkelanjutan;

  2. Family Corner sudah dirintis sehingga pengabdian dapat difokuskan pada optimalisasi sistem dan penguatan mutu layanan;

  3. Kegiatan masjid cukup aktif sehingga program edukasi dan layanan sosial-keluarga berpotensi mudah diintegrasikan dengan aktivitas jamaah.



1.3 Rumusan Masalah



Pengabdian ini berangkat dari beberapa pertanyaan inti:




  1. Bagaimana bentuk optimalisasi Family Corner agar menjadi layanan keluarga yang terstruktur dan mudah diakses jamaah?

  2. Bagaimana menguatkan dimensi preventif (edukasi keluarga) agar Family Corner tidak hanya bersifat kuratif?

  3. Bagaimana meningkatkan kapasitas SDM pengelola agar siap menjalankan layanan konseling/pendampingan dan rujukan?



1.4 Tujuan Pengabdian



Tujuan umum: mengoptimalkan program Family Corner berbasis masjid sebagai layanan keluarga yang terstruktur, akuntabel, mudah diakses, dan berkelanjutan.

Tujuan khusus:




  1. memperkuat tata kelola layanan (arah SOP, kebutuhan operasional, alur akses);

  2. meningkatkan literasi jamaah melalui sosialisasi layanan;

  3. menguatkan pendekatan preventif melalui psikoedukasi;

  4. meningkatkan kapasitas SDM pengelola melalui pelatihan konselor keluarga.



1.5 Manfaat Kegiatan




  1. Bagi jamaah/masyarakat: memperoleh akses edukasi keluarga dan layanan pendampingan yang lebih jelas serta mudah.

  2. Bagi masjid dan pengurus Family Corner: memperoleh dukungan penguatan sistem layanan dan peningkatan kapasitas SDM.

  3. Bagi program KKM: menjadi bukti kontribusi pengabdian berbasis institusi masyarakat yang berpotensi berkelanjutan.





2. Metode dan Strategi Pelaksanaan



2.1 Pendekatan Umum



KKM Kelompok 110 menggunakan orientasi kerja berbasis aset komunitas (Asset-Based Community Development/ABCD) dengan prinsip: memulai dari potensi yang sudah ada (aset masjid, jamaah, pengurus, jejaring), lalu menguatkan sistem dan kapasitas untuk menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.



2.2 Tahapan Pelaksanaan



Pelaksanaan program dibagi dalam tahapan:




  1. Koordinasi awal dan pemetaan kebutuhan: komunikasi dengan takmir/pengurus, pemetaan kebutuhan layanan Family Corner dan kemungkinan kegiatan.

  2. Perancangan intervensi: menyusun agenda sosialisasi, psikoedukasi, dan pelatihan konselor keluarga sebagai pilar program.

  3. Pelaksanaan kegiatan inti: menjalankan kegiatan sesuai jadwal dan target sasaran.

  4. Refleksi dan rekomendasi: menyusun hasil pembelajaran dan rencana keberlanjutan program.



2.3 Kolaborasi dan Pihak yang Terlibat



Pengabdian melibatkan beberapa pihak:




  1. Takmir Masjid Muthohharun: dukungan kelembagaan, fasilitasi tempat dan penguatan legitimasi program.

  2. Pengurus/Tim Family Corner: pelaksana inti layanan dan sasaran utama peningkatan kapasitas.

  3. Jamaah/masyarakat: penerima manfaat sosialisasi dan psikoedukasi.

  4. Mitra/jejaring: unsur KUA (terlibat dalam kegiatan sosialisasi) dan narasumber/pemateri kegiatan edukasi/pelatihan.



2.4 Data Factual (Jumlah Peserta dan Waktu)



Kegiatan inti dan jumlah peserta (berdasarkan data yang Anda berikan):




  1. Sosialisasi Family Corner: ±300 peserta

  2. Psikoedukasi Sosioemosi Anak: ±20 peserta (14 Januari 2026)

  3. Pelatihan Konselor Keluarga: ±22 peserta (17 Januari 2026)





3. Rangkaian Kegiatan dan Deskripsi Pelaksanaan



3.1 Sosialisasi Family Corner (±300 Peserta)



Tujuan utama: memperkenalkan Family Corner sebagai layanan keluarga berbasis masjid—jenis layanan, manfaat, cara akses, dan peran jamaah.

