Desa Pojok kini memiliki inovasi baru dalam bidang keamanan dan kepedulian sosial. Sebuah aplikasi yang dirancang oleh mahasiswa KKM 85 UIN Malang sebagai bentuk kentongan digital yang dirancang untuk membantu warga dalam menghadapi situasi darurat serta mempermudah pelaporan dan penyebaran informasi desa.
Sigap Pojok lahir dari keresahan terhadap beberapa persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat desa. Di antaranya adalah kejadian darurat yang membutuhkan respon cepat, informasi penting yang kerap terlambat tersebar, serta pelaporan masalah desa yang belum terpusat. Di sisi lain, hampir seluruh warga Desa Pojok telah memiliki telepon genggam, sehingga pemanfaatan teknologi dinilai menjadi solusi yang relevan dan efektif.
Secara definisi, Sigap Pojok merupakan aplikasi kentongan digital warga Desa Pojok. Aplikasi ini dilengkapi dengan beberapa fitur utama, seperti tombol darurat (SOS) untuk kondisi genting, fitur pelaporan masalah desa, serta informasi dan kontak resmi desa yang dapat diakses oleh masyarakat. Dengan fitur-fitur tersebut, Sigap Pojok diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara warga dan pihak desa.
Adapun tujuan utama pembuatan aplikasi ini adalah untuk meningkatkan keamanan desa, mempercepat penanganan bantuan darurat, serta menumbuhkan rasa kepedulian warga terhadap lingkungan sekitar. Selaras dengan tujuan tersebut, Sigap Pojok juga memberikan berbagai manfaat, seperti respon yang lebih cepat saat terjadi keadaan darurat, sistem laporan desa yang lebih tertib, akses informasi yang lebih mudah, serta mendorong terciptanya warga yang lebih kompak dan peduli.
Peluncuran Sigap Pojok menuai beragam respons dari masyarakat. Di satu sisi, banyak warga yang memberikan apresiasi atas inovasi ini. Namun di sisi lain, muncul pula kritik yang menyoroti keterbatasan sumber daya teknis dalam pengembangannya. Pasalnya, teknisi utama aplikasi ini hanya satu orang, yakni mahasiswa dengan latar belakang jurusan Teknologi Informasi.
Menjelang peresmian aplikasi, Salman, selaku pembuat aplikasi Sigap Pojok, sempat menyampaikan refleksi pribadinya terkait proses pengembangan aplikasi tersebut. Ia mengaku bahwa keterbatasan sumber daya teknis menjadi tantangan tersendiri selama pengerjaan.
"Aku berharapnya KKM tahun depan, UIN bakal menempatkan anak teknik tidak hanya satu orang yang mewakili tiap jurusan. Kayak aku nih, aku hanya seorang yang jurusannya TI, padahal sebenarnya anak TI itu akan maksimal kalau kinerjanya ber-tim," ungkapnya.
Salman juga menegaskan bahwa aplikasi Sigap Pojok masih memiliki banyak keterbatasan dan belum sempurna. Oleh karena itu, ke depannya pengembangan aplikasi ini diharapkan dapat dilanjutkan oleh pihak desa. Meski demikian, kelompok KKM 85 UIN Malang menyatakan kesiapan untuk tetap membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki apabila dibutuhkan.
Terlepas dari pujian dan kritik yang ada, para petinggi Desa Pojok menyatakan dukungan penuh terhadap inovasi yang dihasilkan oleh mahasiswa KKM 85 UIN Malang. Kehadiran Sigap Pojok dinilai sebagai langkah awal menuju desa yang lebih sigap, aman, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.