Saya tidak menyangka bahwa momen paling membekas selama KKM justru datang bukan dari acara besar, melainkan dari percakapan sederhana, tawa kecil, dan kalimat tulus dari calon jamaah haji yang berkata, “Kenapa kegiatannya tidak lebih lama?”
Selama pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), saya awalnya merasa kegiatan berjalan cukup sederhana dan cenderung datar. Namun, di balik rutinitas pemeriksaan dan edukasi kesehatan, ada interaksi-interaksi kecil yang perlahan terasa hangat dan berkesan.
Salah satu momen yang paling saya ingat terjadi saat penutupan kegiatan, ketika salah satu calon jamaah haji (CJH) menyampaikan kesan mereka. Dengan nada hangat, beliau mengatakan bahwa program ini terasa terlalu singkat dan berharap bisa berlangsung lebih lama. Ia memuji cara tim kami dalam melakukan pemeriksaan kesehatan, mulai dari pengukuran tekanan darah, berat dan tinggi badan, saturasi oksigen, hingga pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat menggunakan alat GCU. Mendengar bahwa cara kami dianggap luwes, rapi, dan profesional menjadi momen yang sangat mengharukan, sekaligus membuat saya merasa bahwa peran mahasiswa kesehatan benar-benar bisa memberi dampak nyata.
Momen lain yang tak kalah berkesan terjadi saat saya mendampingi CJH dalam pengisian kuesioner Mini-Cog. Beliau bercerita bahwa sudah sangat lama tidak mengikuti tes yang berkaitan dengan daya ingat dan fungsi kognitif, sehingga pengalaman tersebut terasa unik dan sedikit nostalgia bagi beliau. Proses ini bukan hanya menjadi skrining kognitif, tetapi juga membuka ruang cerita, tawa kecil, dan percakapan yang hangat. Dari situ, saya menyadari bahwa Mini-Cog bukan sekadar alat skrining, tetapi juga bisa menjadi jembatan untuk memahami seseorang secara lebih personal.
Ada pula satu pengalaman yang saya rasa ini akan selalu menjadi memori indah di sepanjang studi S1 Farmasi saya, yakni ketika skrining kesehatan, saya menanyakan apakah ada riwayat alergi makanan atau obat. Salah satu CJH kemudian menceritakan bahwa ia pernah mengalami reaksi alergi terhadap natrium diklofenak. Percakapan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menjelaskan tentang indikasi, bagaimana reaksi hipersensitivitas obat terjadi, potensi efek samping, hingga kontraindikasi serta pentingnya menghindari obat tertentu atau makanan tertentu yang dapat meningkatkan reaksi tersebut dan berpesan untuk selalu menyampaikan riwayat alergi kepada tenaga kesehatan saat berobat. Di momen itu, saya benar-benar merasakan bagaimana ilmu farmasi bisa langsung berdampak pada pemahaman CJH.
Secara keseluruhan, KKM ini mungkin tidak dipenuhi dengan peristiwa besar, tetapi justru kaya akan pelajaran kecil yang bermakna. Saya belajar bahwa menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang angka hasil pemeriksaan dan keterampilan teknis, melainkan juga tentang empati, komunikasi, dan kepekaan terhadap cerita setiap individu. Dari CJH, saya belajar bahwa perhatian kecil dan ketulusan sering kali meninggalkan kesan yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.