Mengapa sosialisasi diperlukan?

Banyak program komunitas tidak berjalan optimal karena informasi layanan tidak tersampaikan, masyarakat tidak memahami akses, atau program dipersepsikan sebagai kegiatan “sementara”. Sosialisasi menjadi langkah penting untuk membangun legitimasi sosial, meningkatkan literasi layanan, dan memperkuat dukungan jamaah.



Isi pokok kegiatan sosialisasi:




  1. pengenalan Family Corner (fungsi dan layanan);

  2. edukasi singkat tentang pentingnya penguatan keluarga;

  3. penjelasan mekanisme akses layanan (bagaimana jamaah dapat menghubungi/menjadwalkan);

  4. penguatan kemitraan dengan pihak terkait (termasuk unsur KUA sebagai penguat sinergi).



Hasil langsung yang terlihat:




  1. meningkatnya awareness jamaah terhadap Family Corner;

  2. terbukanya peluang partisipasi jamaah dalam mendukung layanan;

  3. terbentuknya basis legitimasi bahwa Family Corner adalah ikhtiar masjid untuk kesejahteraan keluarga.



3.2 Psikoedukasi Perkembangan Sosioemosi Anak (±20 Peserta; 14 Januari 2026)



Tujuan: memperkuat pendekatan preventif Family Corner melalui edukasi keluarga, khususnya literasi pengasuhan dan emosi anak.

Mengapa tema sosioemosi anak?

Isu pengasuhan adalah salah satu sumber stres keluarga. Minimnya pemahaman perkembangan anak dapat memicu miskomunikasi, pola asuh yang kurang tepat, konflik, bahkan kekerasan verbal/emosional. Edukasi sosioemosi anak membantu orang tua/pendamping memahami perilaku anak secara lebih ilmiah dan empatik.



Materi pokok psikoedukasi:




  1. pengenalan perilaku anak dan dinamika emosi;

  2. pengertian perkembangan sosioemosi;

  3. tahapan perkembangan sosioemosi;

  4. faktor yang memengaruhi (keluarga, lingkungan, komunikasi, pola interaksi);

  5. dampak jika perkembangan sosioemosi tidak optimal;

  6. peran orang tua (termasuk peran ibu/pengasuh utama);

  7. strategi praktis membantu regulasi emosi anak;

  8. diskusi tanya jawab dan refleksi kasus ringan.



Output kegiatan:




  1. peserta memperoleh pengetahuan dan strategi pengasuhan yang lebih terstruktur;

  2. muncul kebutuhan tema edukasi lanjutan seperti komunikasi keluarga, manajemen emosi, dan disiplin positif.



3.3 Pelatihan Konselor Keluarga (±22 Peserta; 17 Januari 2026)



Tujuan: meningkatkan kapasitas SDM pengelola/relawan Family Corner agar mampu menjalankan layanan pendampingan awal dan rujukan secara lebih profesional.



Mengapa pelatihan ini sangat penting?

Tanpa SDM yang siap, layanan keluarga rentan menjadi tidak konsisten, tidak terdokumentasi, dan tidak terarah. Pelatihan konselor keluarga membantu membangun kemampuan dasar: empati, mendengar aktif, komunikasi, tahapan konseling, dan penentuan rujukan.



Materi pokok pelatihan:




  1. konsep konselor keluarga dan batasan peran;

  2. pemahaman emosi dalam proses konseling;

  3. tahapan konseling keluarga (pembukaan–asesmen–intervensi awal–penutupan–tindak lanjut);

  4. teknik dasar konseling (active listening, klarifikasi, refleksi perasaan, pertanyaan terbuka, penguatan);

  5. praktik/simulasi konseling;

  6. evaluasi dan refleksi program.



Output kegiatan:




  1. peserta (pengurus/pengelola) mendapatkan kompetensi dasar konseling;

  2. layanan Family Corner memiliki fondasi SDM yang lebih siap;

  3. terbuka kebutuhan peningkatan lanjutan seperti supervisi, modul kasus, dan penguatan jejaring rujukan.





4. Hasil dan Capaian Pengabdian



4.1 Capaian Berdasarkan Tujuan



Tujuan 1 – Penguatan tata kelola:

Pengabdian menghasilkan penguatan arah tata kelola: kebutuhan SOP layanan, jadwal layanan/piket, kebutuhan operasional layanan, serta alur akses yang perlu dipermudah.



Tujuan 2 – Literasi jamaah dan akses layanan:

Sosialisasi skala besar (±300) memperluas pemahaman jamaah tentang Family Corner sehingga layanan lebih dikenal dan memiliki peluang pemanfaatan lebih tinggi.



Tujuan 3 – Preventif melalui edukasi:

Psikoedukasi (±20) menjadi langkah konkret memperkuat fungsi preventif Family Corner, mengurangi risiko masalah keluarga melalui peningkatan literasi pengasuhan.



Tujuan 4 – Capacity building SDM:

Pelatihan konselor keluarga (±22) menjadi fondasi peningkatan mutu layanan agar pengelola memiliki kompetensi dasar untuk pendampingan awal dan rujukan.



4.2 Output Sistem dan Operasional Layanan



Hasil pendampingan menunjukkan bahwa Family Corner memerlukan komponen operasional berikut agar menjadi layanan yang berjalan:




  1. ruang konsultasi/ruang layanan yang nyaman dan menjaga privasi;

  2. format berkas konsultasi untuk pencatatan aman (minimal: identifikasi masalah, kebutuhan, tindak lanjut, rujukan);

  3. jadwal layanan/piket dan penanggung jawab;

  4. contact person yang jelas;

  5. media informasi (banner/papan pengumuman + kanal digital);

  6. jejaring rujukan untuk kasus yang memerlukan tenaga profesional atau layanan formal.



4.3 Dampak Pembelajaran (Learning Outcomes)




  1. Bagi jamaah: bertambahnya pemahaman tentang akses layanan keluarga di masjid serta literasi pengasuhan.

  2. Bagi pengelola: meningkatnya kesiapan menjalankan layanan pendampingan serta kesadaran pentingnya tata kelola.

  3. Bagi masjid: penguatan fungsi sosial masjid sebagai pusat layanan keluarga dan edukasi komunitas.





5. Evaluasi, Tantangan, dan Refleksi



5.1 Hal yang Berjalan Baik




  1. Partisipasi jamaah pada sosialisasi sangat tinggi (±300), menunjukkan dukungan sosial yang kuat.

  2. Format kegiatan berjenjang (sosialisasi → edukasi → pelatihan) membuat program lebih sistematis dan tidak “sekali selesai”.

  3. Ada ruang diskusi dan refleksi sehingga kebutuhan masyarakat dapat teridentifikasi lebih nyata.



5.2 Tantangan yang Ditemukan




  1. Standarisasi layanan: SOP dan alur rujukan perlu dirapikan agar layanan konsisten.

  2. Akses layanan: perlu mekanisme akses yang sederhana (mis. booking/form) agar jamaah tidak bingung.

  3. Keberlanjutan SDM: pelatihan dasar perlu ditindaklanjuti dengan upgrading berkala dan supervisi agar mutu layanan stabil.

  4. Promosi: perlu strategi informasi rutin agar jamaah tidak hanya mengetahui, tetapi juga memanfaatkan layanan dengan benar.



5.3 Refleksi



Pembelajaran utama dari pengabdian ini adalah: program layanan keluarga berbasis masjid akan berdampak jika diposisikan sebagai layanan (service), bukan sekadar kegiatan. Layanan membutuhkan sistem, SDM, akses yang jelas, dan program preventif yang konsisten. Karena itu, keberlanjutan Family Corner ditentukan oleh sejauh mana masjid dan pengurus dapat mengoperasikan sistem layanan pasca-KKM.





6. Rekomendasi Keberlanjutan Program (Roadmap Praktis)



Agar Family Corner Masjid Muthohharun terus berkembang, rekomendasi yang dapat dilakukan secara bertahap:



6.1 Penguatan Tata Kelola




  1. Menyusun SOP layanan: kerahasiaan, pencatatan, alur konsultasi, rujukan, dan tindak lanjut.

  2. Menentukan struktur peran (koordinator layanan, administrasi, humas/promosi, penjadwalan).

  3. Menetapkan jadwal layanan/piket yang rutin dan diumumkan secara terbuka.



6.2 Penguatan Akses Layanan




  1. Menetapkan contact person dan kanal komunikasi resmi.

  2. Membuat sistem booking/penjadwalan (misalnya formulir online sederhana) agar layanan lebih tertib.

  3. Menyediakan prosedur layanan untuk kasus darurat dan rujukan profesional.



6.3 Penguatan SDM




  1. Pelatihan lanjutan (komunikasi konseling, etika, penanganan kasus dasar).

  2. Supervisi berkala (sharing kasus, evaluasi dokumentasi, penguatan rujukan).

  3. Menyusun modul layanan yang ringkas (panduan 1–2 halaman untuk petugas).



6.4 Penguatan Program Preventif




  1. Psikoedukasi keluarga rutin (tema: parenting, komunikasi pasangan, manajemen konflik, kesehatan mental).

  2. Kelas parenting berkala (bulanan/dua bulanan) sebagai penguatan literasi.

  3. Edukasi remaja dan keluarga (terintegrasi dengan kegiatan remaja masjid) agar pencegahan dimulai sejak dini.





7. Diseminasi dan Publikasi Media Online (Luaran Dokumentasi)



Sebagai bentuk pertanggungjawaban publik dan diseminasi pengabdian, kegiatan KKM Kelompok 110 didokumentasikan melalui publikasi media online:




  1. https://retizen.republika.co.id/posts/735912/resmi-dibuka-26-desember-2025-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-awali-pengabdian

  2. https://retizen.republika.co.id/posts/735909/kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-laksanakan-survei-lokasi-bersama-takmir-masjid-muthohharun-kecamatan-sukun

  3. https://retizen.republika.co.id/posts/735911/perkuat-sinergi-program-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-temui-takmir-dan-tpq-masjid-muthohharun

  4. https://retizen.republika.co.id/posts/735939/kumpul-santai-penuh-makna-kkm-arunika-karsa-110-bersama-remas-masjid-muthohharun

  5. https://siaran-berita.com/resmi-dibuka-26-desember-2025-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-awali-pengabdian/

  6. https://siaran-berita.com/sosialisasi-family-corner-di-masjid-muthohharun-kolaborasi-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-bersama-dr-h-anas-fauzie-s-ag-m-pd/

  7. https://kkmarunikakarsa110uinmalang.blogspot.com/2025/12/semangat-liburan-dengan-pesantren-ceria.html

  8. https://kkmarunikakarsa110uinmalang.blogspot.com/2025/12/penguatan-disiplin-ibadah-dan.html

  9. https://kkmarunikakarsauinmalang110.blogspot.com/2025/12/peer-counseling-sebagai-ruang-aman.html

  10. https://siaran-berita.com/peer-counseling-sebagai-ruang-aman-remaja-inisiatif-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-bersama-remaja-masjid-muthohharun/

  11. https://siaran-berita.com/plc-day-4-fun-game-outdoor-lomba-seru-dan-sholat-jamaah-bersama-kkm-arunika-karsa-110-dan-remaja-masjid-muthohharun/

  12. https://siaran-berita.com/puncak-pesantren-liburan-ceria-remaja-masjid-muthohharun-dan-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-hadirkan-fun-game-hingga-apresiasi-anak-tpq-rajin-jamaah/





8. Penutup



KKM Reguler Semester Ganjil Kelompok 110 memfokuskan pengabdian pada optimalisasi Family Corner berbasis masjid sebagai strategi penguatan ketahanan keluarga di Masjid Muthohharun, Kota Malang. Dengan kegiatan inti berupa sosialisasi layanan (±300 peserta), psikoedukasi sosioemosi anak (±20 peserta; 14 Januari 2026), dan pelatihan konselor keluarga (±22 peserta; 17 Januari 2026), program ini menghasilkan penguatan literasi jamaah, penguatan dimensi preventif, peningkatan kapasitas SDM pengelola, serta rekomendasi tata kelola layanan untuk keberlanjutan.



Kami mengucapkan terima kasih kepada Takmir dan jamaah Masjid Muthohharun, pengurus Family Corner, serta pihak mitra yang mendukung kelancaran program. Harapannya, Family Corner dapat terus berkembang menjadi layanan keluarga yang terstruktur, mudah diakses, dan berdampak nyata bagi masyarakat Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang.